Penjualan Daging Anjing dan Pengabaian Hak-hak Umat




"Rasulullah saw. telah melarang dari setiap binatang buas yang bertaring dan setiap burung buas yang bercakar." (HR. Muslim)



Oleh Mariyatul Qibtiyah, S.Pd

Pegiat Literasi



Setelah ketahuan menjual daging anjing, dua pedagang di Pasar Senen mendapatkan sanksi administrasi dari Perumda Pasar Jaya. Dua pedagang yang menjadi pemilik lapak 382 dan 357 di Blok 3 tersebut tidak melakukan aktivitas jual beli. Manajer Pemasaran Pasar Jaya, Gatra Vaganza mengatakan bahwa untuk saat ini, kedua pedagang tersebut hanya diberi sanksi administrasi. Namun, jika mereka masih melakukan kesalahan yang sama, pengelola pasar tidak akan segan-segan untuk menutup kedua lapak tersebut. Untuk mencegah terulangnya kejadian ini, Perumda Pasar Jaya kemudian memasang spanduk yang berisi imbauan kepada para pedagang untuk tidak menjual daging anjing.


Terkuaknya praktik penjualan daging anjing ini setelah sebuah video viral di media massa. Video yang diunggah oleh Animal Defenders Indonesia itu menunjukkan lapak yang menjual daging anjing. Dalam video tersebut, penjual daging mengatakan bahwa ia bisa menjual setidaknya dari empat ekor anjing. Ia juga mengaku bahwa aktivitas penjualan daging anjing itu telah dilakukannya selama enam tahun. (kompas.com, 14/09/2021)


Hal ini sangat mengejutkan. Dalam waktu yang lumayan lama itu, pihak pengelola pasar tidak mengetahui adanya praktik pelanggaran tersebut. Hal ini seolah menunjukkan bahwa pihak pengelola hanya bertindak saat ada keluhan dari masyarakat. 



Kapitalisme, Sumber Perkara


Dalam kapitalisme, kebahagiaan tertinggi adalah terpenuhinya segala kebutuhan fisik. Maka, yang menjadi standar perbuatan adalah manfaat. Apa pun akan dilakukan, asalkan bermanfaat dalam menghasilkan materi. Termasuk melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah.


Maka, menjual khamr juga diperbolehkan. Sebab, hal itu bisa mendatangkan materi. Demikian pula dengan jual beli daging anjing, kelelawar, ular, dan sebagainya juga diperbolehkan. Sebab, semua aktivitas itu bisa menghasilkan uang. Bagi mereka, uang atau materi adalah segala-galanya.


Karena itulah, mereka akan berusaha untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya. Meskipun dengan cara yang curang atau mungkin merugikan orang lain. Dengan banyaknya materi yang mereka miliki, mereka akan mampu mendapatkan berbagai kesenangan duniawi dengan mudah. 


Di samping itu, dalam sistem kapitalis tidak ada distribusi kekayaan yang merata. Kesejahteraan hanya diukur berdasarkan GNP. Semakin besar GNP, semakin besar pendapatan warga. Itu berarti, semakin sejahteralah mereka. Padahal, besar kecilnya GNP tidak mencerminkan pendapatan orang per orang. Yang ada hanyalah pendapatan segelintir orang yang luar biasa besar, menutupi pendapatan minim yang diperoleh mayoritas masyarakat. 


Negara juga hanya bertindak sebagai regulator. Selebihnya, rakyat harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Di sini, yang berlaku adalah hukum rimba. Siapa yang kuat, dialah yang menang. Maka, para pemilik modallah pemenangnya. Rakyat kecil hanya bisa gigit jari. Sementara, penguasa tidak peduli.


Negara juga tidak akan melakukan tindakan apa pun terhadap mereka yang merugikan orang lain. Kecuali jika ada yang merasa keberatan dan meminta negara untuk menindaknya. Sebab, sistem kapitalis mendewakan kebebasan dalam segala hal, termasuk kebebasan dalam kepemilikan. Maka, siapa pun berhak memiliki apa pun dengan cara bagaimana pun. 



Penjagaan Islam atas Hak-hak Umat


Dalam Islam, setiap aktivitas manusia selalu terikat dengan hukum syarak. Ada yang wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Jika perintahnya bersifat pasti disertai ancaman bagi yang meninggalkannya, maka hukum perbuatan itu adalah wajib. Sebaliknya, jika ada pujian bagi pelakunya, dan ancaman bagi yang meninggalkannya, maka perbuatan itu wajib.

Setiap aktivitas memiliki status hukum. Tidak ada perbuatan yang tidak memiliki status hukum. Termasuk aktivitas jual beli. 


Jual beli termasuk perbuatan yang diperbolehkan. Hanya saja, ada syarat yang harus dipenuhi. Misalnya, barang yang dijual harus milik sendiri, bukan orang lain. Di samping itu juga bukan barang yang diharamkan. 


Dalam hal ini, daging anjing termasuk benda yang diharamkan. Dari Ibnu Abbas ra., beliau berkata,


نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن كل ذي ناب من السباع وعن كل ذي مخلب من الطير


"Rasulullah saw. telah melarang dari setiap binatang buas yang bertaring dan setiap burung buas yang bercakar." (HR. Muslim)ِ


Di samping itu, Rasulullah saw. juga mencela hasil penjualan anjing. Beliau saw. bersabda,


ثمن الكلب خبيث


"Hasil penjualan anjing itu buruk (kotor)." (HR. Muslim)


Sistem Islam memang membiarkan penganut agama lain mengikuti ajaran agama mereka dalam masalah ibadah, makanan, dan pakaian. Misalnya, bagi pemeluk agama Nasrani akan dibiarkan melakukan ibadah di gereja. Begitu pula, mereka akan dibiarkan mengkonsumsi makanan atau minuman yang diharamkan dalam Islam, tetapi diperbolehkan menurut agama mereka. 


Meskipun demikian, tetap ada aturan terkait hal itu. Negara akan mengatur agar aktivitas ibadah maupun jual beli barang yang diharamkan itu tidak menjadi sarana menyiarkan agama lain. Misalnya, tidak ada publikasi terkait pelaksanaan ibadah mereka. Sedangkan untuk aktivitas jual beli barang haram, misalnya jual beli khamr, daging babi, akan ditempatkan tersendiri, tidak bercampur dengan tempat jual beli umat Islam.


Untuk menjaga agar aturan ini terus ditegakkan, ada petugas yang akan memantau secara terus-menerus. Mereka adalah para qadi hisbah. Mereka ditugaskan oleh negara untuk menjaga agar tidak ada pelanggaran terhadap hak-hak rakyat. 


Jika terdapat pelanggaran, mereka akan langsung memberikan sanksi saat itu juga di tempat kejadian. Hal ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. saat beliau menemukan tumpukan makanan di bawah makanan yang kering. Saat itu juga beliau meminta penjualnya untuk meletakkan yang basah di atas. Dengan demikian, calon pembeli mengetahui kondisi barang yang akan dibeli sehingga tidak tertipu.


Jika hal ini dipraktikkan, kaum muslimin akan terjaga dari mengkonsumsi makanan atau minuman yang diharamkan. Termasuk terjaga dari mengkonsumsi daging anjing. Hal ini tentu akan menumbuhkan rasa aman pada diri mereka. Karena itulah, hendaknya para pemilik kebijakan menjadikan mafahim Islam sebagai patokan dalam mengatur negeri. Dengan demikian, rida Allah akan didapat dan rahmat Allah akan tersebar ke seluruh alam. Wallaahu a'lam bishshawaab.