Penista Agama Menjamur, Islam Solusinya


Oleh Nita Karlina

(Aktivis Muslimah Kendari)


Jagat dunia maya dihebohkan dengan kontroversi yang dibuat oleh Muhammad Kace, seorang YouTuber yang disinyalir melakukan penistaan pada agama Islam. Ucapan Muhammad Kace yang dipersoalkan adalah menyebut kitab kuning yang diajarkan di pondok pesantren menyesatkan dan menimbulkan paham radikal. (suara.com, 25/08/2021).

Nama Muhammad Kace mencuat setelah siaran langsung yang dilakukannya. Ia menyebut hinaan pada Nabi Muhammad saw. Ia menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. dikerubungi oleh jin. Dalam kesempatan yang sama, Muhammad Kace juga menyampaikan tak lagi mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw. karena merasa tak ada ayat yang menyebutkan Rasulullah dekat dengan Allah.

Belakangan, ia kemudian melakukan klarifikasi dirinya hanya menyampaikan apa yang disebutkan di dalam ayat kitab suci. Yang dimaksud adalah surat Al-Jinn, yang diterjemahkan, ‘sesungguhnya ketika hamba Allah (Nabi Muhammad saw.) berdiri menyembah-Nya (melaksanakan salat), mereka (jin-jin) itu berdesakan mengerumuninya’. 

Pernyataan muhammad kace ini membuat keresahan di tengah-tengah umat muslim, banyak pihak yang mengecam pernyataan tersebut. Seperti yang dilansir Jpnn.com, 23/08/2021. Politikus PPP Achmad Baidowi juga mengecam pernyataan Muhammad Kece yang dianggap menista agama dan menghina Nabi Muhammad "Kelakuan Muhammad Kece melalui kanal YouTube sudah melampaui batas dan telah melakukan penistaan dan ujaran kebencian terhadap agama Islam," ucap Baidowi. 

Penghinaan agama terus terjadi, seakan tumbuh subur di seluruh negeri, terutama terhadap agama Islam. Belum selesai kasus Phaul Zhang yang menista Islam dan mengaku Nabi ke-26, muncul lagi youtuber, Muhammad Kace, seorang Murtadin yang menista agama. Maraknya penghinaan terhadap Islam tentu menyisakan pertanyaan besar tentang apa akar masalah sehingga banyak penghina Islam bermunculan? Dan mengapa penghinaan terhadap Islam masih saja terjadi? 

Demokrasi kapitalisme adalah akar dari seluruh masalah ini. Dengan menjamin kebebasan berpendapat dan bertingkah laku, mereka dengan mudah menyatakan pandangannya dan bertingkah laku sesuai apa yang mereka inginkan, tanpa melihat norma, hukum bahkan syariat. Kapitalisme menjadikan penganutnya jauh dari agamanya sendiri, agama hanya boleh di masjid, agama tidak boleh ikut campur dalam urusan publik, politik bahkan negara. Sehingga penista agama dengan mudah menjadikan agama sebagai bahan lawakan. 

Di samping itu, tidak adanya hukum yang tegas atas tindakan tersebut, membuat mereka tumbuh subur di negeri ini. Kita masih ingat dengan kasus Ahok yang menistakan Islam. Meski sudah berstatus terdakwa, Ahok masih bebas berkeliaran kampanye, senyam-senyum kesana kemari, seakan tidak ada yang terjadi. Ini membuktikan hukum tidak membuat pelaku menjadi jera. 

Dalam Islam, perbuatan seperti ini sangat berbahaya sehingga dibutuhkan tindakan yang tegas dan dapat membuat jera yang lainnya. 

Imam Mâlik rahimahullah berkata: Siapa dari seorang muslim atau kafir yang mencela Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau selainnya dari pada nabi maka dibunuh dan tidak dimintai taubat. Adapun Imam Ahmad rahimahullah, beliau berkata dalam riwayat Hambal: Semua yang mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau menistakannya baik ia seorang muslim atau kafir maka wajib dibunuh. 

Tidak ada perbedaan ulama akan hal ini. Ulama sepakat bahwa perbuatan mencela, menghina dan merendahkan Islam seperti mencaci maki Allah atau Rasul-Nya atau melecehkan Al-Qur’an adalah perbuatan dosa besar dan dijatuhi hukuman mati. 

Maka dibutuhkan Daulah Islam yang mampu menerapkan hukuman ini. Tidak adanya daulah menjadikan dunia ini gelap akan kebenaran. Manusia semakin susah mencari keadilan. Hukum seakan tajam ke atas dan tumpul ke bawah. Maka wajib hukumnya atas setiap muslim untuk beramar makruf nahi munkar. Seorang muslim tidak boleh mendiamkan kemunkaran yang terjadi. Dan kemungkaran apalagi yang lebih besar dari pada mencela Islam?

Sebagaimana kewajiban ini telah ditegaskan dalam sabda Nabi shalallahu’alihi wassalam: ‘Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’ (HR. Muslim).