Pengrusakan Masjid dan Penyerangan Tokoh Agama Terulang


Oleh Nelliya Azzahra

 

Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim sudah seharusnya memberikan rasa aman dan nyaman dalam hal beribadah. Beribadah merupakan hak vital yang dilindungi. Termasuk di dalamnya tempat ibadah berserta para Ulama. Namun, peristiwa miris terjadi baru-baru ini, seakan mengulang peristiwa yang pernah terjadi. Seperti terulangnya pengrusakan Masjid.

Pasalnya, perbuatan itu merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 40, sebagai berikut:

اۨلَّذِيۡنَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِيَارِهِمۡ بِغَيۡرِ حَقٍّ اِلَّاۤ اَنۡ يَّقُوۡلُوۡا رَبُّنَا اللّٰهُ‌ ؕ وَلَوۡلَا دَ فۡعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعۡضَهُمۡ بِبَـعۡضٍ لَّهُدِّمَتۡ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَّصَلَوٰتٌ وَّمَسٰجِدُ يُذۡكَرُ فِيۡهَا اسۡمُ اللّٰهِ كَثِيۡرًا‌ ؕ وَلَيَنۡصُرَنَّ اللّٰهُ مَنۡ يَّنۡصُرُهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِىٌّ عَزِيۡزٌ

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, "Tuhan kami ialah Allah." Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Ma-haperkasa."

Ayat ini memberi isyarat yang kuat bahwa Allah mengentikan langkah-langkah orang yang ganas, membuat kerusakan di muka bumi. Mereka jika dibiarkan, bisa sangat mungkin merusak tempat-tempat ibadah para pemeluk agama, padahal di dalamnya disebut nama-nama Allah.

Selain itu terjadi pula penusukan Ustaz baru-baru ini sebagaimana disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud Md menyampaikan pemerintah sangat menyesalkan peristiwa penusukan Ustaz di Batam dan perusakan mimbar masjid di Makassar, Sulawesi Selatan. Dilansir oleh Detik.com (25/9/2021).

Apapun motif pelaku, tidak dibenarkan menyakiti orang lain, terutama ulama. Negara wajib melindungi setiap warga negaranya. 

Ulama adalah pewaris amanah Nabi di muka bumi sehingga sudah seharusnya mendapat perlindungan bukan kekerasan.

Padahal, para tokoh agama ini berhak memperoleh perlindungan dari tindakan persekusi, kekerasan fisik, maupun nonfisik, bahkan ancaman hukum saat melakukan perannya dalam menyampaikan ajaran agama.

Namun, saat ini karena lemahnya perlindungan negara, keselamatan para tokoh agama terancanm. Bukan hanya penusukan, tetapi berakibat pada kematian sebagaimana menimpa Ustaz Prawoto (Pengurus Ormas Islam Persis) di Bandung yang dianiaya hingga tewas. 

Mengapa hal demikan bisa kembali terulang? Di mana peran negara yang seharusnya mewujudkan keamanan serta penghormatan terhadap tempat ibadah serta tokoh agama. Lemahnya hukum perlindungan serta sanksi yang diberikan kepada para pelaku membuat hal demikian terulang. Adanya alasan jika pelaku mengalami ganguan jiwa, membuat para pelaku melenggang bebas dari jerat hukuman. Seharusnya, negara memberlakukan hukum yang tegas. Yang di mana hukum itu memberikan efek jera kepada pelaku agar tindakan seperti pengrusakan masjid serta penganiayaan terhadap tokoh agama dan para ulama tidak terulang terus-menerus.

Islam, sangat menjaga kerukunan apalagi nyawa setiap muslim. Tidak dibenarkan apa pun itu untuk saling menyakiti apa lagi sampai menghilangkan nyawa seseorang tanpa alasan yang dihalalkan.

Allah memberi perumpamaan terhadap seorang pembunuh adalah: “...Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya...” (QS. Al-Maidah: 3). 

Hukuman duniawi terhadap seorang pembunuh dalam Islam sangatlah berat yaitu dibunuh balik sebagai hukuman qishash ke atasnya. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS. al-Baqarah: 178).

Wallahu a'lam bissawab.