Penerapan Syariat Islam Solusi Kejahatan Seksual


Oleh Ir. H. Izzah Istiqamah

(Praktisi Pendidikan) 


Ada pro dan kontra lantaran kembalinya Saipul Jamil di industri pertelevisian. Dipertanyakan kinerja dari KPI atas munculnya mantan narapidana kasus kekerasan seksual terhadap remaja dan menyuap panitera tersebut. (Investing.com, 5/9/2021). 

Kekerasan seksual yang dilakukan ramai-ramai oleh pegawai KPI baru diproses setelah mendapatkan desakan kuat muncul dari publik. Kasus lain berupa sikap toleran KPI atas tampilnya artis pelaku kekerasan seksual di TV-  menegaskan Lembaga ini begitu lunak memperlakukan pelaku kekerasan seksual. Berkebalikan dengan kampanye nasional anti kekerasan seksual. Kekerasan seksual di negeri mayoritas muslim ini terjadi lagi. Mendefinisikan kekerasan seksual saja bisa terus mengalami perubahan. Hukuman bagi pelaku yang ada dinilai banyak kalangan tidak memberikan efek jera dan melindungi rakyat. Hukuman bagi pelaku pelecehan seksual begitu ringan sehingga tidak punya efek jera.

Inilah bukti sekularisme demokrasi dengan sistem dan hukum produk manusianya, tak berdaya membangun masyarakat yang bersih, berakhlak mulia dan menjunjung nilai-nilai luhur. Sistem saat ini menjadi pemicu dan sebab mendasar berbagai kejahatan yang terjadi itu. Perlakuan hukuman yang tegas dan menjerakan mustahil lahir dari sistem sekuler liberal seperti ini. 

Hanya Syariah Islam Solusinya

Sistem sekuler dan UU saat ini tidak berpihak kepada kemaslahatan umat. Seorang muslim yang bertakwa tidak akan berani melakukan penganiayaan kepada orang lain, apalagi kepada kaum wanita dan anak-anak. Dia yakin bahwa perbuatan jahat sekecil apa pun akan dihisab dan dibalas oleh Allah Swt. 

Ketakwaan itu akan membuat kaum muslimin memandang wanita dan anak-anak sebagai insan yang harus dilindungi. Dengan pandangan yang dilandasi takwa, maka interaksi antara pria dan wanita juga anak-anak akan berjalan harmonis dan saling memelihara kemuliaan.

Aksi kejahatan seksual juga tidak akan menggurita seandainya sistem pergaulan Islam diberlakukan. Di dalam sistem pergaulan Islam, laki-laki diperintahkan untuk menundukkan pandangan dari memandang aurat perempuan dan untuk menjaga kemaluan.

Sistem Islam akan menutup celah kejahatan seksual. Kehidupan laki-laki dengan perempuan yang pada dasarnya terpisah di ruang privasi. 

Keharmonisan orang dewasa dan anak-anak pun akan terwujud dalam suasana penuh keimanan, karena peran negara sebagai periayah umat berjalan dengan baik. Tidak akan dijumpai pria dan wanita berbaur di kafe, bar, night club, di kolam renang, atau tempat privasi. 

Negara akan memfasilitasi pendidikan umat untuk menjadi para insan mulia. Pada masa Nabi saw. Laki-laki dan wanita dipisahkan baik pada salat berjemaah maupun ketika mereka pulang ke rumah. Orang dewasa akan disibukkan mendidik anak-anak untuk memahami dan menerapkan Al-Qur'an. 

Islam melarang apa saja yang mendekatkan kepada zina. Maka dari itu negara harus melarang semua faktor yang bisa memicu dan mendorong ke arah sana, seperti konten pornografi dan pornoaksi. Negara juga diwajibkan untuk membina keimanan dan ketakwaan masyarakat termasuk mengajarkan hukum-hukum syariah. 

Islam akan menjatuhkan sanksi hukum yang tegas yang bisa mencegah kejahatan dan memberi efek jera. Abdurrahman al-Malikiy menuliskan, pelaku pelecehan dihukum sanksi penjara 3 tahun serta ditambah jilid dan pengusiran. Pelaku pemerkosaan dijilid 100 kali jika belum pernah menikah- (QS an-Nur [24]: 2); dan dirajam sampai mati jika pelakunya sudah pernah menikah. Namun apabila disertai kekerasan, maka atas tindakan kekerasan itu juga dijatuhkan sanksi tambahan tersendiri sesuai hukum syara’.