Pendidikan Generasi Jangan Tanggung-Tanggung, Anggaran BOS Kok Tebang Pilih!


Oleh Mira Sutami H

(Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik) 


Serba - serbi dunia pendidikan negeri ini selalu mendapat perhatian publik. Baik itu berkaitan dengan kurikulum, fasilitas sekolah dan lainnya. Karena masyarakat paham pentingnya pendidikan bagi generasi penerus bangsa. Di mana di pundak para generasi inilah negara akan dititipkan. Namun, masih sangat banyak hal dan kebijakan di bidang pendidikan yang dianggap tak berpihak pada sekolah dan juga peserta didik. Sekarang ini kebanyakan sekolah mengandalkan dana BOS untuk menunjang keberlangsungan pendidikan. 

Namun siap - siap beberapa sekolah akan kecewa karena kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi mengeluarkan kebijakan yang hanya memberikan dana BOS bagi sekolah yang mempunyai peserta didik minimal 60 persen selama 3 tahun terakhir. Jadi di tahun 2022 sekolah yang tidak bisa memenuhi target tersebut harus siap untuk bertahan sendiri karena dana BOS tidak diterima. 

Masyarakat pun menolak kebijakan yang dianggap diskriminatif ini. Banyak juga organisasi yang peduli terhadap dunia pendidikan yang melakukan protes seperti Muhammadiyah hingga NU. Mereka menolak Permendikbud Nomor 6 Tahun 2021. Perwakilan itu mendesak pemerintah mencabut peraturan tersebut. 

"Kami menolak Permendikbud Nomor 6 Tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan BOS Reguler khususnya Pasal 3 ayat (2) huruf d tentang Sekolah Penerima Dana BOS Reguler," ujar Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Kasiyarno. Dia menjelaskan bahwa pembaruan Dapodik untuk Dasar Perhitungan Dana BOS Reguler bertolak belakang dengan amanat Pembukaan UUD Negara Republik lndonesia 1945. 

Dimana menurutnya sekolah swasta mengalami kendala dalam pemenuhan jumlah peserta didik 60 persen tersebut. Karena banyak sekolah swasta yang berada di daerah pelosok yang belum terjangkau sekolah negeri. Jadi kebijakan tersebut mendiskriminasi hak pendidikan anak lndonesia dan melanggar konstitusi negara. (iNSulteng.com, 3/8/2021). 

Apabila peraturan tersebut tetap didok secara otomatis banyak sekali swasta  sekolah yang tidak bisa menerima dana BOS ini. Padahal banyak sekolah yang BOS biasanya dipakai untuk memperbaiki gedung sekolah. Tentu bila hal ini terjadi maka fasilitas gedung sekolah akan dibiarkan tidak layak untuk belajar mengajar bagi generasi penerus bangsa. 

Kendala gedung sekolah adalah PR bagi  dunia pendidikan kita. Banyak sekali sekolah yang tak layak digunakan untuk belajar mengajar. Bila kita tengok masih banyak sekolah yang gedungnya hanya terbuat dari triplek, bahkan ada juga yang terbuat dari bambu, dan ada juga yang bangunan permanen itu juga jauh dari kata layak karena banyak kerusakan di sana - sini. Ada juga yang apabila hujan bocor. Bahkan ada pula yang gedungnya nyaris roboh. Biasanya terjadi di sekolah pinggiran yang kondisi medannya sulit dijangkau. Miris sekali. Bagaimana nasib sekolah ini bila dana BOS di setop? Miris sekali.  

Pemerintah mengusulkan peraturan tentang penyaluran dana BOS ini tentu ada alasannya. Menurut pemerintah  peraturan ini dibuat memang karena terkendala keuangan akibat pandemi yang berkepanjangan akibatnya perekonomian negara makin sulit. Namun pantaskan negara yang kaya raya akan sumber daya alam tapi masih ada diskriminatif di bidang pendidikan. Padahal generasi adalah aset bangsa di kemudian hari. Mana kepedulian pemerintah terhadap generasi? 

Memang di sistem kapitalis setiap kebijakan akan mengikuti apa yang dimau oleh korporasi agar tetap langgeng kekuasaannya. Selain itu tentu saja akan memikirkan untung dan rugi atas kebijakannya tersebut. Jelas bahwa sistem ini telah gagal meriayah (mengurus) generasi penerus bangsa. Semua akan tetap terjadi bila sistem kapitalis tetap diterapkan.

Fakta di atas sangat berbeda dengan sistem lslam. Dimana lslam menganggap seluruh individu mempunyai hak untuk memperoleh jaminan dari negara seperti sandang, pangan dan papan ini secara tidak langsung mekanismenya akan diatur oleh negara. Sedang hak yang langsung bisa diterima tiap individu adalah pendidikan, keamanan, dan kesehatan. Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim. Namun, setiap individu muslim maupun nonmuslim akan mendapatkan hak yang sama di bidang pendidikan. Seluruh individu akan memperoleh pendidikan secara gratis tentunya karena telah dijamin oleh negara. 

Negara akan memastikan tiap individu bisa menempuh pendidikan dengan layak sesuai dengan tingkat kemampuan dan minat peserta didik. Untuk fasilitas pendidikan jangan ditanya karena negara sangat peduli akan nasib generasi maka fasilitas yang akan diterima oleh peserta didik  adalah fasilitas yang terbaik. Pendidikan dibangun sesuai jenjang pendidikan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi. Fasilitas yang akan diperoleh mulai dari tenaga pengajarnya yang handal yang telah di training oleh pemerintah dengan tsaqafah yang mumpuni dan dapat mencetak generasi yang tangguh. Guru dan tenaga pengajar digaji dengan sangat layak sehingga fokus dalam mendidik para peserta didik. 

Untuk urusan gedung jangan ditanya pemerintah akan memberikan fasilitas gedung terbaik yang membuat pada peserta didik nyaman selama proses belajar mengajar. Tak cukup sampai di situ buku - buku dan fasilitas lain juga tersedia misal laboratorium, perpustakaan, tempat ibadah dan lainnya yang menunjang proses belajar mengajar. Ini bisa kita lihat ketika  kekhalifahan tegak dan sisa peninggalan peradaban itu masih bisa kita nikmati di beberapa kota yang dulu masuk wilayah kekuasaan daulah khilafah. Seperti Universitas Nizamiyah dan Al- Mustansiriyah di Baghdad, Al- Azhar di Mesir, Al Qarawiyyin di Fez, Maroko dan Sankore di Timbuktu, Mali, Afrika dan lain - lain. Jadi jelas bahwa lslam sangat peduli terhadap generasi penerus bahasa. Selain itu ketika masa kekhalifahan lslam menjadi pusat peradaban dan rujukan negara lain dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Maka wajar sistem pendidikan dalam lslam mampu mencetak generasi cemerlang yang bertakwa dan bisanya mempunyai lebih dari satu disiplin ilmu. Adapun contoh ilmuwan terkenal pada masa kekhalifahan adalah lbnu Sina, Al Ghazali, lbnu Ruysd, Al - Farabi, lbnu Khaldun, Al Ferdowsi dan masih banyak lagi yang lainnya. Dimana ilmu beliau masih bisa kita nikmati sampai saat ini. 

Sungguh luar biasa bukan sistem lslam bila diterapkan secara totalitas. Tentu semua rindu akan kembalinya khilafah kepangkuan kaum muslimin. Namun ada hal yang perlu diingat oleh umat bahwa penegakan khilafah perlu perjuangan seperti metode yang dicontohkan oleh Rasulullah. Jangan lupa terus berdakwah supaya pertolongan Allah terwujud dan kemenangan segara digenggaman umat muslim. Allahu Akbar!

Wallahu a'lam bish shawab.