Pencurian Meningkat Akibat Pandemi yang Belum Minggat



Ummu Farizahrie

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


Kondisi perekonomian di Indonesia kian terpuruk. Terutama akibat dampak terjadinya pandemi Covid-19. Pengangguran dimana-mana, karena banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK). Penerapan pembatasan kegiatan masyarakat berbagai level juga mengakibatkan roda ekonomi tersendat.


Keadaan yang demikian menyebabkan terjadinya kejahatan tak terhindarkan terutama kasus pencurian. Seperti yang terjadi pada Kamis, 26 Agustus 2021di Komplek Cibiru Indah V, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Enam orang kepergok mencuri motor CBR di salah satu rumah warga. Dua orang berhasil ditangkap sedangkan empat lainnya melarikan diri. Dua pencuri ini pun babak belur dihajar warga. (Jurnal Soreang, 27 Agustus 2021)


Kasus seperti ini sudah sangat sering terjadi bukan hanya di wilayah Kabupaten Bandung tetapi juga di wilayah-wilayah lainnya. Pemberitaannya begitu intens disiarkan media televisi ataupun online, tentang bermacam-macam kasus pencurian dengan korban yang juga beragam.


Pemerintah seharusnya bertindak tegas mengatasi hal ini dengan meningkatkan keamanan di berbagai wilayah. Misalnya dengan menambah patroli rutin. Bukannya membiarkan kasus bertambah setiap harinya dan baru bertindak jika ada laporan dari masyarakat.     


Kesulitan hidup serta susahnya mencari lapangan pekerjaan dan lemahnya pemahaman agama menyebabkan kasus seperti pencurian dan  perampokan seperti tidak pernah ada habisnya. Kebutuhan hidup yang terus meningkat ditambah harga kebutuhan pokok yang membumbung tinggi, belum lagi kebutuhan pendidikan dan kesehatan yang juga sangat mahal  menjadi faktor-faktor pendorong terjadinya kejahatan di negeri ini.


Miris, negeri yang kaya raya dengan sumber daya alam melimpah ruah, tetapi kondisi penduduknya yang semakin miskin, ditambah beban utang yang harus ditanggung rakyat akibat negara tak henti-hentinya meminta pinjaman luar negeri. Akibatnya rakyat menjadi apatis dan memilih jalan singkat untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan hidup.


Lantas kemana perginya sumber daya alam negeri ini? Mengapa tak mampu menopang kehidupan rakyatnya dan menjadikan mereka sejahtera? Apakah benar dogma yang selama ini selalu dijejalkan dalam pemikiran kita bahwa anak bangsa ini belum mampu mengelola sumber daya alam negerinya hingga harus diserahkan kepada pihak asing untuk mengelolanya?


Semua ini tak lain karena sistem rusak yang dianut negeri ini. Yaitu kapitalisme sekuler dengan asasnya demokrasi. Sistem ini meniscayakan para kapital (pemilik modal) untuk bebas melakukan apa yang dianggapnya membawa manfaat atau keuntungan baginya dan/atau kelompoknya. 


Tak mengherankan jika sistem seperti ini menghasilkan ketidakadilan dan ketimpangan dalam ekonomi. Sistem seperti ini akan melahirkan para pemimpin yang abai dan minim empati kepada rakyatnya. Seperti saat pandemi sekarang ini mereka mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Bantuan sosial yang diberikan tidak merata bahkan sering salah sasaran.


Sesungguhnya menjadi pemimpin itu akan menanggung amanah yang sangat besar. Maka seorang pemimpin yang tidak amanah alias zalim akan mendapat ancaman dari Allah Swt sebagaimana firman-Nya dalam surah Asy Syuara ayat 42 yang artinya: "Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih."


Sangat jauh berbeda bila Islam dijadikan pedoman dalam mengurus kehidupan. Seorang pemimpin dalam Islam (Khalifah) akan sangat bersungguh-sungguh mengurus rakyatnya. Islam memiliki sederet aturan dalam mengurus urusan umat. Baik muslim maupun non muslim. Semua memiliki hak yang sama sebagai warganegara Daulah Islam. 


Untuk urusan ekonomi, Islam memiliki mekanisme tersendiri yaitu sistem Baitul Mal. Dari sanalah Khalifah akan mengurus rakyatnya dengan mengambil harta dari pos kepemilikan umum. Pos tersebut dapat digunakan untuk membiayai pendidikan, kesehatan serta keamanan secara gratis. Di masa pandemi harta tersebut bisa digunakan untuk membiayai kebutuhan rakyat seperti pengobatan serta fasilitas kesehatan lainnya yang dibutuhkan rakyat, semuanya dapat diakses secara gratis.


Khalifah juga akan mendorong serta menyediakan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki dewasa untuk memenuhi nafkah bagi keluarganya. Sehingga tidak ada rakyat yang tidak memiliki penghasilan akibat ketiadaan pekerjaan.


Negara juga akan mengurus sendiri sumber daya alamnya, dan hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat untuk kesejahteraan mereka. Penguasa tidak akan membiarkan SDA dikuasai oleh individu dan korporat. Karena itu adalah hak kepemilikan umum. 


Untuk hukum terkait pencurian Islam telah menetapkan had terhadap pencuri yaitu potong tangan. Adapun hukuman diberikan untuk memberikan efek jera (zawajir) dan penghapus dosa (jawabir). 


Sebagaimana firman Allah Swt: "Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (TQS Al Maidah ayat 38)


Hukuman tersebut dilaksanakan oleh Khalifah. Bukan diserahkan kepada individu ataupun kelompok untuk menghakimi sendiri. Maka tidak akan ada tindakan main hakim sendiri terhadap pelaku kriminal manapun. 


Had akan dilakukan jika memenuhi: rukun dan syaratnya, pengakuan dari si pelaku bahwa dia mencuri disertai dengan dua orang saksi, barang yang dicuri tidak melebihi seperempat dinar atau tiga dirham. Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw dan Khalifah Utsman bin Affan juga pendapat jumhur ulama dari madzhab Syafi'i, Maliki dan Hambali.


Hukum potong tangan tidak berlaku jika pencurian disebabkan karena kelaparan. Seperti yang terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Pada masa paceklik beliau tidak menghukum pencuri karena kelaparan. Namun hal yang demikian tidaklah dapat dijadikan pembenaran untuk mencuri. Karena terlebih dahulu harus mengupayakan secara maksimal untuk mendapatkan nafkah.


Yang tak kalah pentingnya Khalifah akan membina keimanan dan ketakwaan umat, sehingga muncul rasa takut kepada Allah Swt untuk melakukan dosa dan maksiat. Demikianlah hukum Islam diterapkan untuk menjamin kesejahteraan dan keamanan seluruh umat.


Wallahualam bissawab.