Pelaku Kejahatan Seksual Merajalela, Apa Solusinya?


Oleh Rismawati, S.Pd.

(Pendidik)


Negeriku Tercinta 

Sungguh nian malang nasibmu

Engkau disanjung beribu manusia

Namun, engkau jua dilecehkan oleh segelintir manusia bejat

Para remajamu terancam kebebasannya

Namun, engkau hanya bisa terdiam meratapi nasibmu

Dan para penjahat itu pun semakin merajalela mengintai mangsanya.

Puisi yang berjudul “Nasib Negeriku” Karya Rismawati menjadi gambaran betapa besar bahaya kekerasan seksual atau Pedofilia terhadap anak remaja, sebab mereka adalah mangsa empuk. Oleh karena itu, sebagai pemimpin haruslah memberikan perhatian besar terhadap kasus seperti ini. Namun, bagaimana kiranya jika pelaku kekerasan seksual atau Pedofilia itu justru dibebaskan menampakkan wajahnya di beberapa siaran pertelevisian.

Sebagaimana yang baru-baru ini diberitakan bahwa seorang artis yang inisial SJ telah dibebaskan setelah tersandung kasus pelecehan seksual yang dilakukan kepada beberapa anak remaja.

Dilansir oleh riau24.com yang mengabarkan bahwa, setelah kebebasan artis yang bernama Saipul Jamil yang juga kerap dipanggil bang Ipul itu, banyak siaran pertelevisian yang kemudian mengundang SJ untuk hadir di acara mereka. Bahkan, SJ juga mengabarkan dirinya akan memulai kariernya kembali di dunia tarik suara sebagai penyanyi dangdut. (02/09/2021) 

Kebebasan Saipul Jamil juga banyak menuai kontroversi, dikarenakan aksinya yang begitu lihai dalam menampakkan dirinya di depan khalayak bahkan mulai tampil di pertelevisian. Padahal beliau adalah mantan narapidana dalam kasus pelecehan seksual. Karena itu, muncullah berbagai kritik pedas yang ditujukan kepada KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), mereka mempertanyakan kinerja KPI atas munculnya kembali SJ di pertelevisian. (investing.com, 05/09/2021).

Selain itu, baru-baru ini di kalangan KPI juga telah terjadi pelecehan dan perundungan (bullying) kepada salah satu pegawai KPI pusat selama periode 2011-2020 yang dilakukan oleh 7 pegawai kantor KPI pusat. Akibatnya, dari pelecehan tersebut telah membuat korban menjadi trauma dan stres. Walaupun, sebelumnya korban dikabarkan sempat melaporkan hal tersebut ke Komnas HAM dan kepolisian, tetapi hasilnya nihil. (Republika.co.id, 02/09/2021).

Dari fakta di atas dapat kita lihat, bahwa kasus pelecehan seksual seolah bagaikan angin lewat di negeri yang penduduknya mayoritas muslim ini. Saat KPI membiarkan seorang mantan narapidana kasus seksual muncul di pertelevisian, maka mereka sama saja sedang membiarkan bahaya datang pada setiap remaja yang sedang mencari jati dirinya. Selain itu, kasus yang terjadi di kalangan KPI juga menjadi bukti kuat bahwa sistem demokrasi tidak mampu memberikan keamanan bagi kaum muslim saat ini.

Dalam sistem demokrasi hanya akan selalu mementingkan materi semata dalam setiap tindakan. Sehingga langkah yang dilakukan bukan terikat oleh haram atau tidaknya sebuah perilaku tersebut. Melainkan berjalan sesuai adanya keuntungan dalam perkara yang mereka lakukan. 

Bagaimana Islam menangani kasus pelecehan seksual?

Islam adalah agama paripurna yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, mulai dari bangun tidur hingga membangun negara. Oleh karena itu, Islam juga telah mengatur bagaimana mengatasi para pelaku pelecehan seksual. Dalam Islam, akan ada tiga mekanisme untuk menghadapi kasus pelecehan seksual:

Mekanisme pertama, Islam menerapkan sistem pergaulan yang mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan, baik ranah sosial maupun privat. Bagi muslimah maka wajib menutup aurat agar tidak merangsang sensualitas, karena umumnya kejahatan seksual itu dipicu rangsangan dari luar yang bisa memengaruhi naluri seksual (gharizah an-nau’). Islam hanya akan membolehkan laki-laki dan perempuan berinteraksi dengan tiga hal, yaitu pendidikan (sekolah), ekonomi (perdagangan, pasar) dan kesehatan (rumah sakit, klinik, dan lain-lain).

Mekanisme kedua, Islam memiliki sistem kontrol sosial berupa perintah amar makruf nahi mungkar. Saling menasihati dalam kebaikan dan ketakwaan, juga menyelisihi terhadap segala bentuk kemaksiatan. Tentu semuanya dilakukan dengan cara yang baik.

Mekanisme ketiga, Islam memiliki sistem sanksi tegas terhadap pelaku kejahatan seksual. Contohnya, sanksi bagi pelaku tindak perkosaan berupa had zina, yaitu dirajam (dilempari batu) hingga mati, jika pelakunya muhshan (sudah menikah); dan dijilid (dicambuk) 100 kali dan diasingkan selama setahun, jika pelakunya ghairu muhshan (belum menikah).

Rasulullah saw. bersabda, “Dengarkanlah aku, Allah telah menetapkan hukuman bagi mereka itu, perawan dan perjaka yang berzina maka dikenakan hukuman cambuk sebanyak seratus kali dan diasingkan selama satu tahun, sedangkan pria yang sudah tidak perjaka dan perempuan yang sudah tidak perawan (yang keduanya pernah bersetubuh dalam status kawin), maka akan dijatuhi hukuman cambuk dan dirajam.” (HR. Muslim).

Hukuman rajam bagi pelaku kemaksiatan juga tidak dilakukan sembarangan. Harus didetailkan kasusnya oleh kadi (hakim) yang berwenang, harus ada saksi dan seterusnya. Semua bentuk hukum Islam ditegakkan sebagai penebus dosa pelaku kemaksiatan di akhirat (jawabir) dan sebagai pencegah (zawajir) orang lain melakukan pelanggaran serupa agar jera. Semua ini adalah bentuk penjagaan Islam yang paripurna terhadap generasi masyarakat. (MuslimahNews.com, 11/09/2021).

Begitulah Islam menangani kasus pelecehan seksual yang terjadi di negerinya. Namun, tanpa tegaknya sistem Islam, hanya akan menjadi kemustahilan untuk mendapatkan penanganan yang tepat dalam kasus tersebut. Oleh karena itu, sebagai kaum muslim yang rindu akan keadilan dan keamanan bagi penerus bangsa, maka kita harus menyampaikan kepada umat bahwa hanya Daulah Islamlah yang mampu memberi perlindungan kepada anak bangsa dari kejahatan para pelaku pelecehan seksual dan pedofilia. Wallahu a’lam bish-shawwab.