Overcrowding Penjara, Kegagalan Sistem Kapitalis


Oleh Lilis Lina Nastuti

Ummu Bagja Mekalhaq


Penjara penuh, keselamatan penghuni dipertaruhkan, yakni saat terjadinya kebakaran di lapas Tangerang, Rabu dini hari 8 September 2021. Ini bukan kejadian yang pertama kalinya di Indonesia, tapi banyak terjadi di berbagai tempat. Peristiwa di Tangerang menjadi salah satu sorotan yang luar biasa, karena 41 orang nyawa melayang, plus ada dua orang asing yang meninggal dalam kejadian tersebut. 

Penuhnya lapas di berbagai tempat bukannya tidak disadari pemerintah. Kompas (8/9), memberitakan bahwa Mahfud MD, mengungkapkan, pihaknya membicarakan pembangunan lapas baru yang lebih banyak. Ia pun menambahkan penuhnya lapas itu kebanyakan diisi oleh pengguna narkoba dengan jumlah 28.241 binaan di seluruh Indonesia. Untuk mengatasi hal ini pemerintah mengambil langkah agar tidak memenjarakan pengguna narkoba, tapi ada alternatif lain yakni dengan melakukan kerja sosial. 

Semakin jelas, penuhnya penjara merupakan bukti buruknya kondisi masyarakat yang diatur dengan aturan kapitalis, dimana kehidupan ini diatur berdasarkan kepada asas manfaat berlomba pengumpulan materi meskipun dengan cara batil. 

Artinya, aktivitas apa pun boleh dilakukan dalam mengisi hidup ini asalkan ada manfaat yang bisa diraih, meskipun hal tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. 

Contoh, aktivitas bisnis masih berkiblat pada teori Adam Smith, yaitu mengeluarkan sedikit modal untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. 

Meskipun dengan cara batil, bermodalkan uang pinjaman riba, yang penting ada manfaat yang bisa diraih. jika hal ini terus menerus dipraktikkan oleh umat, maka tidak ubahnya umat terjerat dalam sistem kapitalis. Sistem kapitalis mengajarkan kerakusan. Kerakusan bagi para pemilik modal bisa menguasai sebanyak-banyaknya SDA, dan mengambil sebanyak-banyaknya keuntungan. 

Tidak jarang untuk meraihnya dengan cara yang salah. Adanya aktivitas haram, seperti berbisnis minuman haram/minuman beralkohol, bisnis narkoba makin menggila jika tidak tertangkap oleh aparat penegak hukum, maka sah-sah saja, hal inilah yang banyak dilakukan oleh orang- orang yang kurang pemahaman terhadap ajaran Islam dan lemah iman.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, harus  ada peranan negara. Negara sudah seharusnya menyediakan lapangan pekerjaan. Berkaca dari para pelaku kejahatan/kriminalis, mereka melakukan kejahatan itu bukan tanpa alasan, tapi kemiskinan dan tekanan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin hari terasa berat, sehingga jalan praktislah yang mereka lakukan.

Jika saja negara memberi fasilitas lowongan kerja, maka umat tidak akan stres dan bertindak jahat. Bermula dari sikap negara yang lepas tangan dalam segala urusan keperluan umat, akibatnya umat yang menanggung beban derita berkepanjangan. Pantas, umat banyak yang bunuh diri, meskipun tidak mau mati, tapi mau mati saja karena hidup berbalut beban. 

Negara semakin berlepas tangan dalam segala urusan, mulai pendidikan yang semakin sekuler, kesehatan yang semakin mahal, bahkan pajak pun semakin memuncak dibebankan kepada  umat. Umat dibiarkan mengurus kebutuhan sendiri tanpa ada campur tangan dari negara. Umat didorong untuk menyejahterakan hidup sendiri, tanpa modal dan fasilitas yang diberikan oleh negara. 

Kalaupun negara membantu ekonomi umat, tidak lepas dari politik jual beli dengan umat, ada kontrak yang harus terjalin, yaitu saat negara membutuhkan suara saja, mereka memberikan  bantuan gratis kepada umat, di luar itu umat dijerat lagi dengan tagihan-tagihan pajak yang semakin mencekik, menjerat dan semakin membengkak, hampir semua kebutuhan hidup terkena pajak. 

Adapun saat memberikan bantuan, hanya sekadar memberi rujukan untuk berhutang via bank jika ingin modal. Tanpa berpikir panjang mengandung riba di dalamnya, sehingga hasil pinjaman tersebut bukan menjadikan solusi tetapi menambah masalah yang tidak berujung.

Belum lagi buruknya kehidupan sosial masyarakat nyaris tanpa aturan yang jelas, alias hidup bebas, hedonis terserah mau melakukan apa pun, sehingga melahirkan generasi amburadul minim moral miskin adab, sehingga menghantarkan generasi di ambang kehancuran. 

Generasi pelaku maksiat, pemakai narkoba, pezina, lengkap sudah, kehidupan buruk semakin tampak jelas saat diatur dengan sistem kapitalis terbukti gagal. 

Niat hati hidup bangkit, tetapi apa daya terkungkung sistem kapitalis yang semakin memperjelas kegagalannya dalam segala lini kehidupan. 

Buruknya keadaan umat saat ini, semakin tajam. banyak pelaku kejahatan, karena tidak adanya  aturan yang baku yang menguasai aktivitas umat.

Dari sistem kapitalis lahir keburukan-keburukan yang para pelakunya tidak memiliki efek jera, tidak ada penyesalan bahkan berulang kali kejahatan demi kejahatan dilakukan karena sanksi yang diberikan lemah, bukan berasal dari Islam. Bukan berasal dari wahyu Allah yakni Al-Qur'an. 

Makanya, para pelaku kejahatan semakin menggila, mulai para koruptor tanpa malu maling duit rakyat masih bisa senyum depan kamera. Para pezina terang-terangan mengklaim ingin hak pribadinya dilindungi. Jangan diusik, asal suka sama suka, pengguna narkoba tiada jera keluar masuk penjara. 

Semua perkara itulah yang menghantarkan penuhnya penjara karena tidak ada sanksi efek jera. Pantaslah, semakin rusaknya umat, padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, tetapi hidupnya jauh dari keberkahan. Bukan berkah dan rahmat yang dirasa tapi musibah dan laknat yang menimpa. 

Hilangnya berkah ini tiada lain efek dari menjauhkan Islam dari kehidupan. Semakin mencengkeramnya sistem kapitalis semakin menghunjam keburukan di sepanjang waktu dan zaman. Tiada lain untuk berlepas dari sistem ini adalah umat harus kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya, umat Islam dituntut mau keluar dari sistem kapitalis ini yang sudah terasa jelas keburukannya.

Untuk itu, mulai saat ini juga umat harus berani meninggalkan sistem kapitalis berganti kepada sistem Islam kafah, karena saat Islam diterapkan akan merasakan keadilan hakiki. Karena dengan sistem Islam, setiap pelaku kejahatan akan diadili dengan seadil-adilnya, pelaku kejahatan dihukum sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya, sehingga untuk menentukan hukuman pun sangat jelas.

Dalam sistem Islam, penegakkan hukum akan benar-benar mengambil dari hukum Allah. Misalnya, seorang pencuri dengan jumlah mencuri yang berlebihan, trilyunan seperti para koruptor, maka ia dihukumi dengan potong tangan, maka ia akan jera jika hukum Allah ditegakkan. Artinya hukum Allah itu sangat adil, hukum Allah itu memberi efek jera bagi pelakunya agar tidak melakukan perbuatan yang serupa, masihkah umat menyangsikannya? Atau meyakininya? 

Karena hanya dengan hukum Allah pelaku kejahatan akan merasa jera. Dengan hukum Allah pula, semua masalah akan tuntas. Tetapi yang menjadi pertanyaan, bisakah hukum Allah itu, tegak dalam sistem kapitalis? 

Tentu tidak, karena jalan yang ditempuh kapitalis sangat bertolak belakang dengan jalan yang ditempuh oleh Islam. Untuk itu dibutuhkan sebuah perjuangan keras bagi umat Islam untuk kembali kepada aturan Islam hakiki yakni penerapan Islam kafah melalui institusi khilafah.

Dengan sistem khilafah, semua pelaku kejahatan akan jelas diberikan sanksi sesuai kesalahan yang dilakukannya dan akan mendapat hukuman yang setimpal yang menjerakan. 

Demikian keberadaan hukum Allah, yang akan menuntaskan semua problematika kehidupan, termasuk overcrowding penjara akan segera tuntas ketika khilafah tegak. 

Wallaahu a'lam bishshawab.