Nasib Anak-anak dan Perempuan di Sistem Kapitalisme

 


Oleh Sujilah

Ibu Rumah Tangga


Menurut catatan Komnas Perempuan telah terjadi 2500 kasus kekerasan terhadap perempuan selama Januari-Juli 2021. 


Semenjak masa pandemi ternyata banyak kekerasan yang menyasar korban dari kalangan dewasa, perempuan termasuk anak-anak. Kekerasan perempuan seperti kekerasan fisik dan kekerasan psikis, sedangkan kekerasan seksual banyak mengancam anak-anak. Yang dimaksud kekerasan fisik berupa pelecehan seksual, pemerkosaan serta penculikan yang berujung trauma secara psikis. Hal ini seharusnya tidak terjadi, mengingat selama pandemi aktivitas banyak dilakukan di dalam rumah. Dengan perlindungan dan pengawasan dari orang tua dan anggota keluarga yang lain. Bahkan kondisi ini bisa digunakan  keluarga untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya tentang pola asuh dan pendidikan yang baik. 


Dalam rangka meningkatkan pengetahuan serta keterampilan pola pengasuhan, Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TPPKK) kabupaten Bandung menggelar pertemuan orientasi Pola Asuh Anak Remaja (PAAR) dan lansia. Acara ini diikuti oleh 62 peserta yang dipimpin Hj. Emma Dety Dadang Supriatna. (Dara.coid, 14/9/2021) 


Acara yang digelar oleh Hj.Emma Dety bertujuan agar anak dan remaja dididik sejak dini, apalagi di era digital ini. Orang tua harus memberitahu kepada anak atau remaja, agar tidak terjun ke hal-hal yang buruk atau tindak kekerasan.


Catatan Komnas Perempuan dari Januari-Juli  2021, telah terjadi 2500 kasus kekerasan terhadap perempuan. Sebelumnya, di tahun 2020, sebanyak 2400 kasus. (Detiknews.com, 23/8/2021)


Untuk memutus peningkatan kasus kekerasan ini diperlukan kerjasama secara sinergis antara individu, masyarakat, dan negara. Negara perlu melindungi anak-anak di seluruh penjuru negeri.  Dengan kebijakannya yang melindungi dan bersifat tegas terhadap pelaku kekerasan.  Selama ini usaha terus dilakukan dengan adanya lembaga-lembaga perlindungan anak. Yang tujuannya untuk melindungi tindak kejahatan dari manapun. Tetapi faktanya yang ada, tidak mereda tapi malah justru meningkat. Meskipun hukum telah diberlakukan bagi pelaku kekerasan itu, tapi semua ini tidak membuat jera bagi pelakunya.


Kekerasan terhadap anak dan perempuan terjadi akibat diterapkan sistem sekularisme kapitalisme. Bahwa sekularisme  yaitu konsep hidup yang menghilangkan peran agama dalam penetapan kebijakan negara. Sedangkan kapitalisme yaitu corak pemerintahan yang kekuasaan tertinggi pada pemilik modal, demi menguntungkan bisnisnya. 


Sebagus apapun kebijakan yang dibuat pasti jauh dari keimanan dan manusia akan cenderung  melanggar aturan  karena memandang materi hanya  untuk  keuntungan semata. Seandainya diterapkan, sulit membuat efek jera. Meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan telah membuktikan bahwa kapitalisme sekuler tidak layak dipertahankan.


Terdapat 3 benteng  dalam sistem Islam untuk melindungi agar anak-anak terpenuhi hak dan kewajibannya: Pertama, benteng pertahanan keluarga. Keluarga merupakan perisai yang langsung berhubungan dengan anak-anak. Di tangan keluargalah pertamakali pendidikan dikenalkan. Dalam firman Allah Swt.: "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu  dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (TQS. At-Tahrim: 6)


Melalui ayat ini, Allah memerintahkan kepada orangtua untuk menjaga anak-anaknya, menanamkan akidah Islam dan memberikan pendidikan yang baik.


Kedua, adalah masyarakat yang menjadi benteng  pertahanan terhadap anak-anak. Masyarakat melakukan amar makruf nahi mungkar. Jika melihat kekerasan terhadap anak yang diperlakukan tidak sesuai dengan syariat Islam, masyarakat harus sigap mengingatkan dan berkewajiban juga mengoreksi penguasa apabila salah dalam mengambil kebijakan.


Ketiga, adalah negara. Tanpa bantuan negara, keluarga dan masyarakat tidak akan mampu menjalankan tugasnya dengan maksimal. Negara yang berlandaskan Islam akan menerapkan kebijakan  dalam  perlindungan anak. Sebagai bentuk tanggung jawabnya. Sesuai sabda Rasulullah saw; "Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan  setiap dari kalian nanti akan diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan dia bertanggung jawab dengan kepemimpinan atas mereka. Seorang laki-laki merupakan pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin bagi seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas keluarganya." (HR Abu Dawud)


Berbeda dengan negara Islam, yang memberikan solusi tuntas tentang kekerasan  terhadap anak dan perempuan. Tidak ada satupun sistem yang bisa menyelesaikan masalah kecuali sistem Islam. Sistem ini melindungi anak secara paripurna, solutif dan menentramkan. Dan mendapat perlindungan dari lahir sampai dewasa.


Dengan kebijakan-kebijakan di atas membuat anak-anak akan memiliki kesempatan hidup layak serta terpenuhi kebutuhannya. Maka hanya sistem Islam  yang bisa menjamin perlindungan bagi masyarakat luas,  perempuan dan anak-anak khususnya. Aturan Islam begitu sempurna karena datang dari Zat yang Maha Sempurna. Allah Swt. telah menegaskan dalam firman-Nya: "Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)." (TQS. Al-Maidah: 50)


Wallahualam bissawab