Menakar Dampak Kemenangan Taliban untuk Indonesia

 


Oleh Suchi

(Anggota Komunitas Sahabat Hijrah Banggai Laut, Sulteng) 


Kelompok Taliban berhasil menduduki pemerintahan Afganistan. Pakar terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib mengatakan kemenangan Taliban ini bisa memicu semangat kelompok radikal untuk mendirikan negara Islam.


Mulanya, Ridlwan menjelaskan bahwa kemenangan Taliban ini sekaligus menjadi kekalahan ISIS. Selain itu, Taliban sedari dulu memang menolak ISIS yang menciptakan daulah sendiri.


"Taliban tidak setuju dengan ISIS yang menciptakan daulah sendiri, karena itu mereka tidak akan mengijinkan ISIS tumbuh di Afganistan"


Kemenangan Taliban ini, menurut Ridlwan, tidak akan secara langsung membuat gerakan terorisme di Indonesia menjadi lebih kuat. Namun kemenangan Taliban bisa menginspirasi kelompok radikal untuk menciptakan negara Islam.


"Secara langsung tidak, tetapi spirit atau semangat untuk menciptakan negara Islam tentu bisa termotivasi," tuturnya. (detiknews.com, 19/8/2021)


Isu kemenangan Taliban dapat memicu semangat kelompok radikal dalam mendirikan negara Islam didefinisikan sebagai upaya meraih kemenangan dengan metode kekerasan dan pengeboman yang dinilai juga akan berdampak terhadap negara lainnya khususnya Indonesia. Kelompok radikal diduga akan melakukan aksinya dalam mendirikan negara Islam dengan kekerasan dan pengeboman.


Pengopinian kelompok radikal dalam mendirikan negara Islam, hanya sebuah wacana dalam menyudutkan ajaran Islam. Agar Islam tidak terimplementasikan secara kaffah (menyeluruh) dalam bentuk akidah maupun peraturan.


Sebab potret negara Islam yang diklaim sebagai visi Taliban ternyata tidak memiliki kesamaan dengan negara Islam yang di praktikan oleh Rasulullah Saw., sebagai sel awal berdirinya negara Islam di Madinah. Dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidhin hingga berakhir kekhilafaan Ustmani di Turki. 


Kependudukan Taliban terhadap  Afganistan tidak bisa dipisahkan dari diplomatika politik antara AS dan sekutunya. Taaliban menjalin  kerja sama dengan AS  dalam sebuah Perjanjian Doha sebagai syarat pengakuan AS terhadap kekuasaan Taliban di Afganistan. Pasal perjanjian Doha Diantaranya " Siapapun yang berkuasa di Afganistan tidak boleh menghalagi ambisi dan kepentingannya atas Afganistan. selain itu, Taliban menjamin Afganistan tidak akan menjadi pusat perlawanan terhadap AS".


Sehingganya, Eksistensi negara Islam tidak memiliki kolerasi dengan metode pergerakan Taliban. Sekalipun terpotret sebagai kelompok yang bernuansa Islam, dan memiliki visi mendirikan negara Islam.


Pentingnya Mengenal Karakteristik Negara Islam


Segala tindakan akan dipengaruhi oleh mafahim (pemahaman) yang diawali dengan proses berpikir. Dalam proses berpikir, dibutuhkan satu kompenen penting yakni ma'lumat shabiqah (Informasi awal). Sebab, asupan informasi yang salah akan menghasilkan pemahaman yang salah, begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, memahami hakikat negara Islam perlu diwujudkan dengan memberikan informasi yang benar.


Selain itu, negara Islam berdiri dalam satu kepemimpinan, tidak tersekat-sekat oleh nasionalisme. Negara Islam memiliki gambaran agung dan indenpenden dalam memimpin negara, tanpa adanya keterikatan maupun kerja-sama dengan negara kafir harbi seperti AS, Cina, Rusia. sebagai negara  yang menampakan permusuhannya secara terang-terangan terhadap kaum muslim.


Negara Islam Muncul sebagai rahmat bagi seluruh alam. Bukan perpecahan, penindasan, maupun kehancuran. Segala aturan dan hukum akan senantiasa diwarnai dengan Islam yang terpancar dari wahyu Allah dan sunah Rasul-Nya. 


Sejarahpun telah mencatat bagaimana keberhasilan dan gemilangnya negara Islam dalam memimpin dunia. Ketenangan, keutuhan serta kedaulatan negara akan dirasakan secara menyeluruh tanpa adanya intervensi dari pihak manapun.


Setidaknnya, kita dapat memahami tiga metode dakwah Rasulullah Saw., dalam meneggakkan negara Islam di Madinah. Pertama, dakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun di kediaman  Arkam bin Abi Arkam. 


Kedua, perintah dakwah secara terang-terangan, hingga terdengar beragam penyiksaan, penindasan, dan pemboikotan terhadap umat Islam. 


Ketiga, Thalabul Nusrah (meminta pertolongan), sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Saw., dalam memerintahkan umat Islam untuk meminta pertolongan kepada para pemuka kabilah yang memiliki kekuasan besar, untuk dapat membantu umat Islam dari kekangan para kafir Quraisy. 


Mush'ab bin Umair, delegasi yang diutus ke Madinah dalam mendakwahkan Islam kepada kaum Anshar agar mau menerima Islam dan memberikan penempatan mulia bagi Islam. Tak ada kekerasan maupun kerusuhan yang diciptakan Rasulullah Saw., dan para sahabat dalam mendirikan daulah Islam, seperti hal yang dituduhkan.


Oleh karena itu, apa yang digaungkan Taliban sebagai negara Islam, sejatinya bukan negara Islam. Baik konsep (fikroh) maupun metodenya (thariqah). 


Pengopinian kelompok radikal dalam mendirikan negara Islam, hanya sebuah wacana untuk menyudutkan Islam dan ajarannya. Sehingga Islam tidak terimplementasikan secara kafah (menyeluruh) dalam kehidupan. 

Wallahualam bissawab