Media Makin Negatif dalam Sistem Destruktif


Oleh Yanyan Supiyanti, A.Md

Pegiat Literasi, Member AMK


Peran media sangatlah penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat di era globalisasi saat ini. Terutama saat pandemi ini, semua pihak tergantung pada media internet, pelajar dengan belajar daringnya, pekerja dengan WFH-nya, belanja kebutuhan sehari-hari juga jadi serba online.

Dikatakan Menteri Komunikasi dan informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate bahwa bermigrasinya aktivitas ke media komunikasi daring selama pandemi juga meningkatkan paparan konten negatif yang menyesatkan ke pengguna internet. Disebabkan masifnya penggunaan teknologi komunikasi digital sebagai dampak dari pandemi Covid-19. (Liputan6.com, 19/9/2021).

Media dalam sistem kehidupan destruktif hari ini, hampir melupakan fungsi utamanya sebagai penjaga dan pendidik masyarakat. Media menjadi alat penyebar hoax dan fitnah sekaligus penebar racun pemikiran dan budaya yang merusak moral dan pemikiran masyarakat, khususnya generasi muda. 

Tolok ukur kebenaran dan kebaikan pun akibatnya makin pudar di tengah masyarakat. Benar dan salah bisa terbalik. Standar halal dan haram terkikis oleh diksi dan narasi kebebasan serta berbagai produk paham permisivisme yang terus diaruskan oleh media. Wajar jika bencana moral tidak bisa dihindarkan karena disfungsi peran media. Kondisi ini diniscayakan ketika diterapkannya sekularisme dan liberalisme dalam sistem kehidupan.

Selama pandemi ini, terjadi perubahan besar dalam penggunaan media dan pemerintah sudah mengantisipasi dengan beragam edukasi yang berfokus mendidik masyarakat guna menyebarkan informasi yang akurat dan positif untuk menghentikan penyebaran konten negatif seperti berita bohong, fitnah, penghinaan, pornografi, dan sejenisnya.

Faktanya konten negatif terus diproduksi, karena edukasi tidak bersandar pada aspek mendasar yakni ketakwaan, tidak diiringi regulasi yang melarang sektor lain menyebar aktivitas negatif seperti sektor pergaulan, ekonomi dan politik serta tidak ada definisi yang baku terhadap makna konten negatif tersebut. 

Pengaturan Media dalam Sistem Islam

Dalam Islam, media berfungsi strategis dalam melayani ideologi Islam, baik di dalam negeri untuk membangun masyarakat Islam yang kokoh, maupun di luar negeri untuk menyebarkan Islam.

Di tengah-tengah masyarakat Islam, tidak ada tempat bagi penyebaran pemikiran dan pemahaman yang rusak dan merusak, juga tidak ada tempat bagi berbagai pengetahuan yang sesat dan menyesatkan. Karena negara dan warga negaranya terikat dengan hukum syara yang melarang penyiaran berita bohong, propaganda negatif, fitnah, penghinaan, pemikiran porno dan a-moral, dan sebagainya. Sehingga media menjadi alat konstruktif untuk memelihara identitas keislaman masyarakat. 

Islam mengatur media berada di dalam Departemen Penerangan. Dia memegang peranan penting dalam menanamkan dan menjaga pemahaman dan syariat Islam di tengah-tengah masyarakat.

Lembaga penerangan akan senantiasa memastikan konten berita tidak membawa kemudaratan bagi masyarakat, juga akan menjaga tersebar luasnya pemikiran atau budaya yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Negara akan memberi sanksi tegas yang akan memberi efek jera dan pencegah terhadap pelaku pelanggaran. Meskipun ada kontrol ketat terhadap kerja media, akan tetapi negara tidak mengekang kebebasan media. Mereka paham betul bahwa kerja media adalah bagian dari berlomba-lomba dalam kebaikan. Sehingga ketakwaan individu terjaga, masyarakat senantiasa saling beramar makruf nahi mungkar serta adanya negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh. Sebuah keniscayaan Islam menjadi rahmat bagi semesta alam. 

Wallahu a'lam bissawab.