Masa Depan Afganistan: Resolusi ataukah Intervensi?


Oleh Citra Salsabila

(Pegiat Literasi)


Dunia perpolitikan internasional tengah digencarkan dengan jatuhnya Afganistan kepada kelompok Taliban dalam waktu yang singkat. Banyak warga sipil yang meninggalkan Afganistan ke negara-negara terdekat. Karena sebelumnya kelompok Taliban sudah menggempur wilayah Kabur sejak 14 Agustus 2021.

Setelah beberapa hari melakukan kudeta. Akhirnya  tanggal 17 Agustus 2021 Taliban berhasil menguasai Istana Kepresidenan setelah Presiden Ashraf Ghani melarikan diri dan menyerahkannya demi menghindari pertumpahan darah. Kemudian disusul warganya pun berbondong-bondong melarikan diri dari Afganistan. Kebanyakan dari mereka pergi ke Inggris, Jerman, ataupun Amerika Serikat untuk mencari perlindungan. (Cnnindonesia.com, 17/08/2021). 

Mengapa hal tersebut terjadi? Apa yang sebenarnya diinginkan Taliban ketika berhasil menduduki Afganistan? 

Jika ditelaah dari sejarah, Taliban sebenarnya sudah pernah menduduki Afganistan pada tahun 1989 hingga tahun 2001. Taliban sendiri adalah faksi politik dan agama ultrakonservatif yang muncul di Afganistan pada pertengahan 1990-an. Kemunculannya seiring dengan penarikan pasukan Soviet dan runtuhnya rezim komunis Afganistan. Ternyata, kata Taliban berasal dari bahasa Pashto yang artinya murid, sedangkan anggota kelompok Taliban sebagian besar terdiri dari siswa di madrasah yang didirikan untuk pengungsi Afghanistan di Pakistan utara.

Setelah itu, Taliban dipaksa karena pasukan pemimpin AS. Sebab, Taliban menyembunyikan pemimpin AlQaeda, Osama bin Laden yang diduga pelaku pembom-an gedung WTC (11 September 2001). Praktis sejak saat itu, terjadi peperangan dingin antara Taliban dan AS. Akhirnya, setelah 20 tahun AS berhasil menduduki Afganistan. Mulai dari mengirimkan bantuan militer sampai suntikan dana yang tak sedikit. 

Sehingga memang tak mudah menarik AS untuk tidak menyetujui Taliban menguasai Afganistan, karena mereka sudah terikat perjanjian di Doha, Qatar. Dilansir dari Cnnbcindonesia.com, ada empat dampak Taliban menduduki Afganistan. Pertama, soal hak asasi manusia. Sebab di masa lalu dikenal sebagai kelompok yang menolak pendidikan bagi wanita, melakukan eksekusi publik terhadap lawan-lawan mereka, menganiaya kaum minoritas, seperti Hazara Syiah. Sehingga ada rasa takut, jika harus terjadi kembali. 

Kedua, kelompok Taliban dapat kembali menjadi tempat berlindung yang aman bagi para ekstremis. Sehingga negara seperti AS sangat khawatir akan ancamannya, jika bisa jadi tempat berlindung terorisme kembali. Ketiga, Taliban kemungkinan akan membuat Pakistan tidak stabil. Sebab, Inter-Services Intelligence Pakistan (IS) diyakini telah membantu mendorong Taliban sebelum pengambilalihan gerakan keagamaan tahun 1996 di Afghanistan. Akibatnya, Islamis di sana hanya akan menguatkan tingkat radikal di dalam negeri Pakistan. Keempat, Cina bisa mendapatkan pijakan di kawasan itu. Sebab, Cina telah berjanji memberikan investasi besar dalam proyek energi dan infrastruktur. Karena Taliban telah berkampanye untuk mengamankan legitimasi di mata negara-negara regional (22/08/2021). 

Ternyata, kekuasaan Taliban di Afganistan bukanlah yang diharapkan masyarakatnya. Terutama bagi negara adikuasa, seperti Amerika Serikat. Banyak kerugian yang akan diterima, ditambah akan menemukan kesulitan untuk mengintervensi Afganistan. Padahal, Taliban hanya ingin kembali ke wilayah sendiri dan menerapkan aturan Islam. Namun benarkah kehadiran Taliban akan menjadi pelopor bagi resolusi Afganistan? Ataukah masih ada intervensi dari negara-negara asing?

Kondisi Taliban di Afganistan

Sudah hampir dua minggu Taliban menduduki Afganistan, akan tetapi banyak perselisihan yang terjadi. Mulai dari banyaknya masyarakat yang masih ingin keluar dari Afganistan, hingga terjadinya bom di daerah Kabul. Selain itu, lembaga keuangan internasional membekukan miliaran dolar aset Afganistan. 

Mengapa demikian? Karena kononnya Afganistan merupakan negara termiskin di Asia Selatan. Sehingga, selama ini pemerintahan Afganistan selalu ditopang dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Jika tidak, maka Afganistan akan tumbang pada tahun 2019. Suntikan dana yang didapat sekitar US$ 4,2 miliar atau sekitar Rp60 triliun. 

Ditambah lagi, pasokan militernya pun dipasok oleh Amerika Serikat. Sekitar 208 pesawat untuk militer selama periode 2003 dan 2016. Termasuk di dalamnya adalah helikopter Blackhawk, helikopter Scout Attack dan drone militer ScanEagle, pesawat serang ringan, dan pesawat angkut militer. Selain itu, AS memberikan 600 ribu senjata infanteri termasuk senapan M16, 162 ribu peralatan komunikasi dan 16 ribu perangkat kacamata malam. 

Walhasil, semua itu diduga kuat telah disita oleh Taliban. Sehingga, Amerika Serikat tentu tidak akan berdiam diri dengan apa yang terjadi. Akan ada serangan balik bagi Taliban. Karena AS akan mengintervensi negara muslim dengan serangkaian agenda yang direncanakan. Maka, dari itu ada perjanjian antara AS dan Taliban itu salah satu cara AS mengamankan kepentingannya di Afganistan. 

Akhirnya, Taliban terperangkap dalam jeratan AS. Dan Taliban pun takkan mudah menerapkan Islam secara keseluruhan di Afganistan. Sebab, AS masih tetap melakukan intervensi dalam bentuk apa pun. Salah satunya, tetap menerapkan ide-ide Islam moderat, dan sistem politiknya masih mengarah kepada pandangan Barat. 

Itulah yang terjadi jika ideologi kapitalisme masih berkuasa di dunia. Terutama dianut langsung oleh negara Amerika Serikat, sehingga menjadi negara adikuasa. Tak khayal, banyak negeri-negeri muslim yang notebene-nya merupakan negara berkembang menjadi santapan yang empuk bagi para kapital. Asing yang di dalamnya ada AS akan terus ikut campur dalam perpolitikan, perekonomian di dalam negara yang dibidik. 

Tak ada harapan bagi umat muslim terhadap Taliban dalam rangka penerapan aturan Islam kafah. Sehingga, bukanlah resolusi yang hadir di kancah dunia, tetapi tetap melanggengkan kepentingan AS di Afganistan. 

Harapan Umat Islam kepada Taliban

Islam merupakan agama dengan seperangkat aturan yang berasal dari Allah Swt. untuk dijalankan oleh umat manusia. Dengan tujuan membawa keberkahan dan keselamatan bagi siapapun. Karena itu, di mana pun keberadaannya, Islam itu sama tidak ada perbedaan. Kalaupun ada, itu hanyalah dalam perkara cabang bukan perkara utamanya. 

Maka dari itu, harapan umat Islam kepada Taliban yang kini telah berkuasa di Afganistan adalah meneladani sikap Rasulullah saw. dalam menerapkan Islam kafah di Madinah. Yaitu, (1) pengaderan atau pembinaan secara intensif tentang Islam, (2) interaksi bersama umat, termasuk di dalamnya mencari dukungan dan pertolongan, (3) penerimaan kekuasaan dari pemilik kekuasaan. 

Lepaskanlah perjanjian dengan kafir penjajah yang terang-terangan memusuhi Islam. Bahkan menganggap umat Islam adalah terorisme. Karena hakikatnya, mereka (para penjajah/asing) adalah musuh nyata bagi umat Islam yang harus dijauhi, bahkan harus diperangi. Tidak ada kompromi dalam bentuk apa pun dalam rangka menegakkan Islam kafah. 

Wallahu a'lam bishshawab.