Makin Kapitalistik, Pajabat Memperkaya Diri Saat Rakyat Makin Sekarat

 


Oleh Yuni Nisawati


70,3 persen harta kekayaan penyelenggara negara meningkat selama pandemi Covid-19


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat sebanyak 70,3 persen penyelenggara negara mengalami kenaikan harta kekayaan selama pandemi Covid-19. Angka tersebut diketahui berdasarkan hasil laporan harta kekayaan penyelenggara (LKHPN) kepada lembaga antirasuah tersebut. Paling terbanyak diatas Rp 1 miliar yaitu kategori menteri sebesar 58 persen; DPR/MPR 45 persen; Gubernur/Wakil 30 persen; DPRD Provinsi 23 persen; 18 persen Bupati Walikota, dan terkecil DPRD Kota/Kabupaten yang hanya 11 persen. Tidak terkecuali Presiden Jokowi beserta Kabinet Indonesia Maju. (m.merdeka.com/09/09/2021)

Sejak awal pandemi sampai hari ini, perekonomian semakin mengalami penurunan. Banyak masyarakat yang mengeluh akan kondisi ekonomi yang semakin memburuk. Angka kemiskinan   semakin bertambah dan rakyat semakin sekarat. Namun, keadaan tersebut berbanding terbalik dengan para pejabat pemerintah. Dimana rakyat yang semakin tercekik dengan kondisi ekonomi saat ini, para pejabat justru mengalami kenaikan harta kekayaan yang begitu fantastis. Kenaikan harta kekayaan tersebut dirasakan hampir semua pejabat pemerintah. Baik dari yang terkecil yaitu DPRD Kota/Kabupaten sampai dengan Presiden.

Entah bagaimana caranya, di saat semua mengalami penurunan kondisi ekonomi, para pejabat justru mengalami kenaikan harta kekayaan yang begitu fantastis selama masa pandemi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengawasi harta kekayaan para pejabat pemerintah.

Dari hal semacam ini, seharusnya rakyat sadar fakta bahwa pemerintah tidak peduli dengan kondisi rakyat. Karena mereka hanya memikirkan bagaimana mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Jadi, tidak heran banyak dana yang dikorupsi hanya untuk kepentingan mereka pribadi.

Harusnya masyarakat sadar bahwa Sistem Kapitalis adalah sistem yang rusak. Sistem yang dikuasai oleh segelintir orang hanya untuk kepentingan mereka pribadi. Jadi, tidak heran jika mereka tidak memikirkan kepentingan rakyatnya. Bahkan mereka tega melakukan korupsi dana yang seharusnya diperuntukkan untuk rakyat yang memerlukan bantuan. Bahkan tidak segan melakukan berbagai cara hanya untuk memperkaya diri mereka sendiri.


Hal ini berbanding terbalik dengan Sistem Islam yang telah terbukti mampu menyelesaikan masalah wabah dalam kurun waktu 9 bulan. Tidak hanya menyelesaikan wabah, namun juga memenuhi segala kebutuhan rakyatnya selama masa pandemi. Hal tersebut adalah bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap rakyatnya. Sehingga rakyat tidak perlu khawatir akan segala kebutuhan sehari-hari. Harusnya kita melihat bagaimana Sistem Islam mampu menyelesaikan segala persoalan yang ada. Tapi sayangnya banyak masyarakat yang belum memahaminya. Sehingga, banyak masyarakat yang masih salah persepsi mengenai Sistem Islam. Padahal jika kita memahami Sistem Islam, hanya Sistem Islamlah yang mampu menyelesaikan segala persoalan. 

Hanya Sistem Islamlah yang memikirkan kepentingan rakyat. Namun karena ketidak pahaman masyarakat, masyarakat masih banyak yang memilih Sistem Kapitalis yang rusak. Maka dari itulah pentingnya mengenal dan memahami Sistem Islam. Tidak hanya memahaminya, namun juga mengenalkannya kepada masyarakat. Agar masyarakat tidak salah persepsi tentang Sistem Islam. Karena Sistem Islam adalah Sistem yang wajib kita pahami, pegang, dan terapkan.

"Ya Allah, siapa saja yang memimpin (mengurus) urusan umatku ini, yang kemudian ia menyayangi mereka, maka sayangilah dia. Dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia". (HR. Muslim No 1828)