Langkah Panduan Sekolah Tatap Muka: Sudah Siapkah?

 

Oleh: Maira Zahra

Komunitas Millenials Perindu Surga

Tulungagung


Desakan untuk segera melakukan PTM atau Pertemuan Tatap Muka bagi sekolah, kini menjadi tujuan utama dan topik pertama di kalangan guru, orang tua dan siswa. Banyak dari orang tua yang berkeluh kesah kepada sekolah terkait sekolah tatap muka yang belum jua mendapat perizinan untuk dibuka.


Bahkan tidak ayal ada beberapa sekolah yang sudah melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah. Akibat dari keluh kesah para orang tua maupun siswa. Pemerintah pun tertuntut untuk menyiapkan PTM (Pembelajaran Tatap Muka). Namun yang sangat disayangkan, tidak seiring dengan atau pencetusan kebijakan pembelajaran tatap muka adalah kurangnya dalam penyiapan infrastruktur sempurna untuk kebutuhan PTM nantinya. 


Dilansir dari Republika.id survei yang dilakukan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyimpulkan protokol kesiapan kenormalan baru dalam panduan sekolah di masa pandemi yang diterbitkan oleh Kemendikbud itu bakal sukar dipenuhi lebih dari separuh sekolah-sekolah di Indonesia. Di antara kekurangannya, yang pertama, kurangnya kesiapan sarana prasarana untuk penanganan Covid-19.


Yang kedua, kurangnya pemerintah dalam memberikan protokol yang rinci sehingga nantinya bisa disosialisasikan. Yang ketiga, kurangnya kesiapan anggaran. Anggaran menjadi komponen terpenting yang menjadi permasalahan di setiap sekolah. Sebab, untuk memenuhi sarana prasarana kesehatan dan kebersihan di sekolah memerlukan sumber dana. Belum lagi sekolah harus membayar honor guru. 


Vaksin 


Setidaknya kebijakan vaksin untuk semua kalangan guru dan siswa menjadi syarat penting yang harus dilakukan sebelum melakukan pembelajaran tatap muka. Namun, apakah itu bisa menjamin perlindungan semua unsur sekolah dari penyebaran virus? Tentu saja tidak. 


Negara semestinya berpikir mendalam terkait strategi dan taktik dalam menangani masalah ini. Jangan hanya melimpahkan keputusan kepada kepala daerah atau bupati dan gubernur, namun dari diri pengusaha yang harus jua turun tangan mengatasi dan mendalami permasalahan rakyat. Melihat penderitaan rakyat. Menampung segala kritik rakyat hingga bisa sama-sama merasakan kondisi rakyat saat ini. 


Sayangnya, semua itu tidak kita temui di dalam sistem kapitalisme. Sistem yang hanya mementingkan kebutuhan golongan tertentu, dan tak punya hati untuk sekedar berputar badan pada rakyat miskin. Perumpamaan yang jelas tergambar dalam paradigma kapitalisme saat ini.


Pandemi tidak akan larut marut bilamana kita bersistem pada sistem dari Sang Khalik, Allah Subhanahu wa ta'ala. Sistem Islam akan menjamin keselamatan rakyat menjadi hal utama.  Khilafah satu-satunya power dalam berkehidupan umat manusia, tanpanya tiada kuasa kita menahan perih atas kebijakan. Dan kita hanya akan menerima kesengsaraan yang ada. 


Point penting langkah Islam mengatasi sekolah di masa pandemi, di antaranya, pertama selesaikan wabahnya, baru buka sekolahnya. Negara Khilafah akan melakukan pemetaan terhadap kasus positif yang tersebar di setiap daerah. Tujuannya, untuk memudahkan pemisahan yang sakit dengan yang sehat. 


Kedua, melakukan edukasi melalui kesadaran pemahaman, yaitu edukasi spiritual, emotional, dan intelektual. Rakyat harus memahami bahwa pandemi bagian dari ujian Allah. Mereka juga dibekali  pengetahuan terkait pandemi Covid-19.


Ketiga, memfasilitasi dan memenuhi kebutuhan rakyat. Keempat, paradigma dan tujuan pendidikan negara Khilafah berlandaskan Islam. Membentuk manusia sholeh yang cerdas iptek serta berkepribadian mulia.


Wallahu a'lam bishshowab