Ketika Jabatan Jadi Kesempatan

 


Oleh: Siami Rohmah

      

Wow, lagi - lagi publik dikejutkan okeh tingkah polah pejabat di negeri ini. Bagaimana tidak, di saat rakyat berjuang agar bisa bertahan di tengah peliknya pandemi yang belum usai, orang nomor satu di negeri ini malah mengeluarkan perpres terkait bonus bagi wakil menteri sebesar Rp 580 juta. (Kompas.com, 30 Agustus 2021).


Memanfaatkan Jabatan Melalui perpres Nomor 77 Tahun 2021, Presiden menetapkan uang penghargaan bagi Wakil Menteri yang telah berakhir masa jabatannya. "Uang penghargaan bagi Wakil Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling banyak sebesar Rp 580.454.000 untuk 1 periode mada jabatan Wakil Menteri" pasal ayat (2).


Entah apa yang dipikirkan oleh pejabat di negeri ini. Kondisi yang sudah begitu terpuruk karena pandemi, rakyat yang terdampak disegala lini tidak diberi solusi pasti malah pemimpinnya sibuk mencari-cari tambahan pundi-pundi. Dengan bonus sebesar itu, untuk satu wakil menteri saja, jika dialokasikan untuk bantuan senilai Rp 300 ribu, bisa menyasar 1.900 lebih penerima bantuan. Belum lagi dikali sebanyak wakil menteri.    


Namun, memang sudah menjadi tabiat orang-orang bermental kapitalis dalam sistem kapitalisme, yang mana ada dalam pikiran mereka adalah kapital-kapital, uang dan uang. Sehingga dalam beberapa waktu saja kekayaan mereka sudah bisa bertambah milyaran rupiah.


Mereka seolah buta tuli akan masalah dan kondisi rakyat. Dahulu mereka mengemis suara dukungan agar bisa menjabat. Habis manis sepah dibuang. Setelah terpilih mereka lupa akan janji-janji manis mereka.


Cobalah kita mengambil pelajaran dari sosok amirul mukminin, Khalifah kedua, Umar bin Khatab ra. Dikisahkan, ketika beliau sedang makan, datanglah Utbah bin Abi Farqad menemui beliau. Kemudian Umar ra mengajaknya untuk makan. Utbah menerima tawaran tersebut. Tetapi roti yang dihidangkan adalah roti yang keras dan tebal, sehingga ia sangat kesulitan untuk menelan. 

Ia bertanya, "Mengapa engkau tidak menggunakan tepung yang baik untuk membuat roti?"           

Jawab Umar, "Apakah semua orang Islam mampu memakan roti dari tepung yang baik?" Sahut Utbah, "Tidak semuanya." Umar berkata, "Tampaknya engkau ingin agar saya menikmati semua jenis kenikmatan dunia."        


Begitu jauh perbedaan gambaran pemimpin yang lahir dari kapitalisme dan Islam. Yang satu sibuk memikirkan diri sendiri, yang satu sibuk memikirkan rakyat yang dipimpinnya.


Khatimah       


Berharap kepada penguasa dalam sistem kapitalisme memang seperti pungguk merindukan bulan, karena yang dikejar oleh mereka hanyalah kelezatan dunia yang melenakan, tanpa peduli kehalalan cara mendapatkan, seolah jabatan tak ada batasan.

       

Namun ketika pemimpin lahir dalam sistem Islam yang kaffah lagi berkah, pantang kenyang sebelum rakyat. Dia akan menggenggam panji tauhid dalam hatinya, hingga dunia tak lagi mampu mempesonakanny


Jadi tunggu apalagi wahai kaum muslimin, solusi atas penguasa yang lupa diri ini adalah kembali menggenggam aturan yang akan memberi kembali umat ini jati diri, yakni Islam, aturan dari Allah Rabbul ' Izzati.

Wallahualam bissawab.