Kemerdekaan yang Hakiki


Oleh Rizky Apriani, S.Pd

Tenaga Pendidik Muslimah


76 Tahun sudah negeri tercinta kita menggema suara kemerdekaan. Penindasan dan kekerasan secara fisik sudah tidak dirasakan lagi. Perjuangan para pahlawan sampai pertumpahan darah dilakukan untuk mendapatkan kemerdekaan yang bisa dinikmati oleh anak bangsa. Namun perjuangan belum berakhir sampai di sini, kondisi negara tercinta masih memiliki segudang persoalan, maka tak aneh bila HUT Ke-76 RI ini mengusung tema “Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh’’. Ada pesan optimis dibalik tema tersebut. "Indonesia Tangguh menghadapi berbagai krisis yang selama ini menimpa". Kata Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono lewat pesan singkat.(Detiknews, 17/6/2021).

Berbagai krisis telah menimpa Indonesia mulai dari krisis 1998 hingga pandemi Covid-19 yang belum kelar sampai saat ini. Pengangguran yang terus meningkat membuat masyarakat semakin kesusahan mendapatkan kelayakan hidup. Beban dan tanggung jawab semakin bertambah, namun di tengah himpitan hidup ternyata laju korupsi tetap berjalan, salah satunya korupsi bansos yang dilakukan oleh Juliari (Mensos). Mantan Menteri Sosial Juliari Batubara divonis 12 tahun penjara dan denda Rp500 juta oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta pada Senin. (Kompas.com, 23/8/2021).

Kepahitan harus diterima lagi, Indonesia dianugrahi kekayaan alam yang berlimpah ruah, namun tidak bisa dinikmati oleh rakyatnya sendiri. Inilah akibat dari korporasi multinasional yang menghegemoni, cengkeramannya mampu menggerogoti kekayaan yang dimiliki, sehingga mampu membuat negeri itu layaknya menjadi pengemis. Liberalisasi kepemilikan telah melegalkan eksploitasi SDA yang berujung pada malapetaka. Celakanya, rezim demokrasi memuluskannya dengan sejumlah regulasi. Omnibus Law UU Cipta Kerja siap tancapkan hegemoni mereka. Tidak hanya itu, tingkat kriminalitas yang masih merajalela, membuat kita semakin tersadar masih terpuruknya negeri tercinta ini. 

Kita merdeka secara fisik, namun secara mental dan pemikiran justru masih terjajah. Terjajah secara pemikiran yakni mengaku muslim namun dari pemikirannya sekuler dan kapitalistik, sehingga secara sukarela mengikuti kehendak pihak yang tidak menjadikan akhirat sebagai orientasi hidup. inilah buah dari sistem kapitalistik yang gagal mewujudkan dan memberikan kemerdekaan sesungguhnya, khususnya untuk umat Islam. Seharusnya seorang muslim itu terikat dengan Islam, baik dari segi pemikirannya maupun metode pengembanannya, karena kemerdekaan umat manusia dalam makna yang sebenarnya yakni memerdekakan umat manusia dari penghambaan kepada sesama manusia dan dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah Swt.

Lantas apakah kemerdekaan yang hakiki sudah didapatkan?

Bagi umat Islam, kemerdekaan bukan sekadar hak yang harus diperjuangkan, akan tetapi menjadi misi risalah Islam itu sendiri. Hal ini tampak jelas dalam sabda Rasulullah ﷺ yang dituliskan dalam sebuah surat untuk penduduk Najran. Berikut sebagian dari surat tersebut:

«… أَمّا بَعْدُ فَإِنّي أَدْعُوكُمْ إلَى عِبَادَةِ اللّهِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ وَأَدْعُوكُمْ إلَى وِلاَيَةِ اللّهِ مِنْ وِلاَيَةِ الْعِبَادِ …»

…Amma ba’du. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia)… (Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, v/553).

Kemerdekaan hakiki itu sulit terwujud dalam sistem kehidupan saat ini, kita butuh revolusi bukan hanya revolusi mental, tetapi juga aturan yang semuanya bersumber dari Allah Swt. Sehingga umat harus berupaya untuk mewujudkannya dan menghilangkan yang masih menjadi hambatan dan rintangannya, karena kemerdekaan yang hakiki ini bisa terwujud ketika Islam tegak sebagai pengatur kehidupan yang ditegakkan oleh institusi negara yang berdaulat untuk menerapkan syariat pencipta-Nya. Bi iidznillah. Wallahu a’lam bi ash-shawwab.