Kasus Covid-19 di Luar Jawa Meningkat, Tanya Kenapa?


Oleh Indah Ummu Haikal

(Aktivis Dakwah Islam)


Seakan berbanding terbalik, lonjakan kasus Covid-19 terjadi di luar Pulau Jawa. Hal ini besar dugaan karena kepemimpinan dan pemahaman serta langkah penanganan yang berbeda-beda antara kabupaten dan kota.

Menurut Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) DR. Syahrizal Syarif menilai kepemimpinan walikota atau bupati memiliki kesan tersendiri dalam lonjakan kasus positif di sejumlah daerah luar Jawa – Bali.

Dilansir dari BBC news, gelombang ledakan Covid-19 di luar pulau Jawa - Bali diperkirakan akan terjadi hingga akhir tahun dengan kondisi yang "lebih buruk" dari yang terjadi di Pulau Jawa.

Hal ini karena disebabkan oleh kompleksitas geografis di Indonesia, infrastruktur layanan kesehatan yang minim, jumlah tenaga kesehatan sedikit dan persoalan sosial yang masih tidak mempercayai dengan adanya Virus Corona.

Pada Minggu 8 Agustus 2021, Presiden Jokowi menyampaikan ada lima provinsi di luar Jawa Bali yang mengalami kenaikan kasus Covid-19 cukup tinggi yaitu Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Papua, Sumatera barat dan kepulauan Riau.

Oleh karena itu, Presiden Jokowi meminta kepada seluruh pihak khususnya pemerintahan daerah luar Jawa - Bali untuk menerapkan tiga hal yaitu penurunan mobilitas, testing dan tracking serta penambahan ruang  isolasi terpusat (Isoter) seperti dikutip dari sindonews.com.

Peningkatan kasus infeksi Virus Corona sebenarnya tidak hanya terjadi pada lima provinsi saja sebagaimana yang disebutkan oleh Presiden Jokowi tetapi lonjakan kasus sudah merembet ke provinsi lain yaitu Sumba Timur dan Maumere di Nusa Tenggara Timur, Sumbawa, Lombok Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah.

Sebenarnya lonjakan kasus Covid-19 di luar pulau Jawa - Bali sudah terprediksi, tetapi lantaran pemerintah tidak bersungguh-sungguh untuk menghentikan mobilitas masyarakat ketika Jawa dan Bali sedang mengalami puncak Covid-19 pada Juli lalu sehingga pil pahit lonjakan kasus positif di luar Jawa harus ditelan.

Kemudian, jumlah infrastruktur layanan kesehatan yang minim berakibat orang-orang akan kesulitan untuk mencari dan mendapatkan rumah sakit sehingga angka kematian sudah pasti akan melonjak.

Memang, dari awal terjadinya Covid-19 masuk ke Indonesia pemerintah sudah salah dalam menerapkan penanganan dan malah terkesan tidak sungguh-sungguh. Oleh karena itu, hampir 2 tahun berlalu namun Covid-19 di Indonesia belum ada penurunan jumlah kasus positif yang signifikan.

Kalau saja, sebelumnya negeri ini melihat dan meneladani tindakan dari masa Rasulullah saw. yakni tentang bagaimana dalam menangani kasus penyakit tho'un. 

Yang terjadi kala itu, Rasulullah saw. mengambil keputusan dengan cepat dan tepat karena itu wabah Tho'un cepat tertangani.

Benarlah sabda Rasulullah saw., "Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi wabah di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu."

Andai kata para punggawa negeri dan daerah tegas untuk mengambil langkah sesuai yang dicontohkan nabi, insyaallah kasus Covid-19 di Indonesia segera tertangani dan terputus penyebarannya.

Wallahu a'lam bishawab.