Kapitalisme Mencetak Generasi Amoral


Oleh Sri Yana


Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat menegaskan pihaknya mendukung kepolisian mengusut kasus pelecehan seksual dan perundungan yang diduga dilakukan oleh tujuh pegawainya terhadap seorang pegawai KPI Pusat. Dukungan untuk penyelidikan lebih lanjut itu disampaikan oleh Ketua KPI Pusat Agung Suprio sebagaimana dikutip dari keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Rabu.(m.republika.co.id).

Terlapor berdalih hanya bercanda saat merundung sekaligus melakukan pelecehan seksual sesama pria pegawai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Pakar psikologi sosial dr Andik Matulessy MSi menyebut perundungan dan pelecehan yang dilakukan pelapor tidak layak meski dengan dalih 'bercanda'.

"Perundungan dalam bentuk apa pun tidak layak dilakukan pada seseorang, karena akan menimbulkan dampak psikologis yang berat bagi penyintas atau korbannya. Apakah alasannya bercanda atau bukan, tetap tidak layak dilakukan pada orang lain," ujar Andik kepada wartawan, Selasa (7/9/2021). (news.detik.com).

Seharusnya kekerasan seksual dilakukan beramai-ramai oleh pegawai KPI baru diproses setelah desakan kuat muncul dari publik. Kasus lain berupa sikap toleran KPI atas tampilnya artis pelaku kekerasan seksual di TV menegaskan lembaga ini begitu lunak memperlakukan pelaku kekerasan seksual. Berkebalikan dengan kampanye nasional anti kekerasan seksual. 

Kekerasan seksual tetap menjadi wabah menjijikkan di negeri mayoritas muslim bila nilai dan sistem sekuler dipraktikkan. Bahkan mendefinisikan kekerasan seksual saja bisa terus mengalami perubahan.  

Memberantasnya dengan sikap tegas dan hukuman menjerakan mustahil bisa dihadirkan di sistem kapitalisme ini. Yang mana sistem ini memang sudah cacat bawaan sejak lahir. Akan terus menghasilkan generasi yang jauh dari Islam, generasi yang amoral. Ditambah dengan hukum yang lunak, bahkan tumpul keatas. Sedangkan orang yang di bawah atau kecil semakin terinjak-injak. Karena sudah terbukti semakin hari sistem ini semakin menyengsarakan umat.

Sudah sejatinya kita kembali ke sistem Islam yang pernah berjaya 13 abad. Agar mencetak generasi-generasi cerdas pembawa peradaban. Sebagaimana kisah Usamah bin Zaid yang diangkat oleh Rasulullah menjadi komandan pasukan kaum muslimin dalam penaklukan Syam padahal baru berusia 18 tahun. Atau kisah Imam Syafi'i yang telah hafal Al-Qur'an di usia 9 tahun, serta Ibnu Sina yang telah hafal Al-Qur'an di usia 5 tahun bahkan kemudian mampu menjadi bapak kedokteran.

Waallahu a'lam bish shawab.