Jualan Isu Radikalisme Atas Nama Taliban Propaganda Rezim Anti Islam?


Oleh Mustika Lestari

(Aktivis Dakwah)


Baru-baru ini kelompok milisi Taliban berhasil menduduki pemerintahan Afghanistan setelah 20 tahun invasi Amerika Serikat (AS). Kemenangan tersebut pun menjadi perhatian dan perbincangan politikus dunia Internasional, termasuk Indonesia. 

Muncul pro dan kontra dari publik, bagi kelompok yang pro memaknai kemenangan ini sebagai akhir dari penjajahan terhadap Afghanistan yang sudah menahun, sekaligus kemenangan Islam. Sementara, oleh kubu kontra membesar-besarkannya dengan isu ancaman terorisme, radikalisme, Talibanisme dan semacamnya. 

Dilansir dari detik.com (19/8/2021), Pakar terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib mengatakan kemenangan Taliban ini bisa memicu semangat kelompok radikal untuk mendirikan negara Islam. Menurutnya, kemenangan Taliban tidak akan secara langsung membuat gerakan terorisme di Indonesia menjadi lebih kuat, melainkan dapat menginspirasi kelompok-kelompok yang ingin mengubah negara Pancasila menjadi negara Islam.

Menanggapi tudingan tersebut, Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menilai kemenangan Taliban di Afghanistan tidak berpengaruh besar bagi pergerakan terorisme di Indonesia. Isu tersebut hanya sebatas dugaan, asumsi, kecurigaan, paranoid, cenderung Islamofobia serta tidak proporsional. 

Ia menduga hal ini hanya digemborkan oleh mereka yang mempunyai kepentingan terhadap proyek isu terorisme. Bisa jadi motif baliknya adalah ragam kepentingan oportunis, misalnya anggaran, pengalihan isu, dan secara sistemik memonsterisasi ajaran Islam yang diusung Taliban. (m.republika.co.id, 24/8/2021).

Tak bisa dipungkiri bahwa sejak lama julukan negatif radikal, teroris, meresahkan, tidak merah-putih bahkan menghancurkan negara terus disemburkan di negeri ini. Anehnya, orang-orang pengusung label ini dengan kompak dan sahut-menyahut hanya melakukan serangan verbal terhadap umat yang mulai berpacu membangun kehidupannya berdasarkan syariat Islam, sekaligus menghendaki negara yang menerapkan Islam kafah. Sementara itu, tidak demikian dengan penghancur bangsa dan negara yang sesungguhnya.

Jika mengikuti berkembangannya, “dagangan” Barat ini sejatinya sudah basi, namun terus didaur ulang dengan berbagai kemasan baru agar dapat dimanfaatkan. Dan jadilah kemenangan Taliban sebagai momentum untuk menggoreng kembali isu tersebut dalam rangka menghambat penyebaran Islam yang diusungnya sekaligus menyemai Islamofobia di luar Afghanistan dengan dalih ideologi keras, teror, brutal dan sebagainya. 

Sangat ironis, Indonesia sebagai negeri mayoritas muslim terkait praktik dan pemahaman Islam justru ditempatkan sebagai masalah paling besar dan prioritas paling tinggi yang harus segera dibereskan dengan serangan tak berdasar. Sementara kegagalan penanganan pandemi, kemiskinan dan maraknya korupsi yang membuat muak seolah bukanlah persoalan. 

Mengapa bisa demikian? Jelas aroma kepentingan sangat pekat tercium. Bagi rezim, semburan isu ini paling tidak bisa memalingkan rakyat dari segudang persoalan yang mendera mereka atas kebobrokan tata kelola negara kapitalisme. Diangkatnya tinggi-tinggi agar publik kembali hanyut dengan ide radikalisme, dan sesaat akan amnesia terhadap kegagalan negara dalam mewujudkan keadilaan, angka kemiskinan dan pengangguran yang meningkat, kacau-balaunya penanganan pandemi Covid-19, utang luar negeri meroket dan sebagainya yang menimbulkan frustasi sosial. 

Di samping itu, menggiring persepsi negatif terhadap dakwah Islam, khilafah dan syariat lainnya agar manusia tidak objektif melihat Islam. Khususnya senantiasa menggandengkan khilafah dengan ISIS ataupun kelompok lainnya untuk membangun kebencian dan ketakutan umat terhadap negara Islam yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan kemudian dijalankan oleh para sahabat. Padahal Khilafah Islamiyah yang asli bukan seperti kelompok ISIS, bukan pula ideologi brutal, membawa masalah, teror sebagaimana fitnah mereka.

Jika melihat secara cermat, persoalan besar bangsa ini juga bukan karena radikalisme versi rezim, apalagi karena menerapkan syariat Allah. Korupsi yang kian akut, LGBT, kemiskinan dan berbagai persoalan besar lainnya diakibatkan oleh perilaku pejabat yang tak amanah mengurus rakyat dan negara karena meninggalkan Islam. 

Ajaran Islam yang rahmat lil ‘alamin tidak selayaknya dijadikan sebagai ancaman bagi negeri ini, sebab ancaman yang sesungguhnya adalah ideologi barat Kapitalisme yang diadopsi negara. Keberadaannya secara nyata telah menghancurkan negeri ini hingga benar-benar hancur, menyengsarakan masyarakat dan beragam bentuk kehancuran lainnya. Mestinya inilah yang perlu dilenyapkan dari muka bumi ini.

Barat dan kapitalismenya tidak menginginkan umat Islam bangkit dengan ide syariah dan khilafahnya, sebab mereka memahami betul kembalinya sistem Islam ini akan memupuskan ambisi penjajahan mereka. Begitu pula dengan pegiat radikal yang merupakan antek-antek Barat di negeri-negeri muslim akan terus mendaur ulang isu sampah tersebut untuk membendung semangat berislam kafah di negeri muslim, termasuk Indonesia. Hal ini dianggap solusi ampuh agar ideologi mereka tetap bersinar di kanca dunia yang sejatinya sudah sakaratul maut. 

Hal ini terlihat dengan digaungkannya isu teroris-radikal untuk mengopinikan radikalisme Islam, menggiring permusuhan terhadap syariat Allah, sementara Barat khususnya AS dan sekutu yang sejatinya telah terbukti banyak melakukan tindak teror terhadap umat manusia tidak mendudukannya sebagai negara teroris. Dengan demikian, program War on Terror (perang melawan terorisme) ini hanya sebagai kedok perang melawan Islam (War on Islam).

Siapa saja yang memperjuangkan kebangkitan Islam merekalah kelompok radikal yang wajib diwaspadai. Hal demikian berlaku sama bagi Taliban yang berhasil meletakkan Islam di Negeri Afghanistan yang dianggap oleh mereka (anti Islam) sebagai awal dari bangkitnya pejuang Islam berikutnya. Karena itu, harus segera menghentikannya dengan segala daya dan upaya yang tersisa.

Terkait hal ini, Al-Qur’an telah mengingatkan umat Islam tentang karakter musuh-musuh Islam yang tidak akan berhenti menyerang umat Islam. Akan tetapi Allah Swt. berfirman: “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (Agama) Allah dengan mulut mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurkan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (Q.S. At-Taubah: 32)

Islam adalah agama yang sempurna. Kesempuranaannya sebagai sebuah sistem hidup dan sistem hukum meliputi segala perkara. Allah Swt. berfirman: “...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kaliah agama kalian, telah Kucukupkan nikmatKu kepada kalian dan telah Kuridai Islam menjadi agama bagi kalian. (QS. Al-Maidah: 3). 

Allah juga berfirman: “Kami telah menurunkan kepada kamu al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (QS. An-Nahl: 89).

Ini berarti problematika apa saja atau apa pun tantangan yang dihadapi, Dinul Islam dapat memecahkan dan menjawabnya, termasuk dalam hal kenegaraan. Agama tidak dapat dipisahkan dari negara, sebagai pemilik kekuasaan.

Imam al-Ghazali mengingatkan umat Islam bahwa keberadaan sebuah kekuasaan yang akan menjaga umat Islam sangatlah penting. “Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu tanpa ada pondasi niscaya akan runtuh dan sesuatu tanpa penjaga niscaya akan lenyap. (Al-Iqtishad fi-I’tiqad, 255-256).

Sesungguhnya tidak ada alasan bagi umat untuk takut dengan penerapan Islam dalam naungan Daulah Islam, Khilafah. Dalam sistem warisan Rasulullah saw. inilah akan membebaskan umat dari belenggu kesengsaraan yang tiada henti. Sistem Khilafah terbukti membawa solusi bagi problematika yang mendera umat, menjamin kesejahteraan rakyat, memenuhi seluruh kebutuhan rakyat yang hidup di bawah naungannya.

Adapun upaya Barat dan koalisinya untuk memadamkan cahaya Allah dengan berbagai macam strateginya tidak akan menghasilkan apa pun, baik di negeri ini maupun dunia seluruhnya. Mereka bisa saja menumpas semua bunga yang tumbuh, tetapi tidak akan mampu menahan datangnya musim semi. Semua itu hanya sia-sia belaka.

Rasulullah bersabda: “...Setelah itu akan terulang kembali periode Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad). Wallahu a’lam bi shawwab.