Islam, Solusi untuk Ketidakadilan


Oleh Euis Purnama Sari

Kontributor Media Lenteranyahati


Di tengah berbagai himpitan kesulitan hidup, masyarakat disuguhi pemandangan hukum dan peradilan yang diskriminatif. Jauh dari keadilan, korupsi yang dilakukan oleh para pemangku kekuasaan atau orang-orang di sekitarnya menjadi 'santapan' sehari-hari. Di ranah hukum banyak dari kalangan ulama dan aktivis yang tidak mendapatkan keadilan dalam kasus yang mereka hadapi. Padahal, pada waktu yang bersamaan banyak koruptor, oknum jaksa dan mafia-mafia kasus yang mendapat diskon masa tahanan dengan alasan-alasan yang tidak logis. 

Pemandangan memilukan lainnya adalah semakin karut-marutnya pemerintah dalam pengurusan mengatasi pandemi. Semakin tidak jelas arah penyelesaiannya. Penistaan agama semakin banyak terjadi, bahkan hal itu dilakukan oleh orang-orang yang "dekat" dengan penguasa tanpa ada tindakan hukum. Namun dengan mudahnya tokoh-tokoh agama Islam dituduh melakukan pencemaran nama baik dan langsung diproses hukum. Seperti kasus yang menimpa Ust. Maheer at-Thuwailibi (alm), Gus Nur dan yang terbaru Ust. Yahya Waloni yang dituding menistakan agama Kristen. 

Inilah wajah demokrasi yang selama ini dielu-elukan. Masih layakkah kita berharap pada demokrasi?


Ada dua faktor yang menyebabkan ketidakadilan dan kezaliman semakin nyata di negeri ini. 

Pertama, sistem hukum dan peradilan di negeri ini sangat dipengaruhi dan dilandasi oleh sistem hukum dan peradilan Barat yang sekuler. Sekularisme melahirkan sistem demokrasi yang memberikan kebebasan kepada manusia untuk menetapkan hukum tanpa terikat ajaran agama. Dengan mencampakkan hukum dari Zat yang Mahaadil yakni Allah Swt., maka dapat dipastikan produk hukum yang dibuat pasti tidak akan sempurna dan memiliki banyak kelemahan.

Kedua, bobroknya mental sebagian aparat penegak hukum baik polisi, jaksa, maupun hakim. Pasalnya, dalam sistem yang jauh dari tuntunan agama (Islam), siapapun -termasuk aparat penegak hukum- begitu mudah tergiur oleh uang, jabatan, perempuan dan godaan duniawi lainnya. Akhirnya, banyak dari mereka yang terlibat jual-beli perkara.

Adakah sistem yang mampu mewujudkan keadilan yang hakiki?

Islam adalah solusi bagi setiap permasalahan manusia. Termasuk dalam hal keadilan, karena Islam bersumber dari Zat yang Maha Adil, Allah Swt. telah menetapkan seperangkat aturan untuk mengatur kehidupan manusia di dunia. Maka sudah sepantasnya manusia bertumpu dan berharap hanya kepada syariat Islam. Dan bagi manusia yang melanggar aturan-Nya, maka ia berdosa dan layak dihukumi di dunia maupun di akhirat. Selain itu, bagi seorang muslim kita wajib meyakini bahwa hanya hukum Allah saja yang terbaik.

Namun keadilan yang hakiki, tentu tidak akan bisa terwujud tanpa adanya sebuah institusi yang mampu menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita mencampakkan sistem sekuler yang rusak ini dan menggantinya dengan sistem Islam yang sesuai dengan metode kenabian. Sebagaimana pernah dilakukan oleh Baginda Rasulullah saw. ketika menegakkan daulah di Madinah dulu. Wallahu a'lam bishawwab.