Impor Cabai, Membunuh Petani di Kala Pandemi



Oleh Krisdianti Nurayu Wulandari


Impor yang dilakukan oleh pemerintah semasa pandemi berakibat anjloknya harga cabai di kalangan petani kita. Tentunya, hal ini sangat merugikan para petani. Untuk menanam cabai sendiri dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Mereka membutuhkan berbagai macam sarana juga prasarana yang memadai. Mulai dari lahan, pupuk, obat-obatan, irigasi, dan lain sebagainya.  


Hal demikianlah yang membuat para petani akhirnya merasakan frustasi ketika mengetahui harga cabai anjlok. Seperti yang dialami oleh seorang petani cabai yang baru-baru ini viral dengan beredarnya video yang memperlihatkan petani cabai tersebut mengamuk dan merusak kebun cabai miliknya. Kemarahannya ini diduga lantaran harga cabai di pasaran turun. Petani tersebut diduga kesal dan melampiaskannya dengan cara menginjak-injak tanaman cabai di kebunnya.


Video viral tersebut sempat beredar di akun Instagram @andreli48, Rabu (4/8) lalu. Video ini lantas mengundang beberapa reaksi netizen. Banyak yang geram karena justru aksi petani tersebut dianggap semakin merugikan dirinya sendiri, banyak juga yang simpati serta  mempertanyakan kebijakan pemerintah yang malah mengimpor cabai padahal data produksi aneka cabai nasional masih surplus. (radartegal.com)


Slamet sebagai Anggota Komisi IV DPR RI mengatakan bahwasanya harga cabai yang anjlok di pasaran menandakan adanya masalah yang seharusnya menjadi perhatian serius dari pemerintah. “Pemerintah harus hadir melindungi petani indonesia. Jangan hanya berpikir impor terus, sementara nasib petani kita semakin sengsara,” ujarnya, Jumat (27/8) lalu. 


Begitu juga Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Yogyakarta, Hempri Suyatna yang menyayangkan kebijakan adanya impor cabai yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat pandemi. "Perlu mengurangi impor cabai dari luar negeri. Hal ini karena selama pandemi ini Indonesia tetap melakukan impor cabai besar-besaran sehingga panenan produk lokal rentan terganggu seperti saat ini," jelas Hempri (ayoyogya.com) 


Adapun pendapat dari Ketua Forum Petani Kalasan, Janu Riyanto juga mengeluhkan harga cabai di tingkat petani merosot hingga 50 persen dari harga normal. Janu menjelaskan bahwa selama ini harga normal cabai itu ada di kisaran Rp11.000 per kilogram, sedangkan sekarang harga cabai anjlok hanya dihargai Rp5.000 per kilogram.


Dalih pemerintah bahwa impor untuk menstabilkan harga hanya alasan untuk lepas dari tanggung jawabnya untuk mengurusi petani. Darisini dapat menunjukkan kepada kita bahwa pemerintah telah gagal untuk mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia. 

Selain anjloknya harga cabai disebabkan oleh impor cabai yang dilegalkan pemerintah, hal itu juga disebabkan lantaran sepinya pasar akibat kebijakan PPKM yang merupakan kebijakan Pemerintah Indonesia untuk menangani pandemi Covid-19 di Indonesia sejak awal 2021.


Persoalan ini tidak bisa lepas dari pengaruh rezim yang masih saja menerapkan sistem kapitalisme neoliberal yang sama sekali tidak berpihak pada petani. Karena dalam sistem ini yang dikedepankan adalah untuk memperoleh manfaat (materi) sebanyak-banyaknya. Tidak mempedulikan lagi bagaimana nasib petani tentunya juga rakyat untuk kedepannya. 


Rezim demokrasi telah nyata gagal dalam memakmurkan dan menyejahterakan rakyat. Mereka hanya memikirkan bagaimana caranya supaya mereka bisa mengembalikan modal politik yang telah banyak mereka keluarkan. Serta dapat mempertahankan kursi kepemimpinan secara langgeng, yang telah banyak memberikan keuntungan untuk diri mereka sendiri.


Berbeda halnya, jika sistem Islam berhasil diterapkan seantero dunia. Penguasa yang lahir dari sistem Islam adalah penguasa yang bertanggung jawab penuh terhadap hajat hidup seluruh rakyatnya. Karena dia adalah seorang imam. Memberi pelayanan penuh atas rakyatnya adalah suatu kewajiban yang harus ia penuhi. Karena dari setiap yang ia lakukan nantinya akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.


Oleh karena itulah, seorang pemimpin bertugas untuk menjamin kebutuhan hidup rakyatnya. Mendistribusikan kebutuhan pokok secara merata. Kemudian juga berhasil mewujudkan kedaulatan pangan di negaranya. 


Ia akan menyediakan sarana juga prasarana yang memadai untuk para petani. Memberikan fasilitas yang terbaik agar dapat mengembangkan serta memenuhi ketersediaan pangan bagi seluruh rakyatnya. 


Begitulah sedikit gambaran bagaimana pemimpin yang lahir dari sistem Islam akan mampu menghadirkan tanggung jawab penuh terhadap pemenuhan kebutuhan rakyatnya.

Wallaahu A'lam...