I Hate Myself!



Oleh Dwi Devi Kamalin 

Mahasiswa


Hidup dengan kebencian itu membuat kita penat, apalagi benci dengan diri sendiri. Hidup yang seperti itu kalau sekarang dikenal sebagai self-hatred atau nama lainnya disebut self-loathing. Orang yang menderita self-hatred akan merasa kalau dirinya tidak cukup baik,  tidak mampu dan tidak pantas melakukan atau mengurus apapun juga. Dan mereka selalu merendahkan diri sendiri, bahkan merasa seperti tidak layak untuk hidup.


Padahal hidup sebagai manusia, bahkan muslim itu sebagai karunia yang luar biasa. Penyakit diri seperti ini memang tidak salah kalau emang ada, apa mungkin bisa seperti itu? bisa saja, apalagi sekarang hidup apa-apa diukur pakai kecantikan, ketampanan, kekayaan, intelektualitas, jabatan, status sosial, prestige,  privillage dan sebenarnya masih banyak lagi.


Semua standar tadi tersebut duniawi sekali, ditambah mindset orang zaman sekarang dipengaruhi ide batil sekulerisme kapitalis. Percaya tidak percaya sadar atau tidak sadar memang benar, coba perhatikan manusia sekarang sangat alergi dengan urusan agama itu disangkut pautkan sama kehidupan sehari-hari mereka. Agama itu suci jadi kalau mau membicarakan masalah agama cukup di masjid-masjid saja atau di kajian-kajian saja.


Jadinya, saat membicarakan masalah hidup misalnya, tentang standar kesuksesan sama keberhasilan diri sebagai manusia itu tidak memakai tolak ukur agama tetapi, memakai standar omongan orang. 


Dikatakan sukses dan berhasil dalam hidup kalau sudah mempunyai deposito triliunan, dikatakan pintar kalau selalu mendapatkan nilai 100 di semua mata pelajaran. Waktu kuliah IPK tidak beranjak dari angka 4, berkarir di perusahaan multinasional, kalau menikah juga tidak telat, bisa jalan-jalan ke Eropa dan masih banyak yang lainnya. Yang namanya manusia apalagi tidak dibimbing dengan wahyu jelas membuat menentukan mana yang baik atau buruk itu pasti sesuai hawa nafsu.


Ujung-ujungnya materi sekuler kapitalis sekali, jadi beginilah ending dari story ini yang kalah bersaing jadi low self-esteem atau harga diri yang rendah. Apalagi kalau lingkungan di sekelilingnya terus-menerus menuntut sukses ala sekuler kapitalis alhasil tambah insecure, kalau sudah insecure jadi tidak bersyukur lalu karena tidak bersyukur jadi benci sama diri sendiri kemudian karena benci sama diri sendiri, jadinya fokus sama kesalahan pribadi berlarut-larut dalam perasaan ini hingga ingin rasanya bunuh diri nauzubillah minzalik. 


Hidup sebagai manusia apalagi menjadi seorang muslim itu karunia yang begitu indah dari Allah SWT jadi, jangan kotori hidupmu dengan mindset self-loathing atau self-hate produk sekuler kapitalis. Sebagai Muslim sebenarnya hidup itu mau dibuat apa, diisi dengan apa dan meraih apa, itu sudah jelas sekali. Hidupnya muslim di dunia itu untuk beribadah seperti firman Allah dalam surat Az-Zariyat ayat 56, yaitu "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku". Makna ibadah itu adalah taat kepada Allah tunduk dan patuh kepada-Nya serta terikat dengan aturan agama yang disyariatkan-Nya.


Jadi, kehidupan muslim itu akan dibuat dan diisi beribadah kepada Allah. Muslim akan taat kepada hukum syara dalam semua aspek kehidupan. Seperti masalah aqidah, ibadah mahdhah, sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya akan terikat kepada aturan Allah. Standarnya adalah standar Allah, mereka akan berlomba-lomba dan fokus agar dirinya bisa terikat dengan hukum syara dan meraih ridha Allah. Ketika Allah ridha kita akan mendapatkan pahala, kalau Allah murka kita akan kena azab. Mindset ini yang mempengaruhi dan menjadi ruh dalam setiap perbuatan muslim. 


Jadi, tidak ada ceritanya muslim itu self-hate karena tidak bisa meraih hal-hal duniawi. Yang ada mereka akan membenci diri mereka sendiri kalau tidak sesuai dengan hukum syara karena mereka paham bahwa sejatinya hidupnya setiap muslim itu hanya untuk beribadah dan mengabdikan diri untuk kemuliaan Islam. Contohnya sangat banyak sekali. Misalnya, Abdullah Umi Maktum meski memiliki kekurangan fisik karena matanya buta akan tetapi, tidak menghalangi semangatnya untuk menjadi pasukan jihad Rasul, diperang Qadisiyah Beliau diizinkan Rasul untuk berperan sebagai pembawa panji pasukan berwarna hitam,. Beliaulah seorang buta pertama yang turut berperan dalam sejarah peperangan Islam. Atau kekurangan materi dan tidak memiliki back up keluarga seperti Abdullah bin Mas'ud, tidak menghalangi dirinya untuk membacakan ayat Al-Qur'an di tengah-tengah Quraisy. Beliau tidak takut untuk mendakwahkan Islam meski nyawa jadi taruhannya. 


Semuanya fokus berbuat untuk kemuliaan Islam. Lalu, supaya kita bisa mengikuti jejak mereka, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kalau sekarang kita itu hidup dalam sistem buatan manusia yang sekuler kapitalis. Supaya kita bisa hidup mulia seperti para pendahulu kita menjadikan solusi satu-satunya harus berjuang untuk mengembalikan sistem Islam itu lagi.


For your information, mereka bisa hebat-hebat seperti itu karena syariat Islam tidak hanya dipegang teguh sama personal tetapi juga negara. Ada negara yang menerapkan syariat Islam secara kafah, itu kunci keberhasilannya. Dan untuk berjuang yang seperti itu juga tidak bisa sendirian, melainkan harus berjamaah. Berjamaah yang seperti apa yang harus dipilih? Seperti yang diperintahkan dalam surat Ali Imran ayat 104 yaitu kelompok Islam ideologis.