Hilangnya Nurani Orang Tua, Kala Kekayaan Menjadi Tujuan


Oleh Miftahul Jannah

(Mahasiswa & Aktivis Dakwah)


Telah terjadi praktik pesugihan yang menganiaya anak kecil di tengah masyarakat Indonesia. Berdasarkan Wikipedia, Pesugihan adalah suatu cara untuk memperoleh kekayaan secara instan tanpa harus bekerja keras layaknya orang bekerja pada umumnya. Dalam prosesnya pesugihan adalah bentuk kerjasama perjanjian antara manusia sebagai pelaku pesugihan dengan makhluk gaib/jin/siluman.

Sebuah keluarga di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan tega melakukan perbuatan keji terhadap anak kandungnya. Tanpa rasa keberatan mereka mencungkil mata kanan putri kandung. Yang masih berusia enam tahun demi mendapatkan ilmu hitam. 

Memilukan, karena perbuatan itu tidak hanya dilakukan oleh kedua orang tuanya namun dibantu kakek, nenek dan paman korban. (Tribun-video.com, 4/9/2021).

Sebelumnya kakak korban Dandi Saputra (22) juga mengalami nasib serupa dan meninggal dunia pada 31 Agustus 2021. Tragis baru selesai pemakaman kakak korban, sang adik pun hampir meninggal di tangan orang tuanya.

Kapolres Gowa, AKBP Tri Goffaruddin mengatakan peristiwa penganiayaan terhadap AP terbongkar saat tetangga dan pamannya mendengar suara jeritan dari rumah korban. (News.okezone.com, 4/9/2021).

Dalam Islam pesugihan termasuk amalan yang menyekutukan Allah dan termasuk dalam dosa besar. Yang dapat membawa pelakunya masuk neraka.

Seperti yang diceritakan dalam hadis Rasulullah shalallahu'alayhi wasallam berikut ini.

Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban (memberikan sesaji) sesuatu untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah.” Ia pun menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.” Mereka mengatakan, “Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.” Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah, ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya, “Berkorbanlah.” Ia menjawab, “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla.” Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah, ia masuk surga." (HR. Ahmad).

Sebagai muslim, sangat penting untuk menjauhi perbuatan dosa besar tersebut apalagi sampai menjadikan buah hati sebagai korban. Anak adalah amanah yang diberikan oleh Allah Swt. untuk dijaga dan dirawat dengan baik serta penuh kasih sayang.

Dalam sistem kapitalis pekerjaan apa pun dapat dilakukan asal menguntungkan diri sendiri dan dengan gampangnya mengabaikan ajaran agama yang digunakan sebagai pedoman agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang.

Sudah semestinya kita kembali pada aturan Allah, yakni Islam yang sangat melarang masyarakat untuk melakukan ritual sesat demi kekuasaan dan harta. Allah Swt. memerintahkan kepada hamba-Nya untuk mencari rezeki dari jalan yang halal dan tidak merugikan orang lain.

"Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (QS. al-Baqarah: 22).

Wallahu a'lam bishshawab.