Hijrah Syariah Mewujudkan Indonesia Penuh Berkah


Oleh Lisa Az-Zahra 

(Aktivis Mahasiswa) 


Saat ini hijrah pada umat Islam sepatutnya tidak hanya pada perbaikan individu, tetapi diarahkan untuk harapan terwujudnya negeri baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. 

Rezim otokrasi dan partai-partai Islam yang berada di dunia Arab memiliki tantangan tak mudah yakni akui kesalahan lalu belajar memperbaiki diri atau menghadapi pembelotan. (Republika.com, 12/9/2021).

Apa yang diperlukan untuk prasyarat hijrah individu dan hijrah menuju perubahan bangsa?

Umat muslim di penjuru dunia akan segera memasuki tahun baru Islam 1443 Hijrah. Termasuk Indonesia, ghirah keislaman belakang semakin meningkat dalam menyambut pergantian tahun baru Islam. Hijrah juga dirayakan dengan mengadakan kegiatan perayaan seremonial seperti pawai dan tablig akbar biasa diadakan. Pada momentum pergantian tahun baru Hijrah ada secercah harapan dan sebuah keinginan dari segenap umat bahwa akan dapat memberikan kehidupan yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Namun begitu, hal yang sangat berarti untuk kita yaitu memetik makna sesungguhnya dari peristiwa hijrah Nabi saw. dan para sahabat kala itu, pada abad 14 silam dari Makkah ke Madinah.

Bagi seorang muslim yang bertobat kepada Allah Swt., hijrah merupakan suatu keharusan, dia harus bersungguh-sungguh menaati segala aturan-Nya dan meninggalkan kemaksiatan pribadi. Hal ini sebagaimana penjelasan Nabi saw. saat beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berhijrah (muhâjir) itu?” Lalu beliau menjawab atas pertanyaan sahabat, bahwasanya, dialah orang yang meninggalkan perkara yang telah Allah larang atas dirinya. (HR. Ahmad).

Hijrah batin ini, yaitu meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan, adalah perkara yang wajib bagi setiap muslim. Siapa saja yang mengharapkan rida Allah Swt. sudah sepantasnya meninggalkan kemungkaran menuju penghambaan kepada-Nya. Hijrah akan menjadikan pelaku meninggalkan maksiat seperti meninggalkan muamalah ribawi, budaya suap-menyuap, menipu, berbisnis barang yang haram semisal minuman keras, membuka aurat, membela LGBT, berbuat zalim terhadap sesama muslim, mempersekusi dakwah, dan lain-lain. Lalu beralih pada perilaku islami. Orang-orang yang hijrah menjadi rajin beribadah, mencari rezeki yang halal, menutup aurat, beramar makruf nahi mungkar, dan sebagainya. Allah Swt. mencintai orang-orang yang berhijrah. Karena pentingnya arti hijrah maka penetapan awal kalender Hijrah pun dimulai dari peristiwa hijrah tersebut.

Muhâsabah Hijrah

Sangat disayangkan, hijrah lahir ini justru belum terealisasi, bahkan tidak dipedulikan. Dan sekarang umat merasa puas hanya dengan perbaikan pribadi dan urusan ibadah mahdhah saja. Belum ada ikhtiar keras bahkan dibilang belum sama sekali untuk menyelamatkan agama dari fitnah. Padahal banyaknya tuduhan sudah dilontarkan pada agama ini dan orang-orang yang berusaha agar menegakkan ketaatan kepada-Nya. Tudingan radikalisme, anti-kebhinekaan, terpecahnya persatuan negeri, dan lain-lain terus diutarakan pada agama. Selain itu sangat menyedihkan ketika berbagai tindakan persekusi terus dilakukan jika mereka ingin menyelamatkan negeri dengan petunjuk agama Allah Swt. yang dilakukan kepada para mubalig dan ulama.

Hijrah terbaik adalah terus berjuang demi penegakan syariah Islam dan ajaran Khilafah Islam justru dianggap sebagai ajaran yang akan merusak negeri. Padahal syariah dan khilafah merupakan sebagai sebuah kewajiban oleh para ulama Ahlus Sunnah bagian integral dari Islam dan telah disepakati.