Fungsi Negara dalam Menjaga Agama

 


Oleh Maya Dhita E. P., ST

Pegiat Literasi


Wahai Tuhan kami (Allah Swt.) curahkanlah selalu sholawat dan salam selalu selama–lamanya dan abadi, kepada kekasih-Mu (Muhammad) yang terbaik diantara semua makhluk.


Apakah karena teringat tetangga yang tinggal di Dzi Salam, sehingga engkau cucurkan airmata bercampur darah yang mengalir di matamu.


Penggalan kasidah burdah, syair cinta untuk Rasulullah, membuat hati yang rindu akan berderai air mata. Rasa cinta kepada Rasulullah akan membuat pemiliknya marah dan tidak tinggal diam saat ada yang menghina beliau.


Begitu pula yang terjadi di negeri ini. Peristiwa penistaan agama, termasuk di dalamnya tentang penghinaan terhadap Rasulullah, terus berulang baik di media sosial maupun di sekitar kita. Pelaku seakan tidak punya rasa takut dan jera walau telah ada undang-undang yang mengaturnya. 


Sebutlah pasal 156 huruf a KUHP yang menyatakan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa yang dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalah-gunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia; b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.”


Rupanya hal ini tidak lepas dari bagaimana keseriusan pemerintah dalam merespon permasalahan penistaan agama. Saat undang-undang telah dibuat tetapi penerapannya seperti karet yang melentur menurut keinginan penguasa, maka aturan itu hanya akan menjadi hiasan hukum saja.


Subyektivitas hukum menjadi pemakluman saat hawa nafsu kekuasaan mengopinikan kebatilan dan menjadikannya putusan mutlak. Walaupun ketidakadilan jelas dipertontonkan, rakyat dipaksa menerima dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Tak hanya masalah peraturan perundangan, pendidikan juga berperan penting dalam membentuk karakter generasi yang kuat. Generasi yang kokoh sehingga lebih tahan goncangan dan kuat membendung gelombang budaya yang lahir dari paham sekulerisme dan liberalisme.


Tugas ini bukan semata tanggung jawab orang tua dan lingkungan sekitar saja. Negaralah yang bertanggung jawab mengatur sistem pendidikan dengan kurikulum yang tepat bagi siswa. Mulai dari usia dini hingga mahasiswa. 


Realitas penerapan kurikulum pendidikan sekuler membentuk generasi yang jauh dari agama. Sehingga muncullah berbagai pemikiran destruktif seperti penghinaan terhadap Rasulullah dan berbagai penistaan agama lainnya.


Pendidikan sekuler juga bertanggung jawab atas kerapuhan mental dan spiritual, mengkerdilkan kebangkitan pemikiran, serta menyuburkan pemikiran dangkal akan realitas dan visi masa depan. Hidup hanya mengejar pencapaian sebatas apa yang dunia ingin lihat. Euforia kesuksesan materi, ketenaran, kekuasaan, dan jabatan. 


Berbeda jika negara menerapkan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam. Kurikulum yang mengadopsi kesempurnaan aturan Ilahi sebagai poros pendidikan, mampu membentuk akidah yang kuat. Membangun generasi yang bergerak berdasarkan batasan syariat Islam dan konteks halal haram. Generasi dengan pemikiran yang cemerlang menjadi pondasi yang kuat bagi negara. 


Pemimpin yang lahir dari generasi ini akan mampu menjalankan fungsinya sebagai periayah rakyat, menjaga wilayah dan segala sesuatu yang ada di dalamnya, termasuk menjaga agama dari segala bentuk penistaan.


Betapa kuatnya negara yang mampu menerapkan syariat Islam dalam berkehidupan. Peraturan perundangan yang bersumber dari hukum syarak mampu bertindak tegas dalam menghadapi masalah penistaan agama. Lihatlah Khalifah Abdul Hamid II. Beliau memberikan perintah tegas kepada pemerintah Perancis agar membatalkan pementasan teater yang menghina Rasulullah, Muhammad Saw untuk kedua kalinya. Khalifah mengancam akan mengumumkan kepada seluruh umat manusia bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasulullah. Dan untuk itu beliau akan mengobarkan jihad akbar. Pemerintah Inggris pun ketakutan dan membatalkan pementasan teater tersebut.


Begitulah Islam, menjadikan negara sebagai pelindung bagi umat dari berbagai tindak penistaan agama dan penghinaan Rasulullah. Negara menjaga agama diantaranya melalui peraturan perundangan yang berasal dari hukum syarak dan penerapan kurikulum pendidikan Islam.


Wallahualam bissawab.