Cukupkah Vaksinasi Sebagai Solusi Pandemi?

 




Oleh Siti Aminatin Ayunah

Kontributor Media Lenteranyahati



“Amerika Serikat (AS) memberikan lebih dari 1 juta dosis vaksin Covid-19 dalam periode 24 jam hingga Sabtu tengah hari, menandai hari ketiga berturut-turut melampaui pencapaian,“ kata seorang pejabat Gedung Putih. (www.beritasatu.com)


Beritasatu.com juga menyampaikan bahwa otoritas AS telah memberikan 361.684.564 dosis vaksin Covid-19 di negara itu hingga Sabtu (21/08/2021) pagi. Seperti dilaporkan Reuters, pada hari yang sama, pengendalian dan pencegahan penyakit AS mengonfirmasi jumlah dosis vaksinasi itu dan sudah mendistribusikan 428.506.065 dosis.


Dilansir dari CNBC Indonesia, kasus infeksi Covid-19 di Amerika Serikat kian ganas, dengan lebih dari 100.000 orang tercatat dirawat di rumah sakit. Lonjakan ini dipicu oleh virus Corona varian Delta yang jauh lebih menular. Angka terbaru ini tercatat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan hari yang sama tahun lalu. Ketika vaksin tidak tersedia seperti sekarang.


Dr. Paul Offit, anggota komite penasihat vaksin Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS, mengatakan dengan ketersediaan vaksin yang memadai, lonjakan rawat inap saat ini terlihat tragis. Apalagi AS merupakan negara sumber vaksin. “ Angka sekarang ... sebenarnya dalam banyak hal lebih buruk daripada Agustus lalu,” kata Offit dikutip dari CNN International, Jumat (27/08/2021).


Melihat fakta tersebut, miris rasanya. Negara penyedia vaksin justru mengalami hal luar biasa buruk nan tragis dalam kasus Covid-19. Bahkan tidak disangka juga kurangnya fasilitas dapat terjadi di negera maju tersebut. Sebagaimana yang dikutip dari CNBC Indonesia ahli onkologi Florida Dr. Nitesh Paryani menyatakan bahwa, "Untuk pertama kalinya dalam 60 tahun sejarah keluarga saya mengobati kanker, kami harus menolak seseorang. Kami hanya tidak memiliki tempat tidur. Tidak ada ruang di rumah sakit untuk merawat pasien." (CNBC Indonesia)


Paryani mengatakan pasien harus menunggu 12 jam untuk mendapatkan tempat tidur dan ruang di gawat darurat Tampa. Terlihat jelas bahwa sesungguhnya penanganan pandemi tak hanya membutuhkan penguasa kapabel, namun juga perlu didampingi sistem yang mumpuni dan mampu bertahan ditengah pandemi apapun. Ketersediaan fasilitas kesehatan juga penting diperhatikan oleh negara karena merupakan hak dasar rakyat.


Gagalnya penanganan wabah seharusnya membangunkan kesadaran kita akan rapuhnya sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan saat ini. Bertolak belakang dengan Islam yang sangat memperhatikan masalah kesehatan dengan memberikan tuntunan mengenai upaya pemadaman wabah. Dalam beberapa hadis, Rasulullah memberikan gambaran bagaimana teknik memutus rantai penularan wabah.


Rasulullah memerintahkan untuk memisahkan antara orang yang sehat dari yang sakit sebagaimana sabda beliau, “Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit.” (HR Bukhari dan Muslim)


Mengenai karantina wilayah, Rasulullah juga bersabda kala wilayah Syam dilanda wabah. “Maka, apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari darinya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid)


Upaya yang dilakukan oleh negara memerlukan biaya yang bersumber dari baitul mal seperti tindakan Khalifah Umar bin al-Khaththab. Beliau mengalokasikan anggaran baitul mal untuk mengatasi wabah penyakit lepra di Syam. Oleh karena itu, negaralah yang bertanggung jawab terhadap kesehatan dan pengobatan rakyat dengan menghadirkan fasilitas unggul dalam penanganan wabah. Hal ini dapat dicapai jika sistemnya baik yaitu aturan yang bersumber dari Allah Swt. Tuntunan dari Sang Pencipta dalam menangani wabah sudah sangat jelas dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Maka mengapa kita tidak  bersegera untuk meneladaninya dan menerapkannya? Wallaahu a'lam bishshawaab.


Wallahua'lam bi ash-shawab.