Cabai Murah, Siapa Dapat Berkah?


Oleh Verawati, S.Pd

(Pegiat Opini Islam)


"Antara senang dan sedih saat harga cabai turun, senang karena bisa mengurangi ongkos produksi rumahan saya. Sedih, kasian sama para petani". Begitu salah satu komentar ibu-ibu di grup WA. Viral pula video petani yang merusak tanaman mereka. Bahkan ada yang sampai membakar supaya lebih cepat menanam tanaman lain, karena ongkos memanen cabai lebih mahal dibanding harga cabainya sendiri.

Fakta ini bukanlah yang pertama kali, beberapa komoditi yang lain pun mengalami anjlok harga. Seperti beberapa waktu yang lalu para petani buah naga membuang buah tersebut ke jalanan. Saat ini pun beberapa sayuran seperti terong, kembang kol dan lainnya tengah mengalami penurunan harga. Anjloknya harga cabai terjadi karena sepinya pasar yang disebabkan diberlakukannya PPKM dan juga saat ini petani sedang panen raya. Ironisnya lagi adanya impor cabai dari berbagai negara. Pemerintah tak lagi mampu menolak, Sebab sudah adanya perjanjian perdagangan dengan negara luar.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh pusat studi ekonomi kerakyatan pada bulan Januari-Juni 2021 ini, Indonesia melakukan impor cabai yang mencapai 27.851,98 ton atau senilai Rp8,58 triliun. Adapun India sebagai pemasok paling besar. (Ayoyogya.com, 29/08/2021).

Inilah fakta “pedas” yang harus dirasakan oleh para petani akibat anjloknya harga cabai. Ditambah lagi beban hidup yang kian berat terutama di masa Covid-19. Lagi dan lagi ini menunjukkan betapa lemahnya peran negara dalam melindungi rakyatnya dalam hal ini para petani. Menurut peneliti pusat studi ekonomi kerakyatan asal Yogyakarta Hempari Suyatna, "Negara sebenarnya bisa memfasilitasi pengembangan industri olahan cabai dan juga membangun sistem atau teknologi penyimpanan cabai agar tahan lama tetapi tidak pernah dilakukan." Hempari kemudian menambahkan problem utama pemerintah yakni tidak pernah serius membangun kedaulatan pangan di negara sendiri.

Dari fakta-fakta di atas, ada banyak problem terkait dengan urusan pengaturan dan perlindungan pemerintah terhadap rakyat khususnya dalam hal ini para petani. Pertama, terkait dengan pengurusan terhadap para petani, mulai dari kemudahan pupuk, benih dan lain sebagainya. Kedua, distribusi hasil pangan. Ketiga, terkait penentuan harga komoditi. Keempat, terkait regulasi impor dan yang kelima yaitu industri pertanian yang masih jauh dari kebutuhan. 

Ketika pemerintah benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pelayan masyarakat, maka seharusnya mampu mengatasi berbagai persoalan pertanian tersebut. Apa agraris. Sehingga ketika ini dijalankan tidak perlu lagi mengimpor cabai dari luar. Kemudian negara juga menyiapkan sejumlah teknologi yang mumpuni yang dibutuhkan seperti mesin-mesin yang dibutuhkan untuk mengawetkan cabai sedang panen raya. Jika hal ini dilakukan harga di pasaran pun akan stabil. 

Selain itu, pemerintah juga seharusnya mengayomi konsumen dengan mengupayakan harga cabai bisa dijangkau oleh masyarakat. Hal ini terkait dengan distribusi. Pemerintah seharusnya memperhatikan lumbung-lumbung cabai, supaya jarakan antara produsen dan konsumen tidak terlalu jauh. Harus melintasi berbagai provinsi. Selain itu juga adanya distribusi kekayaan terhadap masyarakat supaya masyarakat mampu membeli. Distribusi kekayaan ini tidak cukup hanya dengan bantuan tunai langsung. Akan tetapi salah satunya adalah bagaimana para suami atau lak-laki yang masih kuat untuk bisa bekerja dengan gaji yang layak. Maka hal ini pemerintah menyediakan lapangan kerja untuk masyarakatnya.

Begitu pun dengan masalah harga cabai sendiri. Seharusnya harga bisa ditentukan dengan kesepakatan penjual dan pembeli. Akan tetapi hari ini, para petani tidak memiliki posisi tawar. Sebab penentuan harga dikuasai oleh para cukong atau tengkulak. Lantas siapa yang menuai berkah saat cabai murah? Tidak lain adalah para cukong dan tengkulak.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan persoalan harga cabai sebenarnya tidak terlalu murah di pasaran. Hanya saja, para petani menjual hasil cabai kepada para tengkulak dengan harga yang sangat murah. (Bisnis.com, 19/01/2019).

Inilah sejumlah persoalan yang disebabkan sistem kehidupan yang tengah diterapkan saat ini yaitu sistem kapitalisme. Sistem ini memberlakukan adanya pasar bebas dan menihilkan peran dari penguasa dalam mengurus rakyatnya.

Berbeda dengan sistem Islam. Penguasa dalam sistem Islam diibaratkan sebagai penggembala. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw., “Seorang imam adalah pemimpin (penggembala) dan akan dimintai pertanggungjawabannya.”(HR. Bukhari).

Hadis di atas menggambarkan bahwa penguasa dalam Islam tugasnya adalah melindungi dan menjaga rakyatnya. Mengurus rakyat ibarat seperti seorang penggembala, tak rela gembalanya kelaparan atau kesulitan. Negara akan mengusahakan terwujudnya kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Tidak memandang petani atau pengusaha, miskin maupun kaya. Semuanya akan mendapatkan pelayanan yang sama. Sebab, sistem Islam hanya menerapkan hukum-hukum Islam yang adil yang datang dari Sang Pencipta manusia.

Wallahu a'lam bishshawab.