Bahasa Arab, Bahasa Qur'an, Bukan Bahasa Radikal


Oleh Lilis Lina Nastuti

Ummu Bagja Mekalhaq


Dilansir oleh Faktakini.info (8/9/2021), Pakar militer dan Intelejen Susaningtyas, menuding banyak sekolah yang tersebar di  Indonesia berkiblat ke Taliban, yang ia klaim sebagai organisasi radikal. 

Pasca kemenangan Taliban atas perang militer melawan AS selama kurun waktu 20 tahun lamanya, dan dunia mengetahui bahwa Taliban sebagai pemenangnya.

Atas kemenangan tersebut, banyak orang yang tidak suka terutama AS dan konco-konconya.

Banyak pula para pembenci Islam tidak tinggal diam, setelah Taliban menang, mereka menyiapkan ide-ide busuk, mencari cara untuk mematahkan  semangat Taliban dalam meneguhkan syariat Islam.

Sebenarnya yang diinginkan Taliban hanya ingin hidup aman, termasuk para perempuan dalam kondisi aman, dan untuk mendapatkan keamanan tersebut, para pemimpin Taliban berusaha melindungi kaum perempuan dengan larangan jangan keluar rumah, karena Taliban dalam kondisi perang, maka para perempuan dilarang sekolah dan bekerja di luar rumah atau berkarir. 

Setelah Taliban menang, para musuh Islam tidak rela atas kemenangan Taliban tersebut, mereka terus memata-matai muslim dengan cara memberikan framing buruk dan tendesius. Seperti tudingan terhadap kaum perempuan yang terkungkung terikat dengan aturan Islam, hingga keluar rumah pun tidak diperbolehkan, akhirnya framing buruk dimainkan. 

Hal ini terjadi disebabkan ketidaksukaan mereka terhadap syariat Islam.

Terutama kekhawatiran bangkitnya Islam, yang akan dialami oleh Taliban pasca kemenangan perang militer tersebut. 

Kemudian para musuh Islam mencari cara agar Islam tetap ditakuti oleh pemeluknya, agar Islam menjadi monster menakutkan.

Tak terkecuali, selepas kemenangan Taliban, Indonesia pun mengutus pakar militer dan intelejen ke Taliban dengan tujuan ingin mengetahui kondisi Taliban paska perang tersebut.

Sepulang dari Taliban, tudingan itu muncul, yaitu Susaningtyas melontarkan framing buruk, bahwa Indonesia perlu waspada terhadap efek kemenangan Taliban, karena banyak sekolah di Indonesia yang berkiblat ke Taliban, dengan cirinya, banyak para murid dan guru yang tidak hormat kepada bendera, tidak hapal para menteri, tidak tahu parpol bahkan tudingan sangat melukai hati umat Islam yakni bahasa Arab sebagai salah satu ciri radikal dan teroris. 

Bagaimana sikap kita terhadap framing tersebut? 

Yang jelas, wajib menolaknya. Karena tudingan tersebut tidak sesuai fakta. 

Adalah suatu kezaliman yang besar jika narasi bahasa Arab disebut bahasa radikal dan salah satu bahasa teroris. 

Padahal bahasa Arab adalah bahasanya umat Islam, dipraktikkan oleh umat Islam sedunia.

Saat beribadah haji dan umrah pasti sedikit atau banyak harus bisa berbahasa Arab.

Bahasa Arab pun sebagai bahasa internasional di PBB, dengan urutan ke lima, bahasa Arab digunakan para pelaku bisnis sedunia. 

Begitupun para ulama terdahulu sangat menguasai bahasa Arab. 

Harus diketahui pula, banyak para pahlawan memiliki kecerdasan menguasai bahasa Arab.  seperti, H. Hasyim Asyari, H. Agus Salim, dan lain-lain. 

Perlu diketahui, keunggulan bahasa Arab  dijaga pelestariannya dalam Qur'an dan hadis. 

Lihat Qur'an Surat Yusuf ayat 2, yang artinya:

"Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Qur'an berbahasa Arab, agar kamu mengerti." (QS. Yusuf: 2). 

Kemudian dalam hadis sahih, dari Ibnu Abbas Radiallahu anhu, Rasulullah saw. bersabda: "Cintailah bahasa Arab karena tiga, 

1. Karena aku (Rasulullah) dari bangsa Arab, 

2. Karena Qur'an, berbahasa Arab,

3. Bahasa penduduk surga." (HR. At-Thabrani, Al Hakim). 

Inilah bukti kekuatan bahasa Arab yang harus dilestarikan kembali dalam penggunaannya. Karena sudah sejak dulu memang bahasa Arab memiliki nilai sastra yang tinggi.

Kita harus menyadari, begitu banyak bahasa serapan yang sehari-hari kita gunakan, berasal dari bahasa Arab, seperti kata nikah, haji, umrah, shaum Ramadan, 

Majelis, salat, zakat, ahad, kasab/usaha, fakir, miskin, agniya orang kaya, dan masih banyak lagi, tidak akan cukup jika ditulis satu per satu di sini. 

Karena begitu banyak bahasa serapan yang berasal dari bahasa Arab hingga mencapai 2.000 sampai 3.000 kata. 

Nah, penting sekali bukan? Kita paham bahasa Arab? Karena bahasa Arab merupakan bagian dari Islam. 

Umat Islam akan lebih memahami Islam saat menguasai bahasa Arab, karena kebanyakan kitab-kitab yang dikaji berbahasa Arab. 

Akhirnya kita tahu bahwa bahasa Arab itu keren, bukan ciri radikal. 

Mari bersama menguasai bahasa Arab, agar bertambah cerdas dan makin bertambah wawasan keislaman kita saat menguasai bahasa Arab. 

Dengan bahasa Arab, kita bisa memahami kandungan Al-Qur'an. 

Dengan bahasa Arab, kita paham dan mengerti teks-teks bertuliskan bahasa Arab. 

Hanya dalam bahasa Arab kita temukan bahasa tersempurna. Bahasa Arab memiliki wazan atau timbangan yang bisa mengandung arti dan makna yang jelas ketika kita menguasai ilmu balaghah atau ilmu sastra dalam dalam bahasa Arab. 

Bahasa Arab bahasa yang paling mudah dipahami, asal mau mempelajari ilmu nahwu, dan ilmu tashrif. 

Satu huruf dipalingkan kepada huruf lainnya, maksudnya memiliki arti yang berbeda. Contohnya: Nashara, Yanshuru, dan seterusnya.

Ah, begitu gregetnya saya, kalian siapa pun orangnya yakin ingin menguasai bahasa Arab, karena ia bahasa surga. 

Ayo, mau alasan apa lagi, dengan penjelasan ini, bahwa bahasa Arab, bahasa Qur'an, bukan bahasa Radikal.

Wallahu a'lam bishshawab.