Arus Deras Liberalisme, Mengikis Rasa Malu


Oleh Suhartini, M.Kom


Hilangnya Rasa Malu

Gelombang arus modernisasi melanda dunia, termasuk juga kaum muslim dan muslimah khususnya. Modernisasi mencakup suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi sosial ke arah pola-pola ekonomis dan politis yang menjadi negara-negara barat yang stabil. [Wilbert, E., Moore].

Gelombang modernisasi yang terbesar saat ini adalah teknologi, dimana dalam teknologi tersebut menghasilkan banyak sekali fitur-fitur yang memanjakan bagi penggunanya. Kemajuan teknologi memiliki dampak negatif dan positif. Yang perlu kita waspadai adalah dampak negatifnya, karena di dalam fitur-fitur tersebut dapat merubah hidup seseorang atau bahkan akan mengancam kehidupan seseorang.

Demam tik-tok salah satu fitur yang digemari oleh masyarakat khususnya muslimah, dengan aplikasi tersebut tanpa disadari sudah mengikis atau bahkan menghilangkan rasa malu mereka. Mereka kehilangan rasa malu dengan berani memperlihatkan aurat mereka kepada yang bukan mahramnya. Dan ini sangat berbahaya bagi keimanan seorang muslim khususnya muslimah.

Dampak negatif yang terjadi akibat arus modernisasi tersebut dapat kita lihat di berbagai pemberitaan di berbagai media. Seperti beberapa berita yang sudah terjadi akhir-akhir ini:

Pria di Prabumulih, Sumatera Selatan (Sumsel), Ripet (42), ditangkap polisi karena diduga membunuh pria bernama Aprio (34) yang menjadi selingkuhan istrinya. Ripet disebut mengaku kesal karena Aprio berulang kali kepergok berselingkuh dengan istrinya. "Hasil pemeriksaan sudah berulang kali perselingkuhan ini diketahui suaminya. Sudah 3 kali lebih kepergok istri pelaku dengan korban," kata Kasat Reskrim Polres Prabumulih, AKP Rahman, Kamis (226/11/2020). (news.detik.com)

Polres Lombok Tengah mendalami kasus video porno yang viral di media sosial beberapa hari terakhir. Video itu merupakan rekaman panggilan video antara perempuan dan laki-laki. Kasatreskrim Polres Lombok Tengah AKP I Putu Agus Indra Permana mengatakan, polisi telah mengamankan seorang wanita berinisial DN dan laki-laki berinisial P (16) yang diduga menyebarkan video tersebut. (Kompas.com).

Fenomana tersebut tidak lain buah dari sistem liberal, kapitalis dan bebas, dimana agama dipisahkan dari kehidupan. Sehingga kehidupan dijalani dengan sebebas-bebasnya, karena aturan yang dipakai bukan aturan yang datang dari Allah. Sangat mungkin sekali di sebuah negara yang mayoritas Islam justru kaum perempuannya sudah kehilangan identitasnya sebagai muslimah, dimana mereka sudah tidak memiliki lagi rasa malu. Mereka dengan bangga mengumbar aurat meraka dengan alasan emansipasi wanita, sehingga dengan gampang mereka menjadi objek eksploitasi, korban penjahat seks, peselingkuhan dan masih banyak lagi.

Kejadian-kejadian di atas sudah seringkali terjadi di lingkungan kita, bahkan cenderung meningkat. Namun tidak ada satu pun dari para pelaku mendapatkan hukum yang berat. Kondisi ini terus berulang karena lemahnya hukum atau tidak adanya hukum yang bisa menjerat para pelaku tersebut, karena hukum yang kita pakai adalah hasil pemikiran manusia bukan dari Allah. Ini terjadi akibat pemisahan agama dari kehidupan oleh negara yang menganut paham liberal.

Rasa Malu dalam Islam

Malu adalah sifat yang terpuji dan merupakan akhlak yang mulia, sifat malu merupakan benteng dari melakukan perbuatan-perbuatan buruk, jika rasa malu telah hilang pada seseorang, maka berbagai keburukan akan ia lakukan, seperti membunuh, zina, durhaka pada kedua orang tua dan lain-lain. Sebagaimana pada zaman sekarang betapa banyak manusia dengan tidak ada rasa malu melakukan kemaksiatan, seakan perbuatan tersebut bukan dosa, bahkan menjadi sebuah kebiasaan atau adat.

Keutamaan-keutamaan Sifat Malu:

Malu merupakan salah satu dari Sifat Allah Azza wa Jalla Yang Mulia sebagaimana yang terdapat dalam hadis sahih, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Rabb kalian Tabaraka wa Ta’ala Mahamalu dan Mahadermawan, Dia malu terhadap hamba-Nya yang menadahkan tangan kepada-Nya lalu tangan itu kembali turun hampa (tidak dikabulkan doanya)." HR. Abu Dawud dinyatakan Sahih oleh Al Albani. Kita menetapkannya (Sifat Malu) sebagaimana Sifat-sifat Allah yang lain.

Malu merupakan sunnah para Nabi dan Rasul. Dalam Asshohihain dari Abu Sa’id Al Khudry-semoga Allah meridainya- bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi wasallam lebih tinggi sifat malunya daripada seorang gadis pingitan yang bersembunyi dalam kamarnya.

Malu merupakan bagian dari keimanan sebagaimana dalam asshohihain dari hadis ibnu umar -semoga Allah meridainya- dia mengatakan “Rasulullah Shallallaahu‘Alaihi wasallam melewati seorang anshor yg sedang menasehati saudaranya tentang sifat malu sehingga seakan-akan dia berkata “malu itu membahayakanmu” maka Rasulullah Shallallaahu‘alaihi wasallam bersabda:

دعه  فان الحياء من الايمان

"Biarkanlah dia sesungguhnya sifat malu itu bagian dari keimanan." (HR. Bukhari/24).

Malu adalah suatu perangai yang menghasilkan sikap terpuji dan pengaruh yang baik, dalam sebuah hadis Nabi Shallallaahu’alaihi wasallam pernah bersabda: “Malu tidaklah membawa kecuali kebaikan.“ (takhrij di atas).

Sifat malu mengajak kepada ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. (https://muslimah.or.id/8705-sifat-malu-dan-keutamaannya.html).

Dalam sistem negara khilafah sangat berbeda dengan penerapan syariah secara kafah, dapat mencegah kerusakan yang diakibatkan oleh perbuatan manusia, termasuk persoalan rasa malu terkhusus kaum perempuan. Islam sangat melindungi kehormatan perempuan dan anak-anak. Dan menetapkan sanksi yang sangat berat bagi pelaku maksiat. Hukuman bagi pelaku maksiat di antaranya adalah hukum cambuk/dera sampai dengan rajam dan tanpa pandang bulu siapa pelaku maksiat tersebut. Dengan penerapan hukum tersebut tentunya akan membuat para pelaku maksiat jera untuk berbuat maksiat. Demikian kesempurnaan Islam memadukan unsur penjagaan kehormatan dan keamanan perempuan tanpa mengurangi hak dan kewajibannya.

Maka dari itu, perlunya kita sebagai muslimah menjaga rasa malu seperti yang sudah Rasulullah sampaikan kepada umat sebelum kita. Saatnya kita menjadi muslimah yang melaksanakan perintah dan larangan Allah, serta mencontoh dan meneladani sifat-sifat baik dari Nabi Kita Muhammad saw. dengan selalu menjalankan syariat Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan baik dalam urusan individu, masyarakat, maupun negara. Karena hanya sistem Islam yang datang dari Allah Swt., zat yang Mahasempurna dan Mahabenar dalam naungan khilafahlah yang akan memberikan kesejahteraan dan rahmatan lil alamin akan tercipta. Sudah waktunya untuk kembali pada sistem aturan Islam yang akan membawa keberkahan dan kemuliaan dirasakan baik muslim maupun nonmuslim. 

Wallahu a’lam bishshawab.