Agama (Islam) tidak akan Punya Tempat dalam Rezim Sekuler

 


Oleh : Zulhilda Nurwulan 

(Relawan Opini Kendari)


Kembali, Islam lagi-lagi dinistakan oleh musuh Allah, seorang murtadin sekaligus yutuber bernama Muhammad Kece, yang melecehkan Rasulullah Saw. Kejadian ini memicu gejolak di tengah masyarakat. Dilansir dari iNews.id, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas meminta polisi segera menangkap YouTuber Muhammad Kece. Menurutnya kejadian ini telah mengganggu kerukunan beragama. Ketua PP Muhammadiyah ini menilai perbuatan Kece tidak etis dan memancing kemarahan umat Islam. Sebab ucapan Kece, menurut dia merendahkan dan menghina Allah SWT, Alquran dan Nabi Muhammad SAW.

 

Pemandangan yang sangat berbeda ditemukan di salah satu daerah di Inggris, seorang wanita Katolik bahkan mengakui bahwasannya Rasulullah Saw adalah sosok yang sangat mulia sembari menuturkan dia untuk beliau bahkan Ia pun meneteskan air mata ketika mendengar nama kekasih Allah Swt itu disebut. Bukankah hal ini aneh bagi seorang yang pernah mengenal Rasulullah Saw sebagai junjungannya?


Penistaan terhadap agama (Islam) baik dari ajaran hingga simbol-simbolnya seolah perkara yang lazim terjadi pada rezim sekuler. Bukan suatu keanehan jika Islam selalu menjadi target mainan bahkan olok-olokan bagi para penista agama tersebab lemahnya hukuman terkait kasus penistaan agama sejenis ini. Bahkan, penanganan kasusnya pun terkesan terabaikan atau malah terlupakan. Kejadian ini tentu berbalik jika pelakunya adalah muslim terlebih aktivis muslim. Dalam hitungan detik, aparat rezim akan segera menangkap dan mengkriminalisasi pelaku yang diduga merugikan rezim dan pemerintahan. 


*_Abainya Negara dalam Menangani Penistaan Agama_*


Fenomena berulang terkait penistaan agama tampaknya bukan berita yang menarik dikalangan elit pemerintah. Euforia kemenangan atlit nasional di laga pertandingan dunia atau bahkan pernikahan mewah selebriti lebih menguntungkan dan bernilai nominal sehingga menjadi buah bibir bukan hanya kaum jelata bahkan hingga ke kursi istana. Media seolah bungkam soal penistaan agama yang terus berulang. Kedudukan media sebagai pemegang kendali informasi tidak mampu menjerat para pelaku penistaan agama didasarkan dengan dalih kebebasan berpendapat dan berekspresi. Akan tetapi, mengapa mudah bagi umat Islam terjerat UU ITE?


Sejak era reformasi, umat muslim memang sudah mendapat tekanan dari kalangan pemerintah sekalipun tidak serepresif rezim hari ini. Hak membuat dan mengeluarkan UU oleh pemerintah dijadikan senjata jitu melawan masyarakat yang ngeyel dengan kebijkan pemerintah, khususnya para aktivis muslim. Sedangkan, menindak para penista agama akan berujung pada pelanggaran HAM. Sehingga, penistaan agama akan terus berulang tersebab jika diberi sanksi maka akan salah dan tidak diberi sanksi maka akan berbuat mkain salah.


Berakarnya kasus penistaan agama adalah bukti nyata abainya peran negara dalam melindungi kemuliaan agama. Kedudukan negara sebagai pelindung dan pengayom nyatanya tidak memberi sumbangsih yang cukup dalam menjaga kemuliaan agama. Seringnya ajaran agama (Islam) dinodai, simbol-simbolnya dilecehkan adalah bukti konkret jika Islam memang tidak memiliki tempat dalam sistem sekuler. Bahkan, agama (Islam) dijadikan musuh bagi para kaum sekulerisme yang bergantung hidup pada sistem kapitalis, karena agama dianggap sebagai candu hingga bisa memabukkan. Hal inilah yang menjadi ketakutan para sekulerisme jika saja seluruh masyarakat memahami kedudukan penting agama dalam urusan mengatur negara.

 

*_Islam Agama Mulia dan Dimuliakan_*


"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bag waimu." QS. Al-Maidah (3)


Sebagai agama yang muncul paling akhir hadirnya Islam ialah untuk menasakh (menghapuskan) agama-agama terdahulu. Sebagaimana yang diuraikan dalam firman Allah pada QS. Al-Maidah tadi sangat jelas jika tidak ada agama yang diridhai Allah Swt kecuali Islam.


Disamping memuliakan Islam, Allah pun memuliakan Rasulullah Saw sebagaimana dalam firman-Nya:

"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)”.


Dalam ayat tersebut di atas, Allah Ta’ala mewajibkan untuk mengagungkan dan memuliakan Nabi SAW dan menetapkan kepada umatnya agar memuliakan dan mengagungkan Nabi SAW. Sehingga, ada hukuman yang sangat pedih jika seorang manusia mengejek Rasulullah Saw.


Mengutip dari artikel Islami.co, menceritakan tentang seorang yang menghina nabi di era kepemimpinan Rasulullah. Dikisahkan seorang pembesar Bani Umayyah bernama Al Hakam bin Abi Al-Ash meniru gaya berjalan Nabi Muhammad Saw. Aksi tersebut diketahui oleh Rasulullah Saw. Rasulullah langsung mendoakan agar cara berjalannya yang mengejek dan merendahkan itu terus ia lakukan hingga mati. Akhirnya, ia menerima akibat dari doa Rasulullah.


Inilah bukti bahwa Islam merupakan agama yang mulia dan wajib bagi umat Islam menjaga kemuliaannya. Sehingga, jika ada seorang manusia yang mencoba untuk menjelekkan Islam beserta simbol dan ajarannya maka wajib orang tersebut diperangi.

 Wallahu'alam biisowwab