Wujudkan The Indonesian Dream dengan Totalitas Hijrah

 


Oleh Yuliyati Sambas

Pegiat Literasi Komunitas Penulis Bela Islam AMK


Momen Muharam tahun ini mengingatkan kepada umat bahwa semangat hijrah dalam beragam dimensi akan mengahantarkan pada tercapainya harapan kebaikan negeri. Terlebih bertepatan dengan bulan kelahiran Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secercah harapan tentu dibutuhkan agar umat manusia wa bil khusus rakyat negeri ini dapat tegak berdiri menyongsongsongnya. Sementara, sebagaimana dilihat dari fakta yang terjadi beberapa tahun belakangan, negeri Indonesia tercinta senantiasa dirundung duka. Beragam problematika muncul satu per satu memerihkan rasa. Lebih-lebih ketika negeri ini, bahkan dunia secara umum dilanda wabah Covid-19 yang berhasil memorakporandakan semua sektor kehidupan.


Di tengah kondisi penuh duka itu, Anggota Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Sukidi Mulyadi mengungkapkan gagasan The Indonesian Dream dalam Podcast SMTv pada 10 Agustus 2021 lalu. Ia menyatakan antara keindonesiaan dan keislaman ibarat dua sisi mata uang yang menyatu, namun butuh usaha penyajian yang segar dan damai di tengah masyarakat. The Indonesian Dream ia rumuskan dalam 10 hal: kebhinekaan, negara berketuhanan, gotong royong, kebebasan, kemanusiaan, persatuan, keadilan, kesetaraan, kesejahteraan, serta negara berdaulat, maju, adil, dan makmur. (https://siapgrak.com/artikel/N00qO1)


Sementara, apa yang diungkap oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa bisa menjadi gambaran betapa Indonesia berada di satu titik buruk dalam kehidupan, salah satunya dalam urusan ekonomi. Kategori  negara berpendapatan menengah (middle income) yang disandang Indonesia ia ungkap hanya dapat dilepaskan jika pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen. Ia yakin bahwa dengannya Indonesia akan menjadi negara maju pada tahun 2045. Terhitung sejak 1998, Indonesia tak pernah berada di kondisi trajectory (tren) pertumbuhan ekonomi tanpa krisis karena posisinya yang tak pernah bergeser dari angka 5 persen. (CNN Indonesia, 4/8/2021)


Selama 76 tahun Indonesia dilimpahkan Karunia Illahi yang luar biasa kaya. Hamparan bumi bergelar zamrud khatulistiwa membentang demikian luasnya, lautan dengan beragam kekayaan di dalamnya mustahil tak mampu memberi penghidupan layak bagi rakyat yang mendiaminya. Ragam potensi hayati di negeri ini pun jika dikelola dengan adil dan benar sudah pasti akan menyejahterakan. Namun mengapa duka senantiasa menyapa negeri. Anak-anak bangsa makin banyak yang tak mampu makan, angka kelaparan kian mengkhawatirkan. Data The Global Hunger Index menempatkan Indonesia di posisi ke-130 dari 197 negara dengan tingkat kelaparan serius (newsdetik.com, 30/7/2020).


Kedaulatan bangsa kian dikangkangi oleh negara asing yang hanya inginkan raup kekayaan negeri ini. Salah satunya dengan jerat utang ribawi yang makin membengkak. Dimana tentu kian tak berkah ketika konon dipergunakan untuk mengurusi negeri. Posisi utang pemerintah saat ini tembus Rp6.554 triliun (merdeka.com, 24/7/2021). Bahkan lebih ngeri ketika pemerintah masih berencana menambahnya senilai Rp515,1 triliun di saat ketidakpastian ekonomi melanda negeri (pikiranrakyat.com, 10/8/2021).


Semua itu tentu wajib disadari adalah buah dari diterapkannya sistem kapitalisme sekuler yang liberal. Kekayaan alam sebanyak apapaun tak akan mampu terdistribusi dengan adil bagi seluruh penduduk negeri jika sistem dengan tabiat serakah tersebut masih digunakan. Harta melimpah akan berputar hanya di segelintir orang (oligarki). Selanjutnya oligarki akan mengitari para penguasa mengendalikan arah kebijakan negeri. Dimana tentu hanya akan menjadikan posisi mereka sendiri (para pemilik kapital dan penguasa) makin kuat. Sementara rakyat banyak dipersilakan berjuang memperebutkan remah-remah kekayaan bumi pertiwi bagi kehidupannya.   


Bagaimana menyelesaikannya? Benarkah gagasan The Indonesian Dream dapat terwujud jika negeri ini masih berkutat dengan sistem kapitalisme hasil cipta karya manusia? 


Totalitas Hijrah Wujudkan Harapan Indonesia


Sesungguhnya terdapat panduan komprehensif dalam perkara perubahan kondisi ke arah yang lebih baik. Ia diistilahkan dengan hijrah. Semangat hijrah yang dibawa dalam momen 1 Muharam pada umat Islam sepatutnya tidak berhenti pada perbaikan individu. Lebih lanjut butuh diarahkan untuk mewujudkan harapan terbentuknya baldatun thayyibah wa rabbun ghafur (negeri dambaan yang baik dan diatur oleh Zat yang Maha Pengampun).


Terdapat prasyarat hijrah individu maupun hijrah menuju perubahan bangsa, akan sempurna ke arah yang baik dan sesuai dambaan. Hal itu terangkum dalam Firman Allah,


“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (TQS An-Nur ayat 55)


Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa janji Allah Swt. telah diberikan sebelum Rasullah saw. wafat. Seluruh Jazirah Arab, Yaman juga orang-orang Majusi Hajar dan penduduk pinggiran negeri Syam kala itu takluk di bawah pemerintahan Islam. Sepeninggal Beliau saw. kekuasaan Islam lebih meluas hingga sebagian negeri Persia, Syam dan Mesir. Berikutnya disusul dengan tak kalah gemilangnya ketika dipimpin oleh khalifah-khalifah sesudahnya. Hingga di masa pemerintahan Bani Utsmaniyah kekuasaan Islam makin meluas sampai ke belahan timur dan barat terdalam.    


Di masa yang sangat panjang itu umat manusia, baik muslim maupun nonmuslim, semua mendapat pengurusan terbaik dari penguasa yang memberlakukan syariat Islam kaffah (sempurna). Aturan Islam yang diterapkan menaungi seluruh rakyat dengan adilnya. Tak ada istilah si kaya menghimpit si miskin, si kuat menekan si lemah. Semua diurus, hingga keamanan dan kesejahteraan meliputi seluruh penjuru negeri. Syaratnya adalah mereka semua baik penguasa maupun rakyat biasa tunduk dan bersama menjalani ketaatan hanya pada aturan Allah semata dalam semua urusannya.


Maka jika hari ini ada harapan untuk perubahan bangsa ke arah yang makin baik, maka hijrahlah. Hijrah dalam arti totalitas taat dan tunduk akan aturan-Nya. Hijrah baik secara individu hingga bernegara, dengan menerapkan syariat-Nya yang kaffah. Niscaya The Indonesian Dream pun bukan hanya mimpi melainkan, bi iznillah (dengan izin Allah), akan menjadi harapan yang dapat teraih gemilang. 


Wallahu a'lam bi ash-shawwab.