Wacana Teroris Saat Pandemi, Miris


 

Oleh:

Dra. Rivanti Muslimawaty, M. Ag.

Dosen di Bandung


Pada hari Ahad, 15/8/21, Tim Detasemen Khusus atau Densus 88 Antiteror Polri menggeledah sebuah rumah toko (ruko) di Gading Tutuka I, RT 03/RW 17, Desa Cingcin, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, sekitar pukul 10.00 WIB hingga sore. Penggeledahan dilakukan sebagai pengembangan dan pengungkapan kasus terduga jaringan teroris di wilayah Jawa Barat. Sejumlah barang diamankan setelah penggeledahan, di antaranya 1.540 buah celengan kotak amal Syam, 3.400 buah buku Journey to Aqsa, 210 buah syal logo Syam, 2.000 buah amplop dengan logo Syam, 50 buah pin logo Syam, 94 buah stiker logo Syam, kuitansi penerima donasi, 7 dus sumbangan Galang Dana, 3 bendera Syam, 1 bendera Palestina, dan barang bukti lainnya. (TimesIndonesia, 

15/8/21)


Sejak tahun 2019 Polri menduga penggalangan dana yang dilakukan terafiliasi dengan kelompok Jama'ah Islamiyah (JI) yang diidentikkan sebagai kelompok teroris. Pada tahun 2019, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyatakan, kelompok teroris Jamaah Islamiyah  mengumpulkan uang operasional kegiatan lewat modus donasi kemanusiaan, yang biasanya aktif di media sosial. Menurut Dedi, Densus 88 Antiteror Polri telah menemukan sejumlah lembaga kemanusiaan bodong tersebut. Penyidik masih mempetakan antara lembaga pemasok dana Jamaah Islamiyah dengan milik kelompok teroris Jamaah Ansharud Daulah. 


Mengemukanya kembali isu teroris saat pandemi adalah hal yang miris, karena di saat umat kelimpungan memikirkan cara memenuhi kebutuhan sehari-hari, malah muncul berita seperti ini. Selain kontra produktif, berita tersebut akan menghidupkan kembali Islamofobia di tengah-tengah masyarakat. Di sisi lain, ada kepentingan Amerika dan pemerintah negeri-negeri Islam, yaitu kebutuhan untuk tetap memunculkan isu tersebut agar tetap fresh dan langgeng. Hal di atas karena mau tidak mau harus ada kilas balik mencari tahu kapan sebenarnya istilah teroris ini muncul. 


Seperti yang kita ketahui, isu teroris muncul setelah meledaknya Gedung World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001. Presiden Bush dengan cepat memilah dunia menjadi dua bagian melalui politik stick and carrot, “Either you are with us or you are with terrorists.” Peristiwa WTC menjadikan AS sebagai kekuatan tunggal, yang menjustifikasi pendudukannya di Afghanistan dan Irak dengan dalih menumpas terorisme. Sementara itu, negeri-negeri kaum muslimin ketakutan dengan ancaman AS, sehingga mereka memilih mendekati AS agar mendapatkan carrot, mereka takut terkena stick AS bila tidak mengikuti kehendak AS.


Isu terorisme masih terus digulirkan untuk menghadang Islam, karena kaum munafik dan musuh Islam ketakutan apabila syariat Islam diterapkan secara utuh-menyeluruh oleh Daulah Khilafah. Musuh-musuh Islam menggunakan berbagai cara untuk menghentikan laju dakwah syariah- khilafah, termasuk monsterisasi ajaran Islam dengan sebutan teroris. Semakin jelas bahwa memberantas  terorisme sama dengan memberantas Islam. 


Tetapi musuh-musuh Islam dan kaum muslimin lupa, bahwa mereka tidak dapat menghentikan laju dakwah, karena dakwah meluncur bagai bola salju yang tidak dapat dibendung lagi. Makin banyak umat Islam yang sadar akan tipu daya tersebut dan berbalik mendukung dakwah, karena ingin menjemput janji Allah yang tidak mungkin salah, yaitu kembalinya khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah. Karena itu mari kita memantaskan diri dan bersinergi mencurahkan seluruh kemampuan umat dalam upaya yang mulia ini, perjuangan penegakkan syariat dalam institusi khilafah.


Wallaahu a’lam bi ash-shawwab.