Trend Childfree bukan dari Islam

  


Oleh : Layli Hawa


Belakangan ini jagat dunia maya sempat dihebohkan dengan istilah Childfree, bahkan di beberapa media sosial di Indonesia, di Twitter, Youtube maupun platform media online lainnya menjadi trending topik perbincangan masyarakat digital.


Istilah ini digunakan bagi orang yang sudah menikah namun memilih sikap untuk enggan memiliki keturunan. Baik itu anak kandung, anak tiri maupun anak adopsi.


Ada banyak alasan yang melatarbelakangi komunitas yang mengaku diri sebagai Childfree Community, di antaranya adalah kekhawatiran genetik, faktor finansial, mental yang tidak siap menjadi seorang ibu, bahkan alasan lingkungan.


Hal tersebut juga sempat disoundingkan oleh salah satu influencer Gita Savitri, dalam salah satu acara wawancaranya yang diunggah di youtube itu dia menyampaikan bahwa salah satu reason kenapa dia memilih sikap untuk Childfree adalah karna faktor finansial dan kesiapan mental orang tua untuk memiliki dan mendidik anak.


Tentu hal ini menjadi salah satu opini yang bisa menyesatkan masyarakat luas khususnya kalangan pasangan muda. Namun pemikiran yang muncul dari negara barat ini, telah banyak menuai kontroversi dari berbagai pihak. Salah satunya kaum muslimin yang memegang prinsip erat tujuan dari sebuah pernikahan tentu melahirkan generasi. 


(Syara' menjawab)


Sebagaimana dikatakan oleh Imam as-Sarkhasi, menjelaskan dalam kitabnya al-Mabsûth: 


‎ثم يتعلق بهذا العقد أنواع من المصالح الدينية والدنيوية. من ذلك حفظ النساء و القيام عليهن. ومن ذلك صيانة النفس من الزنا. ومن ذلك تكثير عباد الله تعالى وأمة رسول الله صلى الله عليه وسلم وتحقيق مباهات الرسول صلى الله عليه وسلم بهم 


Artinya “Akad nikah ini berkaitan dengan berbagai kemaslahatan, baik kemaslahatan agama atau kemaslahatan dunia. Di antaranya melindungi dan mengurusi para wanita, menjaga diri dari zina, di antaranya pula memperbanyak populasi hamba Allah dan umat Nabi Muhammad saw, serta memastikan kebanggaan rasul atas umatnya.” (Muhammad bin Ahmad bin Abi Sahl as-Sarakhsi, al-Masbshût, [Beirut, Dârul Fikr, 1421 H/2000 M], juz IV, halaman 349-350).


Tujuan utama sebuah pernikahan bukan sekedar menyalurkan ghatizatun-nau', tetapi banyak hikmah dan pencegahan dari segala bentuk zina. Bahkan selain tujuan duniawi, melalui pernikahan harus pula tercapai tujuan ukhrawi-nya. 


Hasan Sayyid Hamid Khitab dalam kitabnya, Maqâsidun Nikâh yang mengutip pendapat Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya I’lâmul Muwaqqi’in menjelaskan tujuan pernikahan: 


‎وكذلك فى النكاح مقصوده حفظ نوع البشري و انجاب الولد الصالح. وهي أيضا علة حقيقة لشريعته. فلا يمكن تصور ولد الصالح بدون النكاح. فالنكاح سبب يتوصل اليه، والولد الصالح مقصود للشرع وللمكلف وإذا لم يوجد الزواج لم يوجد الولد الصالح


Artinya “Begitu pula dalam pernikahan, tujuannya adalah menjaga keberlangsungan jenis manusia, dan melahirkan keturunan yang saleh. Alasan ini secara hakikat juga menjadi alasan disyariatkannya pernikahan. Karenanya tidak mungkin terbayang adanya anak saleh tanpa pernikahan, sehingga menikah adalah sebab yang menjadi perantaranya. Anak saleh merupakan maksud syariat dan orang berakal. Jika tidak ada pernikahan, maka tidak akan ada anak saleh.” (Hasan Sayyid Hamid Khitab, Maqâsidun Nikâh wa Atsarihâ Dirâsatan Fiqhiyyatan Muqâranatan, (Madinah: 2009) halaman 9).


(Trend Childfree, bukan dari Islam)


Pemikiran childfree atau terbebas dari beban anak adalah mutlak bukan berasal dari Islam. Opini sesat yang terus digaungkan kafir barat ditengah kaum muslimin terus melemahkan fungsi akal umat Islam. 


Cara berfikir liberal (bebas) yang tiada hentinya menggema di kalangan muslimin bukti bahwa pemikiran Islam dalam individu muslim semakin terkikis. Karena faktanya opini tersebut keluar dari sosok influencer Gita Savitri yang notabene seorang muslim. Justru ini bukan tidak mungkin masyarakat bisa terpengaruh pemikiran liberalnya.


Islam sudah amat mulia menempatkan fitrah manusia pada setiap potensi yang dimilikinya. Adanya sebuah gharaa-iz (naluri-naluri) dan akal dalam diri manusia seharusnya mampu menjadikan manusia memahami arah penyaluran setiap gharizah sesuai ketentuan syara'. 


Hanya saja, manusia semakin terbawa arus liberal gaya hidup barat dalam kehidupannya. Tanpa menyadari bahwa apa yang diikutinya bertentangan dengan syariat Allah. []LH