Toleransi Kasus GKI Yasmin Menyakiti Umat Islam?


Oleh Ir. H. Izzah Istiqamah

(Praktisi Pendidikan) 


Islam sangat toleran kepada kelompok orang yang berbeda akidah. Namun, syariat juga akan tegas terhadap perbuatan mana yang termasuk perbuatan yang dihukumi sebagai perbuatan yang halal dan mana sebagai perbuatan yang haram. 

Masyarakat Kota Bogor heran dengan polemik GKI Yasmin yang sudah berjalan 15 tahun. Aparat pemerintah Kota Bogor menyerahkan dokumen yaitu izin mendirikan bangunan (IMB) untuk rumah ibadah Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan R. Abdullah binNuh, Yasmin, Kota Bogor, Jawa Barat. Ahad (8/8).

GKI Yasmin mendapat IMB setelah keputusan MA dan dianggap jalan keluar atas kasus berkaitan toleransi beragama yg sudah berjalan 15 tahun.

Energi besar dan waktu panjang dibutuhkan untuk menyelesaikan sengketa berkaitan toleransi beragama hanya terjadi dalam sistem negara sekuler. Namun demikian, umat Islam sebagai umat mayoritas di negeri ini masih menjadi pihak yg dirugikan karena dianggap pemicu masalah dan tidak didudukkan pada masalah sebenarnya berupa manipulasi oleh pihak nonmuslim demi mencapai tujuan. 

Inilah watak sistem negara sekuler yang gagal mewujudkan toleransi dan selalu mengorbankan kepentingan umat Islam. 

Toleransi telah dicontohkan oleh baginda Rasulullah saat empat pemuka kafir Quraisy yakni Al-Walid bin Mughirah, Al-Ash bin Wail, Al-Aswad ibnul Muthalib, dan Umayyah bin Khalaf menemui Baginda Rasulullah sambil mengajak beribadah bersama-sama. Jika ada sebagian ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu. Jika ada ajaran kami yang lebih baik engkau juga harus mengamalkannya.”

Sebagai jawaban dari perkataan kaum kafir Quraisy, kemudian Allah Swt menurunkan surat al-Kafirun ayat 1-6 yang menegaskan bahwa tidak ada toleransi dalam hal apa pun yang menyangkut akidah umat Islam.

Allah Swt. berfirman bahwasanya:

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (TQS. al-Kafirun: 6)

Perilaku toleransi telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Mumtahanah ayat 8-9.

Telah dinyatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwasanya, “Allah membolehkan kalian berbuat baik kepada nonmuslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah kalian melakukan kebaikan dan adil karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.” 

Inilah toleransi yang telah diajarkan di dalam Ideologi Islam. Allah telah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk bertoleransi pada orang-orang di luar agama Islam. Akan tetapi, sikap toleransi tidak boleh dipraktikkan dalam hal yang menyangkut akidah.

Inilah ketentuan aturan yang sesuai dengan syariat yang berhubungan dengan toleransi. Dalam kaitannya dengan tindak kekerasan, syariat Islam telah menggariskan beberapa ketentuan sebagai berikut:

Tindakan kekerasan di dalam Islam bukanlah sesuatu yang tercela atau harus dihindari, asalkan sebab dan syaratnya telah dipenuhi sesuai dengan aturan Allah Swt. Kekerasan di dalam Islam misalnya jihad, pemukulan edukatif, qishash, dan lain sebagainya, dilakukan secara selektif, tidak sembarangan dan sesuai dengan hukum Allah. Misalnya, ketika negeri Islam diinvasi tentara-tentara kafir, kaum muslim diperintahkan mengangkat senjata untuk berperang mengusir mereka.

Hanya khalifah dan wakilnya yang boleh menjatuhkan sanksi terhadap siapapun yang melakukan pelanggaran.

Dengan pemaparan di atas, telah terbukti bahwa umat Islam adalah umat yang sangat menjunjung tinggi sikap toleransi. Pelaksanaan aturan sesuai hukum-hukum Islam dalam Daulah Islam di tengah-tengah masyarakat tidak terbukti bahwa umat Islam adalah umat yang intoleran. Justru sebaliknya, kepemimpinan yang berlandaskan aturan-aturan Islam akan mewujudkan kehidupan antar umat beragama yang harmonis penuh dengan keadilan.