Toleransi dalam Pandangan Islam



Oleh Dewi ummu Hazifa 

Ibu Rumah Tangga Ideologis


Muncul wacana pro-kontra di tengah masyarakat menyikapi video Menag Yaqut Cholil Qoumas yang viral, saat memberikan ucapan selamat merayakan hari raya Nawruz kepada komunitas Baha’i. Kontroversi muncul, dari berbagai kalangan masyarakat. Pidato Menag tersebut dianggap off-side, dan membuat beragam persepsi di kalangan masyarakat.

Terkait pro dan kontra di kalangan masyarakat terhadap pernyataannya, menteri agama Yaqut mengatakan ucapan selamat yang ia katakan itu sudah sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Bahkan kalangan yang pro mengatakan bahwa kemenag sebagai wakil dari pemerintah tidak boleh ada diskriminasi terhadap warga negaranya, sekalipun agama Baha'i tidak termasuk dalam enam agama yang diakui di Indonesia.

Bagi menteri agama kehadirannya di acara komunitas Baha'i, semata-mata dalam konteks untuk memastikan negara menjamin kehidupan beragama warganya. "Negara harus menjamin kehidupan seluruh warganya apa pun agamanya, apapun keyakinannya" kata dia. (Detik, 28/7/2021).

Aktivis kebebasan beragama menyambut hangat sikap menag Yaqut, Penrad Siagian peneliti dari Paritas Institute menyatakan menag tidak cukup dengan hanya mengucapkan selamat tapi harus diteruskan kepada perlindungan dan pelayanan publik terhadap berbagai kelompok agama termasuk kepada Baha'i yang selama ini mengalami diskriminasi. (Detik, 31/7/2021).

Akibatnya gaung kebebasan beragama kembali muncul, bagi kalangan yang pro, komunitas Baha'i juga termasuk warga negara yang harus dilindungi hak beragamanya, sehingga mengucapkan hari raya kepada mereka telah sesuai dengan konstitusi.

Sedangkan MUI mengatakan agar pemerintah tidak off-side. MUI meminta kepada pemerintah tidak salah menyikapi keberadaan Baha'i. Negara memang wajib melindungi warganya, tapi tidak lantas perlakuannya dengan melayani dan memfasilitasi agama selain enam agama yang diakui di Indonesia.

Kebebasan beragama dalam sistem demokrasi tidak dianggap sesuatu hal yang menyimpang, justru sebaliknya kalau dihalangi dalam beragama dan diskriminasi terhadap agama, maka itu dianggap bertentangan dengan prinsip demokrasi. Dalam sistem demokrasi agama apa pun wajib dilindungi, negara harus menjamin semua agama yang berkembang, meski oleh sebagian umat dinyatakan agama sesat.

Kebebasan beragama inilah yang makin menyuburkan aliran sesat meski akhirnya aliran ini menjadi sebuah agama baru. Ketua MUI Sumatera Barat Buya Gusrizal Gazatar Dt. Palimo Basa menegaskan bahwa esensi dari Baha'i itu sesat. "Bahaiyyah ditinjau dari latar belakang sejarah esensinya ajaran dan gerakan penyebarannya sesat yang menodai ajaran Islam dan menjadi pintu masuk musuh untuk merusak umat Islam" katanya. (suara.com 30/7/2021).

Atas nama kebebasan ini pula negara tidak bisa berbuat apa-apa, justru terkesan membiarkan sebagai agama yang diakui keberadaannya. Ini akan memberi peluang kepada siapapun untuk bisa keluar dari agamanya dan memeluk agama baru, dan itu merupakan hak sebagai warga negara. 

Berbeda dengan sistem Islam, negara wajib melindungi dan menjaga akidah umat Islam dari segala bentuk penyimpangan, pendangkalan dan penyesatan, imam adalah perisai umat tempat umat berlindung padanya.

Dalam menjaga agama negara memberikan toleransi terhadap pemeluk agama lain, dengan bisa hidup berdampingan dengan kaum muslim di bawah naungan sistem pemerintahan Islam.

Negara dalam sistem Islam akan memberikan pendampingan kepada mereka yang terjerat aliran sesat dengan memberikan pembinaan hingga mereka kembali kepada akidah yang lurus, dan akan melakukan pembubaran organisasinya, serta memberikan sangsi tegas kepada mereka yang terkatagori murtad mengaku sebagai nabi dan menistakan Islam dan ajarannya.

Tegasnya sanksi dalam Islam sebagai bentuk penjagaan terhadap agama dan kaum muslim. Karena saat seseorang meyakini Islam sebagai agamanya harus memahami seluruh konsekuensinya, berikut sanksinya apabila ia menyalahi syariat Islam. Sistem Islam juga melindungi agama lainnya dengan syarat pemeluknya menjadi ahlul dzimah. Allah berfirman: "Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku". (QS. al-Kaafiruun (109) : 6). Dengan begitu umat Islam akan terjaga akidahnya dan nonmuslim pun akan aman beribadah. Itulah indahnya gambaran toleransi dalam pandangan Islam.


Wallahu a'lam bishshawab.