Tali6an Duduki Afghanistan, Independensi ataukah di Intervensi Amerika?



Oleh Aisha Besima 

(Aktivis Muslimah Banua)


Potensi krisis terjadi di Afghanistan tak lama setelah AS putuskan untuk hengkang dari wilayah tersebut. Hanya dalam tempo 10 hari sejak penarikan pasukan pimpinan Amerika Serikat dari Afghanistan, Tali6an sukses mengambil alih kekuasaan. Diberitakan Kompas.com, Selasa (17/8/2021), Tali6an akhirnya berhasil menduduki Kabul, ibu kota Afghanistan pada Minggu (15/8/2021). 


Presiden Afghanistan Ashraf Ghani bahkan dilaporkan sudah mengungsi ke Oman dan menyerahkan kekuasaan negara. Tak hanya sang presiden, setelah ibu kota ditaklukkan, ribuan warga Afghanistan juga mencoba melarikan diri dari negara itu. Lima orang dilaporkan tewas akibat berebut menaiki pesawat di bandara Kabul. (kompas.com, Selasa 17/8/2021).


Tali6an meminta para imam di Afghanistan untuk mendesak persatuan ketika mereka mengadakan salat Jumat. Hal itu dilakukan saat protes terhadap Tali6an menyebar ke lebih banyak kota termasuk ibu kota Kabul pada Kamis (19/8). Tali6an mendesak persatuan menjelang salat Jumat pertama usai mereka menaklukkan Kabul.


Kelompok itu meminta semua imam untuk membujuk orang agar tidak meninggalkan Afghanistan.

Sejak merebut Kabul pada Ahad (15/8), Tali6an telah menampilkan wajah yang lebih moderat. Mereka mengatakan menginginkan perdamaian, tidak akan membalas dendam terhadap musuh lama, dan akan menghormati hak-hak perempuan dalam kerangka hukum Islam. Tapi, beberapa orang tewas ketika Tali6an menembaki kerumunan di kota timur Asadabad. Saksi mata melaporkan tembakan di dekat rapat umum di Kabul, tetapi tampaknya itu adalah tembakan Taliban ke udara (Republika.co.id, 20/8/2021).


Rakyat Afghanistan telah melalui konflik selama berpuluh-puluh tahun. Namun, banyak yang takut hal terburuk akan terjadi setelah Presiden AS, Joe Biden, mengumumkan penarikan seluruh pasukan pada bulan Agustus. Pasukan AS bercokol di Afghanistan sejak tahun 2001 dengan alasan mengawal proses demokratisasi dan menghalangi penguasaan oleh Tali6an.


Padahal sejatinya Amerika hanya mementingkan kepentingan mereka saja. Dengan dalih mereka mendukung pemerintah Afghanistan yang nyatanya adalah antek dan bonekanya Amerika. Setelah di rasa menurut Amerika tidak adanya keuntungan yang mereka dapatkan dan bahkan krisis yang dihadapi Amerika ini, pemerintahan yang baru mengambil keputusannya hengkang dari Afghanistan.


 Hal ini dilakukan setelah sebelumnya mengadakan perjanjian dengan Tali6an. Yang ditakutkan sebagian masyarakat Afghanistan adalah kembali berkuasanya Tali6an sebagaimana dulu pada 1989.


 Banyak warga saat ini berebut untuk mendapatkan paspor ke luar negeri untuk menyelamatkan diri. Saat ini Tali6an Kembali ingin mengambil peluang mengganti pemerintahan ke arah Islam namun publik Afghanistan dan dunia sejak awal menunjukkan sikap kontra.


Apa yang ditakutkan masyarakat di sana dan dunia jika Tali6an kembali berkuasa? Jawabnya tentu adalah penerapan syariat Islam yang memang menjadi tujuan dari para pejuang Tali6an. Sebelum digulingkan oleh invasi pimpinan AS tahun 2001, Tali6an memberlakukan syariat Islam keras di Afganistan, termasuk melarang anak perempuan bersekolah dan bekerja di luar rumah mereka, atau berada di depan umum tanpa kerabat laki-laki.



Fakta Afghanistan menjadi bukti kuatnya intervensi AS dan asing di dunia Islam. Mampu mengubah pola pikir dan sikap publik Muslim terhadap ajaran agamanya. Upaya untuk menggambarkan Islam melalui penerapan syariat Islam yang buruk pada masa Tali6an berkuasa selama 1989—2001 adalah salah satu bentuk fitnah terhadap Islam.


 Perjuangan Taliban untuk tegaknya Islam semestinya mencontoh metode Rasulullah yang berfokus menyiapkan pemikiran Islam umat dan tidak berkompromi sedikit pun dengan tawaran Barat.


Syariat Islam adalah hukum-hukum yang Allah serukan kepada  manusia untuk diterapkan sebagai solusi bagi persoalan hidup yang terjadi. Benar, hukum syara’ kadang berbeda sebagai implikasi dari perbedaan kaidah ushul fikih yang digunakan untuk menggali dan menetapkannya. Namun, perbedaan ini tidak sampai mengantarkan pada perbedaan dalam masalah pokoknya yakni akidah.

Karena itulah, di mana pun, Islam adalah satu (sama).


Perbedaan dalam masalah cabang, selama diijtihad dari dalil-dalil yang diterima, yaitu Al-Qur’an, sunah, dan apa-apa yang terpancar dari keduanya, maka tetap merupakan hukum Islam. Ketaktepatan dalam masalah ijtihad memang kadang terjadi. Saat itulah, kaum Muslim harus mau terbuka untuk menerima pendapat lain yang memiliki dalil yang lebih kuat. Saling mengingatkan dan memberi masukan adalah budaya umat yang terus wajib dijaga.


Ketika ingin kebangkitan Islam itu dicapai kalau didasarkan pada dua hal, pertama, kembali kepada Islam secara kafah; kedua, mengikis habis intervensi negara-negara imperialis baik langsung atau tidak langsung; dan baik personal, kelompok, maupun sistem. Jika bicara penegakan Islam kafah, salah satu kunci pentingnya adalah sistem pemerintahan, sedangkan kalau bicara penegakan syariat Islam secara totalitas adalah khilafah.


Tali6an harusnya bisa belajar ketika mereka dikalahkan Amerika. Karena saat itu Tali6an menerapkan Imarah Islam yang berdasarkan nation state (negara bangsa), mereka tidak akan bisa sendirian menghadapi kekuatan negara imperialis itu. Yang penting juga untuk kita garis bawahi, sistem yang diterapkan oleh Tali6an bukanlah sistem kekhilafahan yang diajarkan Islam.


Hal ini karena penerapan sistem oleh Tali6an bersifat lokal terbatas pada wilayah Afghanistan, sedangkan Kekhilafahan haruslah berlaku bagi seluruh kaum muslimin di dunia tanpa mengkhususkan pada wilayah tertentu. Karena itu, Tali6an tidaklah mempresentasikan kekhilafahan, melainkan hanya penerapan Islam secara terbatas sebagaimana penerapan Islam di Aceh. Jadi, perjuangan kita masih panjang untuk sampai kepada kebangkitan Islam dan berdirinya sistem Islam yang sesungguhnya, yaitu daulah khilafah islamiyah. 


Wallahu a'lam bishawwab