Tahun Baru Muharram, Momentum Menuju Perubahan yang Hakiki


Oleh Zulhilda Nurwulan

(Relawan Opini Kendari)


Hijrah secara bahasa berarti berubah ke arah yang lebih baik. Hijrah artinya berpindah atau bergerak sehingga menginginkan perubahan haruslah dilakukan dengan pergerakan bukan berdiam diri. Sedangkan secara syar'i, hijrah berarti berpindah dari hukum kufur menuju hukum Allah Swt.

Momentum 1 Muharram yang diperingati sebagai tahun baru bagi umat Islam sejak dulu dimaknai berbeda-beda oleh kaum muslimin secara umum. Adanya Islam Nusantara di Indonesia menyebabkan makna hijrah bergeser dari makna yang sesungguhnya. Kebiasaan masyarakat saat memasuki tahun baru hijriah diwarnai dengan perayaan adat istiadat di berbagai pelosok negeri. Ada yang merayakan dengan mengurung diri di rumah, ada yang merayakan dengan berbelanja perabot rumah tangga baru, ada yang berpuasa hajat dan lain sebagainya. Tindakan semacam ini adalah tindakan yang cenderung menyalahi aturan agama. Seyogianya, 1 Muharram adalah momentum yang tepat bagi kaum muslimin meninggalkan ajaran-ajaran kufur yang telah merusak keyakinan Islam yang sebenarnya dan beralih pada ajaran Islam yang hakiki.

Ustadz Yuana Rian Tresna membagi makna hijrah pada dua aspek, yakni hijrah pribadi dan hijrah jamaah. Pertama, hijrah pribadi adalah proses perubahan seorang individu dari keadaan yang buruk menuju hidayah Allah untuk berproses menjadi lebih baik. Pada keadaan ini tentu proses hijrah akan dilakukan oleh seorang individu baik secara mandiri maupun berkelompok untuk mempelajari Islam secara benar. Kedua, hijrah jamaah yakni perubahan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat melalui kontrol negara. Pada tahap ini tentu membahas makna hijrah yang berbeda. Hijrah jamaah adalah proses berpindah dari penerapan sistem kufur oleh negara menuju penerapan sistem Islam.

Selaras dengan yang disampaikan oleh Ustadz Ismail Yusanto, seorang cendekiawan muslim yang mengatakan bahwa iman dan takwa bukan hanya urusan pribadi melainkan juga urusan bernegara. Sehingga, hijrah bukanlah sebuah pilihan melainkan sebuah kepastian. Hijrah yang sesungguhnya adalah hijrah menuju sistem Islam dengan menerapkan hukum Islam secara menyeluruh tidak setengah-setengah.

Memahami Peristiwa 1 Muharram

Mendalami momentum 1 Muharram, wajib bagi umat Islam memahami latar belakang penentuan tahun baru Islam ini. Penanggalan 1 Muharram ini ditetapkan oleh Umar bin Khattab ketika beliau menjadi khalifah (13-23H/634-644M) sesaat setelah bermusyawarah dengan para sahabat. Penanggalan 1 Muharram tidak sebatas memulai tahun baru hijriah melainkan lebih menekankan pada peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. meninggalkan wilayah syirik, yakni sebagaimana yang ditegaskan oleh Khalifah Umar, hijrah itu memisahkan yang haq dan yang batil. Antara Islam Dengan kekufuran.

Padahal, jika merujuk pada hijrah Rasulullah saw. yang sesungguhnya, yakni ketika beliau hijrah dari Makkah menuju Madinah dengan ditemani oleh Abu bakar, maka sejatinya peristiwa itu terjadi pada 12 Rabiul awal. Namun, para sahabat sepakat jika penetapan awal tahun hijriah merujuk pada hijrahnya rasul dari wilayah kesyirikan menuju wilayah tauhid. Hal ini berdasarkan firman Allah Swt. dalam QS. at-taubah ayat 108 yang artinya:

"Sungguh, masjid yang dibangun berdasarkan ketakwaan sejak hari pertama itu lebih pantas dijadikan tempat engkau melaksanakan salat di sana."

Para sahabat sepakat jika "hari pertama" yang dimaksud dalam firman Allah itu bukanlah makna hari pertama secara mutlak melainkan makna secara definitif, yakni hari pertama Rasulullah saw. tiba di Quba dan kemudian Islam mendapat kemuliaan.  Selain itu, hal ini juga merupakan tanda kemenangan kaum muslimin setelah berhasil mendapatkan Bai'at Aqabah II, yakni momentum penyerahan kekuasaan oleh kaum Anshar kepada Rasulullah saw. untuk berlindung atas diri dan juga agama mereka. Dengan demikian, momentum 1 Muharram bukanlah sebatas perayaan tahun baru biasa melainkan sebuah refleksi kemenangan terbesar kaum muslimin dari kesyirikan menuju kebaikan, dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Lalu, bagaimana harusnya kaum muslimin milenial menyikapi momentum 1 Muharram di zaman sekarang?

Saatnya Hijrah ke Islam Kafah

Hari ini, dunia semakin rusak dengan gemerlap kekufuran yang merajalela di mana-mana. Sistem sekuler buatan penjajah di masa lalu telah merusak tatanan dunia dari berbagai aspek. 

Dicabutnya aturan Allah dari kehidupan dunia telah mengakibatkan kerusakan di mana-mana. 

Runtuhnya Daulah Islam pada Maret 1924 yang lalu telah membawa dunia ke masa yang kelam. Aturan dunia berubah menjadi racun mematikan bagi umat, tak ada lagi pelindung, tak ada lagi perisai. Umat hidup di bawah bayang-bayang penjajahan. Ekonomi menganut sistem riba, politik menganut sistem kapitalis, demikian juga pendidikan terlebih budaya yang semakin liberal. Para pemimpin menganut ideologi yang salah, metode yang diambil pun tidak memberikan solusi. Segala aturannya timpang tindih bahkan berat sebelah. 

Dengan demikian, dunia membutuhkan perubahan yang hakiki. Perubahan yang sistematis dan terstruktur. Umat perlu menyadari pentingnya perubahan, pentingnya berhijrah dengan sempurna secara kafah (menyeluruh). Berhijrah secara kafah yakni dengan menerapkan sistem Islam dalam seluruh tatanan kehidupan, tidak dengan mengambil yang menguntungkan dan meninggalkan yang merugikan, ibarat makan di warung prasmanan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Baqarah ayat 208: 

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu."

Ayat di atas adalah perintah Allah bagi umat manusia agar tidak berislam setengah. Sejatinya, orang beriman ialah yang taat secara total tanpa tapi dan tanpa nanti. Sejatinya, Islam bukanlah pilihan melainkan sebuah kepastian. Wallahu a'lam bishshawab.