Tahun Baru Momentum Hijrah

Oleh : Maira Zahra


Tepat beberapa hari lalu kita sudah meninggalkan tahun lalu dan kita disuruh beranjak untuk menatap tahun baru. Menutup tahun lalu entah dengan seberapa dosa yang sudah menggunung namun begitu dengan murah hati Allah melimpahkan ampunan dengan cara suci. Kini dengan mengucap doa dan basmalah kita membuka lembaran baru kehidupan, berupaya menjadi lebih baik dan terbaik tanpa menatap masa lalu. 


Berpindah dari masa lalu yang gelap menuju masa depan yang cerah. Dulu suka berbuat maksiat maka kini berpindah menuju jalan yang baik. Dulu suka memupuk rasa malas maka kini berpindah memupuk keistiqomahan. 


Namun hijrah tentu bukan hanya diperuntukkan bagi individu saja. Hijrah atas kehidupan masyarakat di seluruh dunia pun sangat perlu dilakukan. Kenapa? Karena nyatanya hidup dalam sistem sekulerisme tidak melahirkan sepucuk kebahagiaan. Justru semakin mengoyak energi dan peran masyarakat demi mencapai tujuan oligarki.


Masih dalam situasi pandemi covid-19 ekonomi menurun, pendidikan pun semakin amburadul. Sistem ekonomi demokrasi tak menjamin bisa mengontrol kebimbangan yang tengah dihadapi banyak negara terutama di negeri kita sendiri. Sudah teramat banyak, hingga sampai saat ini pandemi belum juga bisa disurutkan. Di sisi lain para petinggi bangsa justru memikirkan perihal Indonesia bisa menjadi negara maju jika pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6 persen.


Pernyataan yang dikeluarkan oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, bahwa untuk bisa lepas dari jebakan negara pendapatan kelas menengah (middle income trap) pertumbuhan ekonomi Indonesia harus bisa mencapai 6 persen pada 2022 mendatang. Bila itu bisa dicapai, ia yakin Indonesia bisa naik kelas menjadi negara maju pada 2045. Dikutip dari cnnindonesia.com


Berdasarkan perhitungan Bappenas, pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca 1998 tidak pernah kembali ke skenario trajectory (tren) pertumbuhan ekonomi tanpa krisis. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi selama ini selalu macet di posisi 5 persen. 


Ditambah pandemi covid-19 berdampak pada perencanaan pembangunan nasional. Salah satunya, pergeseran target Indonesia menjadi negara maju dari 2036 menjadi 2045. 


Tak semestinya pembahasan negara maju menjadi pembahasan utama. Sebab masih banyak masalah lain yang lebih penting. Contohnya saja, bagaimana menghentikan laju kematian akibat Covid-19?  Cara apa yang harus dilakukan supaya pandemi Covid-19 bisa cepat teratasi? 


Nah, seharusnya itulah yang menjadi topik utama. Meninggalnya satu nyawa seorang muslim lebih berharga daripada dunia dan seisinya. Tentu saja Islam dengan aturan yang komprehensif sudah memberikan peringatan dan kewaspadaan bagi umat manusia. Terlepas dari itu kita juga membutuhkan sebuah sistem yang bisa memberikan perlindungan lagi keamanan. Diberikan secara 100% penuh tanpa memandang antara umat muslim maupun non-muslim, semuanya sama dalam Khilafah. 


Semangat hijrah harus secara penuh terarah mewujudkan harapan terwujudnya negeri baldatun thayyibah wa rabbun ghafur, dimana kondisi negeri yang menjadi dambaan dan impian seluruh umat manusia. Negeri yang selaras antara kebaikan alam dan kebaikan perilaku penduduknya. MasyaaAllah! 


Peringatan tahun baru Islam adalah momentum untuk menggerakkan kembali semangat kebangkitan dan perubahan. Secara keseluruhan, dalam pandangan Islam, perubahan itu terjadi minal kufr ilal iman (dari kekufuran berubah menjadi keimanan), minas syirk ila tauhid (dari kemusyrikan berubah menjadi Tauhid), minazulumati ilan nur (dari gelap menuju terang), dan perubahan minal jahiliyyah ilal ’alimiyyah (dari kebodohan berubah menjadi pengetahuan).


Wallahu a'lam bishshowab

Komunitas Millenials Perindu Surga

Tulungagung