Tahapan Mengajari Ananda Shalat

 




Oleh Yuli Bunda Talita

Ummahat Bandung



Ketika kita diamanahi oleh Allah Swt. anak, maka mulai saat itu peran sebagai orangtua wa bil khusus seorang ibu telah ada di pundak kita. Beragam tugas tentu menanti untuk dijalani. Mulai dari memberi hak anak untuk disayangi, diberi nama yang baik, dipenuhi kebutuhan asasinya (nutrisi, pakaian dan tempat bernaung yang aman), juga dididik dengan arahan yang sesuai dengan agama. Para ibu beserta ayah bekerjasama dalam menjalankan amanah besar itu.


Salah satu perkara dalam proses mendidik ananda adalah memahamkan dan mengajari mereka terkait dengan kewajiban menegakkan shalat. 


Ada perkara terkait konsep dan teknis yang wajib dipahami oleh para orangtua terkait mengajari anandanya tanggung jawab menegakkan shalat.


Perkara Konsep


Secara konsep hal yang wajib dipahamkan pertama adalah terkait posisi ananda sebagai seorang muslim dan mukmin. Sebagai muslim dan mukmin maka mereka wajib dikenalkan sedini mungkin terkait akidahnya. Memahamkan bahwa semua manusia, alam semesta dan kehidupan ini merupakan makhluk ciptaan Allah. Konsekuensinya, maka ketika hidup di dunia, baik ananda; ayahanda; ibunda; dan semua muslim lainnya hanya ditugaskan untuk beribadah dalam arti taat, tunduk dan patuh pada Allah Sang Maha Pencipta.


Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an surat Az-Zariyat (51) ayat 56:


وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ


Artinya: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."


Kedua adalah dengan mengajarkan ananda melaksanakan dan menegakkan kewajiban shalat.


Adapun tahapan dalam mengajari anak shalat tentu bisa kita lakukan dengan mengikuti arahan Baginda Nabi saw.


"Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (apabila mereka menolak) pada saat mereka berumur sepuluh tahun." (HR. Abu Dawud)


Itulah teladan Rasulullah. Bahwa di usia balita cukup dikenalkan, dicontohkan dan diajak shalat. Tentu ditambah dengan mengondisikan suasana ruhiyah di rumah dan lingkungan agar tercipta semangat dalam beribadah dan menghamba pada-Nya. Sementara mengajarkan terkait gerakan dan bacaan yang benar adalah di saat usia ananda sudah mumayyiz (mulai 7 tahunan). Dan persiapan untuk menguatkannya adalah di usia 10 tahun. Hal itu untuk menjadikan ananda benar-benar telah siap dengan pelsksanaan syariat berupa kewajiban shalat ketika ia telah baligh.


Perkara Teknis


Selain konten terkait pengajaran kewajiban pelaksanaan shalat, tentu pengemasan pun wajib diperhatikan oleh orangtua. Pengemasan itu bisa dengan jalan:


1. Mengajak ananda berpikir.


2. Mengenalkan tata cara shalat. 


3. Memberi contoh ananda shalat.


4. Menyediakan/membelikan pernak-pernik unik peralatan shalat untuk menyemangati.


5. Mengajak mereka shalat bersama.


6. Menceritakan terkait teladan Rasulullah saw. dan orang-orang shaleh ketika menjalankan shalat.


Tantangan Mendidik Saat Ini


Kita semua pahami bahwa shalat adalah perintah Allah yang masuk dalam rukun Islam. Shalat pun adalah aktivitas ibadah yang akan ditanya pertama kali kelak di alam barzah. Shalat pula yang akan membedakan posisi seseorang terkategori muslim atau kafir. Seperti itulah yang diinformasikan melalui hadis-hadis Rasulullah saw. 


Namun bisa kita lihat bahwa hari ini tak sedikit anak-anak kaum muslimin yang tak memahami hal-hal terkait kewajiban agama. Banyak anak yang malas bahkan enggan untuk melaksanan terlebih menegakkan shalat. Mereka banyak yang terlalaikan oleh godaan dunia berupa kesenangan-kesenangan, game, permainan dengan teman-teman di dunia nyata maupun dunia maya. Tawaran hedonisme demikian menarik hati mereka. Kesenangan yang ada dalam genggaman mereka yakni game-game atau hiburan yang ditawarkan gadget sungguh telah memalingkan dan merenggut paksa perhatian mereka dari beribadah kepada Sang Pencipta.


Itu semua disebabkan di tengah-tengah umat kini diterapkan sistem kapitalisme yang mendewakan segala hal berbau materi. Ditambah dengan pandangan liberal dan budaya individualistis yang mengurat mengakar. Pemahaman yang diimpor dari Barat itu mengakibatkan antara satu dengan lainnya baik sesama teman, tetangga dan antar pribadi tak merasa berkebutuhan untuk saling mengingatkan dan peduli ketika pihak lain lalai akan pelaksanaan kewajiban agama termasuk dalam perkara shalat. Diperparah dengan sistem sekuler yang kian menjauhkan ananda dan pandangan umat dari pemahaman bahwa Islam itu adalah agama yang mengatur semua aspek hidup mereka. 


Sungguh kita semua para orangtua muslim sangat menginginkan anak-anak generasi masa depan kita menjadi pribadi-pribadi yang shaleh-shalehah. Mereka taat akan semua perintah Rabb-Nya dan tak terlalaikan oleh godaan busuk yang ditawarkan oleh sistem kapitalisme yang liberal dan sekuler. 


Wallahu a'lam bi ash-shawwab.