SYARIAT HARUS MEMIMPIN SELURUH ADAT ISTIADAT



Oleh Liza khairina

Kontributor Media Lenteranyahati


Miris? Iya. Menyesakkan dada? Sekali. Begitulah kondisi kampung hari ini. Di saat banyak yang sakit, banyak yang meninggal, banyak yang kena PHK sebab pemberlakuan PPKM, kampung ramai gawean. Emak-emak berjibaku meniatkan waktu dan mengeluarkan simpanannya untuk menyemarakkan mantenan. Sound system menggelegar mengingatkan penduduk yang jauh agar merapat menyingsingkan bajunya, bersuka ria dalam hangatnya pesta.


Doa istighatsah dipanjatkan tiap malam. Toa surau dan masjid nyaring dengan bacaan tahlil, shalawat dan burdah. Anak-anak keliling kampung qashidahan dengan harapan menolak bala'. Para orangtua menghidupkan bara api menjelang maghrib di halaman rumah-rumah mereka sebagai ikhtar membuang penyakit tha'un bersama asap yang mengepul, kemudian menghilang di ketinggian. Ini warisan yang tidak bisa hilang di benak para generasi hari ini. Karena bagi mereka, aktivitas para pendahulu adalah upaya ringan dan tidak ribet yang harus terus dipelihara nafasnya.


Aroma selamatan oleh penduduk pada guru ngaji dan orang shalih di kampung sambil lalu ngalap doa berkah menjadi tradisi yang tidak boleh terlewatkan. Filosofi "apen" (Indonesia: apem) dan ketupat dalam selamatan pun menjadi tambah ramai, karena setiap terjadi fenomena alam yang tidak biasa, selamatan dua sajian itu menjadi benteng tolak bala. Gerhana bulan dan matahari, masa kemarau panjang, gempa bumi, banyak orang sakit dan meninggal. Selamatan apen dan ketupat menjadi ciri khas sebagai upaya mendapatkan ampunan dan pembersih diri.


Kata para sepuh, apen itu dari bahasa doa "afwun" (permohonan maaf). Ketupat yang berbentuk segi empat yag terbuat dari daun kelapa muda diambil dari "ja'a nur" yang berarti telah datang cahaya, dengan isinya beras putih perlambang cahaya telah datang pada kehidupan manusia yang rumit, kemudian hati menjadi putih bersih dengan memohon ampun dari segala kesalahan. Begitulah filosofi apen ketupat, atau ketupat apen. 


Membaca kebiasaan orang terdahulu yang terus dipelihara oleh "anak putu"-nya, di antara kita yang modernis dan realistis merasakannya sedikit manfaat dan banyak mudharat. Tidak penting memeliharanya sebagai khazanah masa depan. Tapi, tahukah kita, bagaimana para sepuh sesiaga itu menemukan cara berupaya mengusir segala yang tidak ramah pada kehidupannya? Para sepuh kita bergerak dengan perasaannya dan jauh meninggalkan pemikirannya. Mereka tidak ada yang menggiring atas karunia akal sehatnya pada dalil dan nash. Mereka begitu khidmat pada karunia ilham Tuhannya, sehingga tidak ada upaya keras menggali ilmu yang membuka cakrawala pengetahuannya. Karena bagi mereka, sikap takut dan patuh dengan wasiat para orang tua dan guru sudah cukup menjadi jimat ampuh melawan segala bahaya dan menyelamatkan anak putu di kemudian harinya. Maka sangat wajar sikap dan dawuhnya terus diingat sepanjang generasi setelahnya.


Dari gambaran cinta anak putu pada leluhur atau kalimat Arabnya adalah "syai'un laazimun", apa yang bisa diambil pelajaran? Kita akan mendapati semangat melanjutkan adat. Ya, semangat melanjutkan kebiasaan para leluhur telah menjadikan mereka menolak segala yang baru, segala inovasi, seperti uji klinis, diagnosa, cek laboratorium, dan lainnya. Semangat melanjutkan kebiasaan para leluhur telah menjadikan akal mereka di belakang dan perasan mereka di depan. Keyakinan mereka begitu di hati. Sehingga apabila ada yang meremehkan, mereka anggap tidak punya cinta pada leluhurnya.


Hal ini adalah satu i'tibar bagi kita mukmin yang meyakini Allah Swt. sebagai Pencipta, Sesembahan dan Pengatur segala. Mukmin yang meyakini Muhammad saw. sebagai junjungan, tauladan terbaik sepanjang zaman. Mukmin yang meyakini amalan terbaik hanya dilakoni generasi terbaik, para sahabat yang digambarkan seperti bintang gemintang, darimanapun kita mengambilnya adalah petunjuk. Mukmin yang meyakini kesungguhan ulama salaf menggali hukum agar menjadi cahaya di kegelapan masa menjelang kiamat. Bagaimana seharusnya kehidupan itu berlanjut?


Kita adalah Muslim yang bersyahadat bahwa Allah Swt. satu-satunya Rabb seluruh alam, tempat berasal dan kembali seluruh manusia, alam semesta dan kehidupan. Karunia akal yang Allah hanya berikan kepada manusia adalah penanda bahwa seluruh aktivitasnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Maka menjadi penting kita memahami tiga soalan yang akan membentuk cara pikir dan sikap kita terhadap kehidupan. Darimana asal kehidupan kita, untuk tujuan apa kita hidup dan kemana setelah kehidupan dunia? Ini pertanyaan yang akan menyampaikan pada satu titik akumulasi perasaan dan pemikiran yang nantinya akan sampai pada tujuan peraturan.


Bagi Muslim, kita berasal dan dicipta oleh Allah Swt. Pemilik semesta. Allah Swt. menciptakan kita untuk tunduk patuh pada aturan-Nya. Nanti ketika masa tiba hari akhir akan mempertanggungjawabkan segala amal di dunia. Atas narasi pasti itulah kita punya tanggung jawab sebagai Muslim, melanjutkan kehidupan taat syariat yang harus lebih kuat dipegang daripada melanjutkan adat yang lahir dari akal manusia yang terbatas.


Melanjutkan kehidupan syariat adalah harga mati, karena itu terkait perjanjian manusia dengan Allah Sang Maha. Masih ingat sumpah kita ketika di masa rahim? "Alastu birabbikum, qaaluu balaa syahidna". Jika tidak ingat, Al-Qur’an telah mengingatkan di Al-Qur’an surat al-A'raf ayat 172. Ketika kita telah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita, maka konsekwensinya adalah kepatuhan secara totalitas tanpa syarat apalagi adat. Jika harus bersyarat dan beradat pastikan itu tidak bertentangan dengan syariat.


Jika adat harus berlanjut sebab cinta orangtua, guru dan para leluhur, maka ia tidak boleh berseberangan dengan syariat. Jika berseberangan, pilihannya bagi Muslim adalah syariat dengan meninggalkan adat, sekalipun harus melabrak keumuman demi meraih ridha Allah Swt.


Wallahu a'lam bi ash-shawwab.