Standar Perbuatan karena Allah atau Manusia?

 



Oleh Dwi Devi Kamalin 

Mahasiswa



Dalam menentukan standar perbuatan jangan sampai salah pilih karena bisa berpengaruh buruk bagi mental kita. Kalau perbuatan kita karena manusia, akan mudah kecewa karena apa yang kita lakukan tidak dinilai baik oleh mereka. Beda halnya kalau kita melakukannya karena Allah Swt., selama yang kita lakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan-Nya kita tidak akan pernah kecewa dengan penilaian orang. Bahkan, jika kita melakukan sesuatu karena manusia, kita bisa jadi orang yang tidak percaya diri. Beda halnya kalau kita melakukannya karena Allah, kita akan dengan percaya diri melakukan apapun selama itu sesuai dengan aturannya Allah.


Dalam melakukan sesuatu, tidak semua apa yang kita lakukan diridhai Allah sesuai dengan ridha manusia. Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mencari keridhaan dari Allah Swt. (saja) meskipun manusia benci kepadanya, niscaya Allah akan ridha kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia ridha kepadanya pula. Dan barangsiapa mencari keridhaan dari manusia dengan membuat Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia murka kepadanya pula.” (HR.Ibnu Hibban).


Jika kita melakukan sesuatu dengan niat ikhlas lillahi ta’ala itu adalah salah satu syarat dalam beramal shaleh. Jadi, jangan sampai amal shaleh kita nilainya nol hanya karena salah niat.


Sayangnya, kita hidup di era kapitalisme dimana keuntungan materi adalah prioritas utama dalam hidup. Orang yang memiliki pemikiran kapitalisme hanya bisa melihat apa yang bisa dilihat, sedangkan melihat gambaran surga dijadikan Allah Swt. itu sangat sulit. Akhirnya, yang dikejar adalah ridha manusia karena yang jelas ditangkap mata ada balasannya. Masyarakat kapitalisme sangat jauh dari pemahaman hidup yang benar karena kapitalisme ini asasnya sekuler yaitu, fashluddin 'anil hayyah atau memisahkan agama dari kehidupan. Islam dipakai hanya untuk ibadah ritual saja. Selain itu, semuanya sekuler termasuk prinsip hidupnya yang memberi hanya untuk diberi, yang membantu hanya untuk dibantu. Apalagi mereka juga tidak sadar kalau prinsip hidup yang mereka anut itu salah dan fatal akibatnya.


Sekulerisme membuat mereka merasa tidak butuh belajar Islam yang sesungguhnya wajib bagi Muslim. Tentu sebagai bagian dari masyarakat kita merasakannya, dengan adanya sekulerisme di lingkungan ini orang-orang bahkan lebih rela menghabiskan uang untuk les matematika dan sains daripada belajar Islam yang bisa didapatkan gratis di forum-forum kajian Islam. Soalnya, menurut mereka pintar matematika dan sains lebih menjanjikan kesuksesan dunia Paradigma ini terus-menerus diwariskan kepada generasi. Akibatnya, mereka tidak tahu bagaimana caranya menyikapi hidup dengan benar. 


Apalagi negara mengabaikan kewajibannya untuk membentuk kepribadian Islam generasi melalui sistem pendidikannya. Sistem pendidikan saat ini sekuler, membentuk generasi-generasi yang cinta dunia dan sedikit sekali pemahaman Islamnya, bahkan gagal paham juga. Maka dari itu, kita butuh sekali untuk mengkaji Islam secara Kaffah, serius dan istiqamah bersama guru yang siap membina kita menjadi muslimah berkepribadian Islam.


Selain itu, kita bisa juga mencari kelompok dakwah Islam ideologis yang aktif melakukan perbaikan di tengah-tengah masyarakat. Tetapi, selama masyarakatnya masih berpemikiran kapitalisme kita akan susah terlepas dari pemikiran ini. Sembari mengkaji, kita juga harus berdakwah mengubah masyarakat menjadi masyarakat yang islami yang melakukan apapun dengan standarnya ridha Allah dan membuat kita semangat juga mencari ridha Allah.


Sayangnya, masyarakat yang islami tidak bisa terbentuk kalau kebijakan dari negara masih kapitalisme sekuler. Jadi, kita butuh negara yang menerapkan aturan Islam secara kaffah yang disebut Khilafah. Khilafah akan menerapkan sistem pendidikan Islam yang bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam. Pemikiran kapitalisme sekuler di tengah masyarakat juga akan diberantas Khilafah. Jadi, supaya kita dan semua saudara Muslim bisa bersih pemikirannya, berbuat apapun hanya untuk ridha Allah semata, kita harus mengkaji Islam secara Kaffah dan mendakwahkannya. Selain itu, ada kelompok dakwah Islam ideologis yang siap membersamai dan membina kita menjadi pejuang-pejuang Islam yang tangguh. Pahami agamamu, bangga berislam Kaffah!