Sesuai Keyakinan





Oleh Mariyah Zawawi



Malam itu, kami masuk ruang zoom lebih awal. Sambil menunggu ustadzah bergabung, kami ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari materi pelajaran bahasa Arab yang belum kami pahami, hingga ngobrol tentang anak-anak yang mulai beranjak dewasa. 


Tak lama kemudian, yang kami tunggu pun datang. Mendapati kami tengah mengobrol, beliau pun bertanya, "Ngobrol apa, tadi?"

"Ngobrol apa, Ustadzah. Nggak penting kok," jawab salah seorang di antara kami.

Beliau kemudian berkata, "Jangan bilang nggak penting. Dulu, saya juga pernah berpikir seperti itu. Waktu itu, saya dan teman-teman sedang menunggu seorang syaikh dari Al-Azhar yang hendak memberi pelajaran. Sambil menunggu, kami ngobrol ngalor ngidul. Ketika syaikh itu datang, beliau bertanya kepada kami, 'Bahas apa, tadi?' Terus, kami jawab, 'Bahas nggak penting kok, syaikh. Syaikh itu kemudian berkata, 'Jangan berkata seperti itu.' Beliau kemudian menyampaikan sebuah hadits dari Abu Waqid al-Laits. Hadits itu berbunyi begini, 


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ


"Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, saat sedang duduk bermajelis di masjid bersama para sahabat, datanglah tiga orang. Yang dua orang menghadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan yang seorang lagi pergi. Dua orang itu terus duduk bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Satu di antaranya tampak bahagia bermajelis bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Sedang yang kedua, duduk di belakang mereka. Sementara yang ketiga berbalik pergi. Setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam selesai bermajelis, Beliau bersabda: 'Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi? Seorang di antara mereka meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah lindungi dia. Orang kedua, dia malu kepada Allah. Maka, Allah pun malu kepadanya. Sedangkan orang yang ketiga berpaling dari Allah. Maka, Allah pun berpaling darinya”.


Syaikh itu kemudian menjelaskan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tersebut. Beliau mengatakan bahwa Allah itu memberikan balasan kepada kita sesuai dengan perilaku kita. Dalam hadits itu, orang yang pertama merasa bahagia dan bersemangat menghadiri majelis Rasulullah. Ia mengambil tempat duduk di depan, di dalam lingkaran orang-orang yang mengikuti majelis Rasulullah. Maka, ia pun mendapatkan rahmat dari Allah.


Sementara orang yang kedua, sebenarnya enggan untuk mengikuti majelis itu. Namun, ia malu untuk keluar dan meninggalkan majelis. Karena itu, ia tetap bertahan di sana, tetapi memilih duduk di belakang. Sikap malunya ini membuat Allah pun merasa malu. Ia tidak mendapatkan rahmat seperti orang yang pertama. Namun, ia juga tidak mendapatkan murka karena rasa malunya itu. Sedangkan orang yang ketiga, tidak mendapatkan apa-apa karena ia berpaling dari majelis itu.


Ustadzah kemudian melanjutkan, "Jadi, Allah itu sangat sayang kepada kita. Orang yang ikut majelis Rasulullah hanya karena malu pun tetap mendapatkan rahmat-Nya. Jadi, jangan menganggap remeh ilmu yang kita bicarakan. Dari sini, kita juga dapat mengambil satu pelajaran. Jika kita yakin akan mendapatkan ilmu atau yakin akan mampu memahami penjelasan guru, insya Allah kita akan mendapatkan itu. 


Tapi kalau kita berpikirnya begini, 'Apa sih. Paling-paling saya nggak akan paham kalau dijelaskan.' Itulah yang akan kita dapatkan. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Padahal, orang yang hadir di majelis hanya karena merasa nggak enak kalau tidak mengikuti majelis saja akan tetap diberi ilmu oleh Allah. Karena itu, kita harus optimis bahwa Allah akan memberikan kemudahan kepada kita dalam memahami ilmu."


Mendengar cerita beliau, saya pun manggut-manggut. Orang yang ikut majelis karena malu saja masih diberi ilmu oleh Allah, apalagi yang yakin. Masya Allah. Nasehat itu juga menyadarkan saya agar saya memiliki semangat dan keyakinan yang kuat dalam belajar. Semoga Allah mudahkan saya dalam menuntut ilmu dan memahaminya. Aamiin.