Serulah Umat untuk Taat, agar Pertolongan semakin Dekat


Oleh Tsamratul Ilmi     

Ibu Rumah Tangga dan 

Pegiat Dakwah


Kebijakan ganjil genap kendaraan yang awalnya sebagai solusi mengurangi kemacetan Jakarta, kini diberlakukan di Kota Bandung guna mengurangi mobilitas masyarakat di masa PPKM. Pemberlakuan ganjil genap ternyata bukan hanya pada kendaraan, juga pada pelaksanaan Salat Jumat. Sekjen Dewan Mesjid Indonesia (DMI) Imam Addaruqutni mengatakan bahwa surat edaran (SE) yang menghimbau pelaksanaan Salat Jumat dibagi dua gelombang yang dikeluarkan tahun 2020 masih berlaku. Gelombang pertama yaitu jam 12.00, gelombang ke dua jam 13.00, disesuaikan dengan nomor ponsel ganjil genap yang dimiliki.(CNNIndonesia 13/8/2021)


Kebijakan tersebut menuai pro kontra. Pihak yang setuju beralasan sah-sah saja agar tidak berkerumun, apalagi mesjid dengan jamaah yang banyak. Sedangkan yang tidak setuju mengemukakan alasannya bahwa tidak sah di satu mesjid diselenggarakan Salat Jumat dua kali, lebih baik menambah tempat dengan mencari alternatif agar tetap terlaksana dalam satu waktu.


Andai  kebijakan di atas direalisasikan, bukan tidak mungkin akan muncul masalah baru. Pertama, bagaimana bagi yang tidak memiliki hand phone? Ke dua bagaimana kalau seseorang memiliki nomor lebih dari satu? Punya nomor ganjil dan genap. Surat edaran walaupun sifatnya himbauan cukup membuat resah sebagian masyarakat, sebab menyangkut pelaksanaan ibadah yang penting dalam ajaran Islam.


Sebagai orang yang beriman tentulah meyakini bahwa pandemi adalah qadla Allah Swt. sekaligus ujian. Keberadaan virus sengaja Allah ciptakan. Manusia tidak ikut andil sedikitpun dalam penciptaannya. Akan tetapi selaku hamba Allah, kita diperintahkan untuk berikhtiar mengahadapinya dengan ikhlas dan mengatasinya dengan cara sesuai ketentuan Allah dan Rasulnya agar berpahala tidak tergelincir kepada dosa.


Oleh karena itu upaya atau ikhtiar yang dijalankan tidak boleh asal-asalan, tapi dipertimbangkan dengan matang agar mendapat ridla Allah Swt. dalam seluruh prosesnya. Ikhtiar, sabar dan benar. Tidak cukup hanya sabar, juga harus benar yaitu sesuai ketentuan syariat. Tidak boleh asal menghasilkan kebijakan, sementara dampaknya tidak dipertimbangkan.


Kalau hanya fokus menyelesaikan masalah cabang, lalai dari masalah pokok akan terasa sulit mengatasi pandemi. Virus sudah merambah ke segala bidang, menyebar ke berbagai tempat, butuh biaya besar, upaya ekstra dan banyak memakan korban. Ibarat kalau kita menghendaki sungai di hilir bersih dari sampah yang dibuang warga dari hulu, maka seharusnya ada ikhtiar agar warga dari hulu berhenti membuang sampahnya ke sungai. Akan berbeda kalau di hulu dibiarkan, di hilir terus kita bersihkan. Tenaga banyak tercurahkan juga makan waktu.


Terlambat mengantisipasi datangnya virus dan penanganan tidak tepat berdampak luar biasa. Pengangguran bertambah, kelaparan, utang menggunung, korban jiwa, banyak anak yatim piatu, stunting, dan lain sebagainya. Semuanya terjadi akibat tidak menerapkan ikhtiar yang dicontohkan Nabi yaitu dengan lock down atau karantina wilayah agar virus tidak menyebar. Sayangnya ikhtiar tersebut tidak dilaksanakan walaupun banyak masukan sudah disampaikan. 


Alih-alih menyadari kekeliruannya, yang ada malah mengukuhkan bahwa PPKM adalah kebijakan yang tepat, dengan alasan agar rakyat tidak kelaparan. Ketika terbukti gagal cukup mengajak umat untuk berdoa bersama dan bersabar. Semestinya sabar itu mengiringi ikhtiar yang diperintahkan oleh Allah, dicontohkan oleh Rasulullah, bukan solusi kapitalis yang mengedepankan keselamatan ekonomi dibanding nyawa rakyat.


Ikhtiar dan sabar adalah istilah Islam, tidak bisa disematkan kepada upaya bukan dari Islam. Setiap upaya yang tidak berpijak kepada aturan Allah disertai dengan keikhlasan tidak akan menghantarkan kepada keberhasilan dan membuahkan pahala. 


Berharap pandemi cepat berlalu, hidup normal seperti masa lalu, harus terkubur tertunduk malu. Malu kepada Zat yang Maha Tahu, mengapa mayoritas muslim tapi al-Qur'an tidak jadi pijakan? Betapa syaitan berhasil membelenggu akal sehat umat. Mesjid-mesjid tahun sebelumnya ditutup. Saat ini ketika dibuka dipersoalkan. Apakah sudah ada bukti kuat bahwa mesjid menjadi klaster yang sangat mengkhawatirkan? Di tengah korban bergelimpangan, kemana lagi kita memohon pertolongan selain hanya kepada Allah Swt.? Maka sangat tidak layak, menjauh dari syiar-syiar agama dan tergesa-gesa menyembahNya. Kewajiban penguasa sepatutnya mengajak umat untuk bertaubat, bukan hanya berdoa. Mengajak taat, dengan memakmurkan mesjid-mesjid. Kalaulah dikhawatirkan terjadi klaster mesjid bermusyawarahlah dengan para alim ulama, ahli kesehatan untuk memecahkan masalah. Bukan bikin resah, mesjid dibatasi dan diwaspadai. 


Namun inilah kenyataan bernaung di bawah payung kapitalisme sekular. Agama (Islam) dipinggirkan dari pengaturan kehidupan, yang tersisa hanya akhlak dan ibadah ritual, itupun bukan berarti diamalkan oleh segenap kaum muslimin. Kapitalisme yang menuhankan materi menggerus sisa-sisa syariat dalam hal ibadah dan akhlak disempurnakan oleh paham sekular liberal.


Solusi Islam sangat berbeda dengan solusi kapitalisme. Ketika ditimpa bencana wabah, dengan segera Rasulullah memerintahkan karantina wilayah. Rakyat yang terdampak. dipenuhi maksimal segala kebutuhannya oleh negara. Begitupun di masa Khalifah Umar. Bukan hanya memenuhi kebutuhan maksimal, Umar pun mengajak umatnya untuk menjauhi maksiyat, bartaubat dan bertambah taat agar Allah Swt. berkenan menurunkan pertolonganNya. 


Nasi sudah menjadi bubur, yang sehat dan terinveksi virus sudah bercampur. Secara individu kita tidak putus terus berdoa, meningkatkan ibadah dan terus berusaha semampu kita untuk menaati protokol kesehatan.


Orang Islam tidak boleh hanya memikirkan keselamatan sendiri saja, oleh karena itu mesti dibarengi dengan  menyeru umat untuk memperjuangkan tegaknya syariat, agar penyelesaian segala permasalahan umat sesuai syariat, termasuk pandemi dan pasca pandemi. Sehingga kehidupan kembali normal berada dalam naungan ridla Allah Swt.


Wallahu a'lam bi ash shawwab