Sabar, Syukur dan Ikhtiar dalam Menghadapi Pandemi

 



Oleh Sri Mulyani

Ibu Rumah Tangga



Pandemi covid-19 adalah musibah. Musibah adalah bagian dari qada Allah Swt. Sikap seorang muslim ketika menghadapi musibah adalah rida. Rida terhadap qada akan mendatangkan banyak kebaikan. Sebaliknya, kita dilarang membenci qada Allah Swt. Rasul saw., bersabda, "Sungguh besarnya pahala itu seiring dengan besarnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, dia menguji mereka. Siapa saja yang rida, untuk dia keridaan itu. Siapa yang benci, untuk dia kebencian itu." (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Baihaqi)


Musibah itu tak terhindarkan sehingga mau tidak mau, harus dihadapi dengan kesabaran. Apalagi Allah Swt. pasti menguji hamba-Nya dengan ragam musibah. Namun demikian, Allah Swt. pun memberikan kabar gembira kepada orang yang sabar dalam menghadapi musibah (QS. al-Baqarah [2]: 155-157).


Dalam menghadapi musibah, hendaknya juga kita banyak berzikir, zikir akan dapat menenteramkan hati (QS. ar-Ra'du [13]: 28).


Maka dari itu hendaknya kita memperbanyak ibadah dan takarub kepada Allah Swt. baik dengan salat, sedekah, tilawah Al-Qur'an, salat sunah dan takarub lainnya.


Musibah yang menimpa ini seharusnya juga melahirkan rasa syukur. Dengan musibah ini kita harus bisa memberikan nilai dan makna atas beragam nikmat sehat, kebugaran badan, nikmat kondisi kehidupan yang normal. Kondisi kehidupan yang normal membuat kita bisa leluasa beraktivitas, mencari rejeki, dan sebagainya. Kondisi yang ada ini juga menuntun kita untuk bisa menghargai nikmat yang Allah berikan. Betapa nikmat itu sangat bernilai dan berharga. Ini akan mendorong kita untuk terus mensyukuri ragam nikmat yang Allah berikan. Rasa syukur itu akan makin meningkat saat wabah berhenti dan saat Allah mengembalikan nikmat berupa kehidupan yang kembali normal.


Rasa syukur dan sabar dalam menghadapi wabah, termasuk sakit yang diderita, bisa mewujudkan berbagai kebaikan dan keutamaan yang telah Allah janjikan. 


Begitulah kita harus memiliki dua sayap, sabar dan syukur. Ini akan menjadi salah satu faktor kunci menghadapi dan melalui musibah wabah ini. Dengan itu, musibah akan berubah menjadi kebaikan dan berbuah kebaikan pula. Banyak kebaikan dan keutamaan yang Allah berikan di balik musibah, khususnya musibah wabah, termasuk pandemi covid-19 ini.


Adapun mereka yang wafat dalam kondisi terinfeksi covid-19, semoga termasuk syuhada akhirat. Rasul saw. bersabda, "Syuhada itu ada lima:  1. Al-mathun (orang yang mati karena tha'un).

2. Al-mabthun (orang yang mati karena penyakit perut/diare). 

3. Al-ghariq (orang yang mati tenggelam). 

4. Orang yang mati tertimpa reruntuhan.

5. Orang yang syahid di jalan Allah 'Azza wajalla." (HR muslim)


Untuk mengatasi pandemi covid-19 ini yang harus dilakukan adalah terus melanjutkan ikhtiar terbaik oleh semua pihak; baik individu, keluarga, masyarakat dan pemerintah/negara.


Prokes 3 M ( memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun/ desinfektan) atau bahkan 5 M hendaknya terus dilakukan. Hal itu sesuai data, berpengaruh banyak untuk mencegah infeksi dan penularan.


Bagi masyarakat, ikhtiar taat prokes, saling menasehati dan mengingatkan tentu harus dilakukan. Saling membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan memudahkan urusan kehidupan di antara komunitas atau masyarakat tentu juga harus dilakukan.


Dalam hal pencegahan dan penaggulangan covid-19 saat ini, pemerintah wajib menjamin perawatan dan pengobatan semua orang yang sakit. Pemerintah harus menyediakan semua alat kesehatan dan obat obatan yang dibutuhkan. Pemerintah harus menjalankan 3 T (test, tracing, treament) secara masif. Pemerintah pun harus menjamin pelaksanaan isolasi yang  standar bagi yang sakit.


Mengatasi wabah adalah cara terbaik untuk merealisasi perbaikan dan kemajuan ekonomi , bukan sebaliknya dengan dalih menjaga ekonomi, penanggulangan pandemi terkesan sporadis, ragu- ragu dan setengah-setengah. Jika penanganan pandemi ini berkepanjangan, maka itu justru malah akan  menguras sumber daya ekonomi yang lebih besar.


Wallaahu a'lam bishshawaab