Razia Miras, Seolah Ada Upaya yang Dilakukan

 


Oleh Ari Wiwin

Pegiat Literasi 


Miras (minuman keras) dan minol (minuman beralkohol) kian marak beredar di negeri ini. Walaupun razia oleh aparat keamanan terus dilakukan, ternyata jumlah penjual ataupun penikmat minol tak pernah berkurang, bahkan bisa jadi bertambah.

Sebagaimana dilansir dari INewsJabar.Id (Jumat 02 Juli 2021) dalam rangka peringatan HUT-75 Bhayangkara di Mapolres Soreang Kabupaten Bandung, yang dipimpin Kapolres Bandung menggelar pemusnahan ribuan botol miras berbagai merek dan 1.575 liter tuak. Kegiatan tersebut dihadiri pula oleh Bupati Bandung Dadang Supriatna dan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Bandung. 

Penyitaan tersebut bertujuan untuk menekan angka kriminalitas di Kabupaten Bandung yang pemicunya karena menenggak miras.  Kapolresta Bandung menghimbau masyarakat untuk terus memerangi peredaran dan penjualan miras. Raperda (Rancangan Peraturan Daerah) juga dikeluarkan guna meminimalisir maraknya peredaran miras dan minol.  

Peredaran miras ataupun minol sudah tidak aneh lagi di tengah masyarakat. Mereka begitu mudah mendapatkannya, baik di super market ataupun di warung-warung pinggir jalan. Peminumnya ada dari kalangan pejabat, artis juga  masyarakat biasa. Begitupun usianya muda sampai tua. Berbagai kejahatan seringkali dipicu karena miras, seperti penjambretan, pemerkosaan sampai pembunuhan. Belum lagi masalah miras oplosan yang banyak memakan korban.

Namun sayang antara tujuan untuk menekan angka kriminalitas belum seiring dengan langkah atau kebijakan yang diambil pemerintah. Solusi untuk mengatasi tidak sampai ke akarnya. Selama produksi, distribusi dan promosi dilegalkan, maka razia yang dilakukan oleh aparat secara pasti tidak akan efektif berpengaruh pada berkurangnya angka kriminalitas akibat miras. Sebab pemicunya tidak dihilangkan. Pemerintah hanya mengatur atau membatasi baik produksi ataupun distribusi, bukan melarangnya secara tegas. Sebatas himbauan tanpa langkah preventif dan sanksi yang tegas masalah miras tak akan tuntas. Ibarat menghendaki sungai bersih, upaya yg dilakukan terus membersihkan sampah yang ada di hilir, sementara pembuang sampah yang berada di hulu tetap dibiarkan tidak ditindak tegas. Tenaga lelah, sungai tetap bersampah. Razia terus dilakukan, produksi tetap berjalan, bagaimana mungkin tujuan akan tercapai.

Inilah kenyataan hidup di sistem kapitalisme sekular. Pemerintah yang seharusnya melindungi generasi dan masyarakat pada umumnya dari bahaya miras, malah melegalkan produksinya. Kapitalisme yang mengedapankan keuntungan dan sekularisme yang meminggirkan aturan agama (Islam) telah menyuburkannya. Pemerintah alih-alih tegas memberikan sanksi kepada pengguna ataupun penjual, justru berpandangan bahwa miras mampu menyumbangkan income besar bagi pemasukan negara. Maka tidak mungkin produksi akan terhenti walaupun nyata-nyata merusak generasi. Pemerintah tetap mengijinkan pabrik-pabrik miras beroperasi. Seolah dipandang ada upaya dengan merazia nyatanya utopia.

Pemerintah tidak mau rugi dengan menutup pabrik-pabrik miras karena yang dipikirkan adalah keuntungan yang besar dan berlipat ganda. Alasan lain pun disampaikan, kalau pabrik miras ditutup akan banyak pengangguran. Seharusnya sikap yang diambil karena nyata-nyata merusak adalah menutupnya dan menggati dengan perusahaan lain yang bisa mendatangkan berkah, bukan masalah. 

Akan tetapi selama pemerintah menjadikan kapitalisme sekular sebagai pijakan, langkah tersebut tidak mungkin bisa direalisasikan. Berbeda dengan Islam. Diantara tujuan yang hendak dicapai dari penerapan Islam kaffah, diantaranya dalam rangka memelihara akal manusia. Maka produksi, distribusi, komsumsi apalagi promosi jelas diharamkan. Rasulullah saw. memberi hukuman tegas kepada para peminum khamr dengan dicambuk 80 kali pada bagian punggungnya. Hukuman tersebut efektif memberikan pelajaran bagi masyarakat, yaitu sebagai jawazir (efek jera) agar tidak dicontoh, sekaligus sebagai jawabir (penebus dosa). 

Islam tidak membiarkan sedikitpun celah bagi pelaku yang merusak akal akibat minol. Bukan hanya peminum dan penjual yang akan kena sanksi, tetapi ada sepuluh kategori, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis: 

"Allah mengutuk khamr, peminumnya, penyajinya, pedagangnya, pembelinya, pemeras bahannya, penahan atau penyimpannya, pembawanya, dan penerimanya." (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar)

Sejatinya Islam sangat menjaga harkat dan martabat manusia, menjauhkan mereka dari hal-hal yang bersifaf mudharat dan merusak keimanan. Sudah sepantasnya umat Islam kembali menerapkan aturan Islam secara kaffah agar kerusakan tidak terus bertambah.

Wallahu a'lam bi shawab