Raih Kemerdekaan Hakiki dengan Islam




 Oleh Tari 

Ibu Rumah Tangga 


Kemerdekaan Indonesia sudah memasuki usia 76 tahun.  Dengan usia yang cukup matang, sudah semestinya tujuan kemerdekaan sudah terwujud. Namun, faktanya mengapa kita yang katanya sudah  merdeka tapi rakyatnya dibebani dengan berbagai macam pajak? Mengapa hasil sumber daya alam bangsa ini belum mampu menyejahterakan rakyat? Mengapa berbagai kebijakan masih dipengaruhi (didikte) oleh asing atau oligarki? Apakah saat ini kita baru merdeka dari penjajahan secara fisik?


Kata merdeka di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri; tidak terikat; tidak bergantung pada orang atau pihak tertentu. Merdeka juga berarti bisa berbuat sesuai kehendak sendiri. Sedangkan penjajahan berarti eksploitasi, pengekangan dan perampasan kehendak. Artinya, pihak yang menjajah akan  mengeksploitasi daerah jajahannya, mengekang dan merampas hak-hak rakyat yang dijajah, pihak yang dijajah tidak bisa bebas bertindak sesuai kehendaknya sendiri alias tidak berdaulat. Jadi, makna merdeka adalah ketika kehendak tidak dikekang oleh bangsa lain atau sesama manusia lainnya. 


Islam diturunkan oleh Allah Swt. kepada Rasulullah saw. untuk memerdekakan umat manusia secara hakiki dari segala bentuk penjajahan berupa penghambaan kepada manusia. Namun, penghambaan ini tidak hanya diartikan  secara harfiah sebagai perbudakan seperti dulu. Tapi bisa terwujud penghambaan ini dalam bentuk penyerahan wewenang pembuatan aturan, hukum dan perundang- undangan kepada manusia, bukan kepada Allah Swt. Sebagaimana yang menjadi doktrin demokrasi: kedaulatan di tangan rakyat (manusia). Lebih parah lagi jika aturan, hukum dan perundang-undangan tersebut diimpor dari pihak asing/penjajah. 


Bentuk penghambaan ini disampaikan Allah Swt. dalam firman-Nya: "Mereka (Bani Israel) menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah ...." (QS. at-Taubah [9]:31)

Makna ayat ini dijelaskan dalam riwayat dari jalur Adi bin Hatim ra.  Ketika Rasulullah saw. membacakan ayat ini, Adi bin Hatim berkata, "Kami tidak menyembah (menghambakan diri kepada) mereka."  Kemudian Rasulullah saw. bersabda: 'Bukankah mereka (para rahib dan pendeta) itu telah mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, lalu kalian pun mengharamkannya, dan mereka pun telah menghalalkan apa yang telah Allah haramkan, lalu kalian menghalalkannya?' Aku (Adi bin Hatim) berkata, 'Benar.' Rasulullah saw. bersabda, 'Itulah bentuk penyembahan (penghambaan diri) mereka (kepada para rahib dan pendeta)." (HR. ath-Thabarani dan al Baihaqi)


Walhasil, yang harus kita lakukan saat ini adalah menyempurnakan kemerdekaan yang sudah kita rasakan dengan berusaha sungguh-sungguh untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki dengan cara mewujudkan ketundukan sepenuhnya pada semua aturan Allah Swt., melepaskan diri dari belenggu sistem yang bertentangan dengan tauhid, yakni kapitalisme maupun komunisme dan ide-ide turunannya, seraya menegakkan pelaksanaan syariat Islam secara menyeluruh. Sejarah sudah membuktikan bahwa masyarakat Arab yang dulunya jahiliyah dan terbelakang, begitu mewujudkan kemerdekaan yang hakiki dengan menerapkan syariat Islam di bawah pimpinan Rasulullah saw., mampu dalam waktu singkat  menjadi mercusuar yang menyinari kehidupan umat manusia dan menyebarkan kebaikan, keadilan dan kemakmuran kepada umat-umat lain. Wallaahu a'lam bi ash-shawaab