Potret Perempuan dalam Jaring Kapitalisme


Oleh Yeni Purnamasari, S.T

(Muslimah Peduli Generasi)


Setiap warga negara berhak untuk mendapatkan perlindungan dan keadilan dari segala bentuk diskriminasi dan kekerasan. Bertujuan menyelamatkan pilar penting demi masa depan suatu bangsa. Namun apa jadinya, jika kurangnya pengawasan terhadap jaminan tersebut maka akan menimbulkan praktik-praktik kekerasan dan perempuanlah yang menjadi sasaran paling rentan.

Seperti hal nya pada kasus Timnas Norwegia yang dikenakan denda sebesar 1500 (Rp25,7 juta) oleh Komisi Disiplin Asosiasi Bola Tangan Eropa karena melanggar aturan bikini bottom. Secara terperinci sepuluh pemain dihukum EUR 150 (Rp2,5 juta).

Di sisi lain Kapten Timnas Norwegia Katinka Haltvik menunjukkan sikap keberatan atas aturan yang dibuat IHF terkait seragam bawahan tim putri.

Selain itu Ketua Federasi Handball Norwegia (NHF) Kare Geir Lio juga berusaha mengusulkan agar lebih mengutamakan kenyamanan atlet.

Maka melalui juru bicara Federasi Handball Eropa (EHF) Andrew Barringer akan terus memperjuangkan aspirasi mengenai usulan pengubahan aturan tersebut, meskipun hanya bisa diganti di tingkat IHF. (Jawapos.com 21/7/2021).

Diketahui pelanggaran terjadi saat Norwegia bertanding melawan Spanyol dalam ajang perebutan medali perunggu Piala Eropa di event Kejuaraan Olahraga Handball Pantai Eropa di Varna, Bulgaria.

Hal tersebut memang sengaja dilakukan dengan maksud memprotes peraturan bikini yang dianggap mengekspolitasi wanita dan menuai diskriminasi. (Suara.com 24/7/2021).

Gambaran ini menunjukkan bahwa kapitalis telah bergerilya untuk menjajah tubuh perempuan dengan memaksakan kehendak menurut tolak ukur liberal. Perempuan dibuat semakin tidak sadar atas identitas dirinya. Semakin maraknya kapitalis yang memosisikan perempuan sebagai korbannya.

Sungguh jelas sistem kapitalisme menjadikan perempuan sebagai objek yang bisa dimanfaatkan dan paling menggiurkan. Akibatnya, Para kapitalis berhasil menyematkan perempuan sebagai salah satu aset terbaik untuk dijadikan agent promotion. Sama halnya memandang perempuan seperti barang yang bisa diperjualbelikan. Bukan memosisikan peran perempuan dalam memajukan peradaban dan kesejahteraan, melainkan sebagai pemuas nafsu laki-laki.

Padahal Allah telah memberikan pemenuhan hak bagi perempuan seperti yang dijelaskan dalam QS. al-Baqarah ayat 228: "Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf."

Ironisnya, sebagian besar perempuan hingga hari ini belum menyadari permainan kapitalisme. Terlihat justru terlena dan asyik bermain di dalam lingkaran setan kapitalis yang menindas dan menghinakan. Hal ini terjadi karena kesadaran perempuan telah terdistorsi oleh hasil rekayasa sistem kapitalisme. Aturan yang dibuat pun sesuai dengan akal manusia yang sifatnya berubah-ubah dan berbatas masa. 

Perbedaan akan jelas jika dipandang dengan kacamata Islam yang tentunya perempuan sangat dimuliakan. Islam tidak pernah memandang perempuan sebagai benda, melainkan sebuah kehormatan yang harus dilindungi. 

Islam memberikan nilai tak terhingga pada status perempuan.

Tetapi dengan syarat harus selalu terikat dengan hukum syariat Islam sebagai bentuk penjagaan terhadap kehormatan perempuan.

Perempuan muslimah boleh bergaul di lingkungan umum dan melakukan aktivitas maupun berinteraksi dengan lawan jenis seperti belajar mengajar, berdagang, bekerja, berdakwah, dan lain sebagainya sesuai dengan batasan dalam syariat. Seorang perempuan wajib menutup aurat dengan mengenakan kerudung dan jilbab saat di kehidupan umum. 

Aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

Allah berfirman artinya: "Hendaklah mereka menutupkan khimar (kerudung) ke dadanya." (QS. an-Nur :31).

Dan Allah juga berfirman artinya: " Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian supaya mereka lebih mudah untuk dikenal sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. al-Ahzab :59).

Selain itu Rasulullah saw. melarang perempuan-perempuan yang membuka auratnya di kehidupan umum. Beliau bersabda artinya: "Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihat yakni sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia dan perempuan yang membuka auratnya, berpakaian tipis merangsang, berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya. Padahal bau surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian. (HR. Muslim).

Demikianlah seperangkat aturan sebagai standar ketaatan yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah demi memenuhi hak perempuan. Para perempuan tak memerlukan segala tipudaya yang ditawarkan pegiat kesetaraan gender. Namun cukup solusinya dengan pelaksanaan aturan Islam oleh negara yang memiliki visi penjagaan dan perlindungan bagi peran dan fungsi perempuan. Yaitu penerapan Islam secara kafah maka secara otomatis Allah telah menjamin pemenuhan hak perempuan. Sehingga mampu membuat perempuan hidup aman, sejahtera, dan mulia sesuai dengan ketentuan hukum syariat.

Wallahu a'lam bishshawab.