Perubahan Revolusioner yang Dinanti

 


Oleh adibah NF

Komunitas Literasi Islam


Perubahan merupakan hal biasa dalam kehidupan. Namun tidak berarti setiap perubahan yang terjadi mampu mewujudkan perubahan secara fundamental atau revolusioner. Berubahnya suatu kondisi ke kondisi lain, tergantung dari ada atau tidaknya upaya manusia untuk melakukan perubahan sesuai yang diinginkan.


Jelimetnya masalah bangsa ini di antaranya masalah yang seolah-olah sulit diselesaikan yaitu pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai saat ini. Hampir dua tahun masyarakat menjalaninya dengan mengikuti berbagai kebijakan yang dibuat, namun belum pula ada tanda-tanda dan solusi yang serius untuk menyelesaikan pandemi ini.


Diperparah dengan beberapa kasus yang menjadi konflik horizontal yang terjadi di masyarakat. Jika kasus ini dibiarkan akan mengakibatkan tidak berjalannya penanganan Covid ini. Baik konflik yang terjadi antar masyarakat, pihak nakes dan pelaksana program terkait Covid. 


Misalnya kasus yang terjadi di Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember. Warga memukul dan menganiaya petugas, meski diakhiri dengan mediasi. Tersebab, warga ingin mengambil anggota keluarga yang terkena Covid. Namun ditahan karena harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan. 


Selain itu ada juga kasus yang terjadi di Desa Sianipar, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba Sumatera Utara. Seorang warga di isolasi sebuah gubuk di hutan. Ia mendapat umpatan, pukulan, dan lemparan batu, saat diketahui warga keluar daerah tersebut (kompas.com,24/7/2021).

Juga kasus satu keluarga yang akan mendokumentasikan proses pemulasaran jenazah, tidak ada petugas yang menggunakan APD sehingga timbul dan menyebabkan luka ringan pada nakes. Atau terjadinya protes warga di kalangan pelaku tentang sikap satpol PP yang bertindak anarkis (MMC,31/7/2021).


Informasi terkait beberapa kebijakan yang didapat masyarakat, sungguh mencengangkan dan bertambah ketidakpercayaannya kepada penguasa. Tengok saja saat PPKM diberlakukan hingga diperpanjang, dengan dalih meminimalisir penyebaran Covid-19 yang sejatinya tetap saja tidak mengurangi masyarakat dari paparannya virus ini. Hal ini membuat masyarakat semakin kesulitan dalam menghadapi hidup. 


Tidak sedikit para pengusaha di semua tingkat mengatur karyawannya agar tetap bisa mendapatkan tempat untuk mendapatkan upah. Di sisi lain aturan yang dibuat penguasa membuat perusahaan oleng karena minimnya pemasukannya. Jangankan mendapatkan keuntungan untuk memberikan upah kepada karyawannya, pun tak mampu memenuhi sempurna. 


Tak heran, jika banyak pengusaha menengah ke bawah yang gulung tikar dan menutup pusat perbelanjaan. Hingga ada pengusaha yang stres karena tidak bisa membayar upah karyawannya, sementara ia tak rela jika karyawannya sudah bekerja dengan penuh amanah namun tidak mendapatkan upah.


Padahal seharusnya negaralah yang berjibaku mengentaskan kesulitan rakyatnya. Bukan malah menahan usaha yang dilakukan masyarakat, terutama rakyat kecil atau para pedagang kaki lima yang hanya dari pekerjaan itulah mereka mengais rezeki. 


Jangankan memberikan lahan pekerjaan bagi rakyatnya, yang sudah punya lahan pun ditutup. Inilah kezaliman penguasa yang menerapkan sistem kapitalis sekuler, yang hanya mempertimbangkan kepentingan diri, keluarga dan penjaga tampuk kekuasaannya.


Bertumpuknya kasus dan permasalahan yang menimpa umat saat ini, belum jua mampu mengarahkan kesadaran umat kepada keinginan untuk melakukan perubahan. Umat ​​dibuat lelah hingga akhirnya pasrah dengan kondisi ini. 


Perubahan Hakiki hanya Terwujud dalam Sistem Islam


Islam sebagai dien yang sempurna. Sebagai pranata masyarakat yang dibangun di atas dasar akidah Islam. Perubahan yang dilakukan bukan semata-mata perubahan yang parsial dan bertahap (tadarruj), namun perubahan yang bersifat revolusioner (inqilabi).


kerusakan yang terjadi saat ini, realitasnya merupakan kerusakan yang bersifat sistematis dan ideologis. Kebobrokan, kerusakan dan kezaliman terjadi di berbagai sisi. kerusakan umat tampak mulai dari kerusakan akidah, kehidupan bermuamalah, keadilan hukum, sistem pendidikan, sosial, budaya, dan sebagainya. 


Alhasil yang harus dilakukan pun sejatinya adalah perubahan yang bersifat sistematis dan ideologis pula. setidaknya ada tiga tahapan dalam melakukan perubahan revolusioner yakni:


Pertama, melakukan pembinaan untuk mengokohkan dan menancapkan pemikiran Islam kafah. Sampai yakin kebenarannya dan muncul dalam benaknya keinginan untuk melakukan perubahan. 


Kedua, melakukan interaksi dengan umat untuk menyampaikan pemikiran Islam yang diembannya perubahan secara massal dan terus-menerus sampai mampu menggerakkan pemikiran umat untuk berjuang hanya bagi tegaknya Islam semata.


Ketiga, menerima kepercayaan dari umat untuk menerima dan menjalankan kepemimpinan yang menerapkan Islam kafah. 


Dengan demikian, umat yang realitasnya menginginkan perubahan hanya revolusioner, hakiki dan menyeluruh akan didapat dalam sistem Islam yang diterapkan oleh Khilafah Islamiyah sebagai sistem pemerintahan Islam yang terbukti mengungguli ideologi dan sosialisme selama tiga belas abad lamanya. Hal ini tidak akan lama lagi, karena janji Allah itu pasti.    


Ingatlah, Allah Swt. telah menetapkan bahwa pertolongan itu harus dijemput dengan usaha. Tidak bisa menunggu dengan berleha-leha dan bercanda. Sebagai umat terbaik, kita wajib berjuang, bersungguh-sungguh dan serius. Kunci dalam perjuangan yang terbentang panjang adalah kejujuran dan keikhlasan. Yakin pula dengan janji Allah bagi orang yang percaya dan beramal shalih. Itulah, janji itu diperoleh dengan dua perkara, yaitu iman dan amal saleh.


“Allah berjanji kepada orang-orang yang percaya di antara kalian, dan beramal saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan memberikan Khilafah kepada mereka di muka bumi.” (QS. An-Nur: 55)


Semuanya itu jelas di dalam Sirah Rasulullah saw. Bagaimana Nabi berjuang hingga akhirmya mendapatkan pertolongan Allah. Wallahu a'lam bishshawwab.