Pertumbuhan Ekonomi Naik Saat Pandemi, Fakta atau Ilusi?


Oleh Yanyan Supiyanti, A.Md.

Pegiat Literasi, Member AMK


Pandemi masih betah membersamai kita. Perekonomian rakyat semakin melarat. Akan tetapi, pemerintah justru membuat pengumuman bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021 naik sebesar 7,07 persen. Hal itu sama sekali tidak sejalan dengan kondisi riil di lapangan saat ini.

PDIP kembali melontarkan serangan keras kepada Pemerintahan Jokowi mengenai pengumuman di atas. Karena dianggap akan membuat publik bertanya-tanya. Alasannya, antara fakta dan kondisi riil jauh berbeda dengan klaim tim ekonomi Jokowi. Atas alasan tersebut, perbaikan ekonomi yang hanya dilihat dari besaran growth di kuartal II itu hanya sekadar klaim pemerintah.

Klaim pertumbuhan ekonomi tersebut jelas bertolak belakang dengan nalar publik yang tengah kesulitan akibat pandemi Covid-19. Yang saat ini, jumlah pengangguran semakin tinggi dan tingkat kesejahteraan semakin rendah. (Fajar.co.id, 8/8/2021).

Pertumbuhan ekonomi berkaitan erat dengan kesejahteraan rakyat. Sehingga menjadi tolok ukur keadaan ekonomi suatu negara itu baik atau tidak.

Klaim pertumbuhan ekonomi di atas sah saja di dalam sistem ekonomi kapitalisme. Sistem yang terbukti rusak dan merusak ini hanya bisa mencatatkan angka-angka kemajuan dan pertumbuhan ekonomi yang minim pengaruh pada kesejahteraan rakyat banyak.

Sistem ekonomi kapitalisme bobrok dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang hanya sekadar klaim, angka kemiskinan masih tinggi, kekayaan negara dikuasai korporasi, utang menumpuk dan korupsi yang menggurita. Ini terjadi karena negara telah salah urus, menjadikan korporat sebagai pengendali. Seharusnya negara yang mengurus penuh seluruh urusan rakyatnya.

Sistem ekonomi Islam dibangun di atas pondasi akidah Islam. Dalam konteks individu, kegiatan ekonomi dilandasi oleh nilai-nilai ibadah mengharap keridaan Allah semata. Mencari materi merupakan perkara mubah dan menjadi wajib bagi penanggung jawab nafkah yang harus terikat dengan hukum syariat.

Dalam konteks negara, kegiatan ekonomi merupakan salah satu wujud pengaturan dan pelayanan urusan rakyat. Inilah tugas umum negara.

Islam memiliki metode untuk membalikkan posisi krisis seperti yang dialami dunia saat ini menjadi sejahtera. Yakni, dengan menerapkan sistem ekonomi Islam dalam pola hubungan ekonomi global melalui suatu institusi.

Pertama, menerapkan mata uang berbasis emas dan perak yang bersifat universal. Kedua, memajukan sektor riil seperti pertanian, industri, perdagangan, dan jasa. Ketiga, menciptakan mekanisme pasar internasional yang adil dan tidak saling mengeksploitasi. Keempat, mengemban misi kemanusiaan, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, dengan menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap warga negara. 

Ekonomi Islam merupakan solusi bagi umat manusia untuk keluar dari krisis dan hidup sejahtera. Untuk itu, kita membutuhkan Khilafah Islamiyah sebagai institusi untuk menerapkannya.

Wallahu a'lam bishshawab.