Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan Kamuflase Angka-Angka

 


Oleh Inayah

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


Di tengah realitas kelesuan ekonomi yang dirasakan publik, pemerintah mengumumkan pertumbuhan dengan angka fantastis. Banyak publik menganggap klaim ini hanya kebohongan publik, karena pada faktanya pengangguran makin tinggi dan menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat. 


PDIP  melontarkan serangan keras kepada pemerintahan Jokowi. Kali ini terkait pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021 sebesar 7,07 persen. Pengumuman itu justru dianggap hanya merupakan klaim sepihak pemerintah. Karena tidak sejalan  dengan kondisi rill di lapangan saat ini.


Pengumuman pertumbuhan ekonomi tersebut dipandang akan membuat publik bertanya-tanya. Alasannya, antara fakta dan kenyataan riil jauh berbeda dangan klaim tim ekonom Jokowi. Perbaikan ekonomi yang hanya dilihat dari besaran growth di kuartal II itu hanya sekadar klaim pemerintah. Hal ini disampaikan anggota DPR RI Fraksi PDIP, Darmadi Durianto dalam keterangan tertulisnya, Fajar.CO.ID ( Jumat 6/8/2021).


Angkanya benar, tapi masih menurutnya hal ini justru menimbulkan masyarakat bertanya-tanya, karena membandingkan dengan kondisi saat ini. Kendati demikian, ia sepakat bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 mengalami lonjakan yang tinggi. Karena ia melihat perbandingan dari pertumbuhan ekonomi yang tumbuh hingga 7,07 persen adalah kuartal II, 2020 yang justru terkontraksi hingga -5,32 persen. Ya pasti tumbuh, karena capaian yang lumayan 7,07 persen year on year (yoy), kata Darmadi.


Pertumbuhan itu memang menjadi polemik, karena masyarakat melihat fakta di tengah kehidupan mereka. Mulai dari sulitnya ekonomi, tingginya angka pengangguran karena banyak perusahaan yang melakukan PHK masal, kemudian kemiskinan merajalela. Sementara pemerintah mengklaim bahwa Indonesia telah keluar dari resesi.


Klaim pertumbuhan ekonomi dalam sistem kapitalis hanya dilihat dari sisi pertumbuhan angka-angka atau data dari sebagian sumber daya alam yang meningkat saja. Tanpa melihat apakah masyarakat  merasakan kehidupan yang sejahtera? Dimana kebutuhan dasar mereka dipenuhi secara keseluruhan, lapangan pekerjaan mudah didapat.

 

Sistem kapitalisme menganggap adanya pertumbuhan hanya berlandaskan pada perhitungan perkapita suatu daerah yaitu ketika sebagian besar penghasilan masyarakat tersebut tinggi maka dikatakan mengalami pertumbuhan. Padahal pada faktanya masih ada rakyat yang tidak bisa bekerja atau sulit dalam menafkahi keluarganya. Lantas bagaimana  sebenarnya pertumbuhan ekonomi menurut Islam?


Dalam Islam, dikatakan sebuah negara mengalami pertumbuhan ekonomi tatkala rakyatnya tidak ada lagi yang miskin. Artinya setiap rakyat dipastikan terpenuhi seluruh kebutuhan dasarnya yaitu, sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan


Politik ekonomi Islam memberi jaminan individu per-individu baik laki-laki, wanita, dan anak-anak. baik muslim atau nonmuslim. Dipastikan terpenuhi kebutuhan pokoknya. Politik ekonomi Islam tidak hanya sekadar meningkatkan standar hidup atau produk domestik  bruto sebagai sebuah negara  satu kesatuan  tanpa melihat apakah per-individu itu memiliki akses dalam meningkatkan standar hidupnya. Sebaliknya Islam memastikan setiap  individu terpenuhi kebutuihan pokoknya  secara layak.


Syariat Islam akan menerapkan berbagai hukumnya tatkala khilafah berdiri. Hukum syariat akan menerapkan berbagai aturan, baik mikro ekonomi mengatur transaksi yang dilakukan antar individu di masyarakat baik berkaitan dengan syirkah, jual beli, sewa menyewa, bisnis dan seterusnya. Maupun pemberlakuan yang bersifat makro ekonomi yaitu  pemberlakuan  sistem moneternya, mata uang dinar dirham, distribusi, juga memberlakukan apa–apa yang dilarang seperti, riba, penimbunan barang, penipuan, dan lain-lain.


Sementara sandang, pangan, papan,  dipenuhi yaitu dengan memastikan negara khilafah memberikan lapangan pekerjaan yang luas bagi para pria yang sudah balig untuk menafkahi keluarganya dengan layak. Islam memastikan setiap pria sudah terserap tenaganya dalam lapangan pekerjaan dan dipastikan tidak ada seorang pria pun yang menganggur. Islam tidak mewajibkan  pencari nafkah pada wanita serta anak-anak karena mereka wajib dinafkahi.

 

Maka bagaimana ketika kasusnya seperti sekarang banyak perempuan jadi janda atau anak-anak jadi anak yatim piatu karena banyak para ayah atau suami yang menjadi korban ganasnya wabah Covid-19. Sementara tidak ada yang menafkahi, maka negara akan  mendata mereka  sebagai data administrasi negara dan  mereka akan mendapat nafkah secara rutin. Negara juga memberikan kepada para janda berupa santunan.


Pada masa Khalifah Ali ra., negara memberikan santunan setiap hari Sabtu. Dari mana dananya? Yaitu dari kas negara  yang kokoh dan jelas pemasukannya. Ia berasal dari harta fai, ghanimah, kharaj, jizyah, harta orang murtad, harta dari orang yang tidak memiliki ahli waris, zakat, sedekah dan lainnya.


Sementara pendidikan, kesehatan dan keamanan diberikan secara gratis. Artinya Negara Islam memenuhi semuanya dengan kemudahan. Alokasi dananya dari pengelolaan sumberdaya alam milik umum dan hasilnya berupa pelayanan bagi seluruh warga nagara baik muslim ataupun non muslim. Juga dipastikan  kesejahteraan itu bagi individu per-individu.


Itulah parameter kesejahteraan masyarakat dalam sistem Islam, yaitu dengan terjaminnya seluruh kebutuhan setiap diri masyarakat. tidakkah kita rindu penerapan sistem Islam?  Hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah Swt., bagi orang- orang yang yakin? (TQS Al-Maidah (5): 50).

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.